Peran Protease dalam Pakan untuk Efisiensi Produksi

Oleh:
Romi Novriadi
Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan – Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Jakarta

Saat ini, upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi mulai diarahkan kepada penggunaan pakan ekonomis, namun dengan formulasi yang masih mampu memenuhi kebutuhan nutrisi spesifik organisme akuatik selama masa pemeliharaan. Tahapan pengambangan pakan ekonomis ini salah satunya dilakukan melalui subtitusi sejumlah bahan baku yang cukup mahal dalam formulasi pakan, seperti, tepung ikan dan tepung hewani lainnya, dengan bahan baku alternatif seperti tepung bungkil kedelai, tepung jagung dan sumber protein nabati lainnya. Namun, tantangan mulai timbul ketika sejumlah bahan baku nabati yang digunakan masih mengandung nutrient yang tidak bisa langsung dicerna karna kurangnya ketersediaan enzim spesifik di dalam tubuh organisme akuatik untuk memanfaatkan nilai nutrisi dari bahan baku dimaksud. Hal ini menjadikan asupan enzim secara eksternal melalui pakan menjadi sebuah kebutuhan untuk melengkapi efikasi enzim yang tersedia di dalam tubuh ikan ataupun udang yang dibudidayakan.

Secara historis, penggunaan enzim dalam pakan sudah dimulai sejak tahun 1950-an dan sejak masa itu, penggunaan enzim mulai berkembang hingga kepada penggunaan carbohydrase, phytase, dan yang terkini adalah penggunaan lipase. Imbuhan phytase semakin massif digunakan terlebih karna keberadaan asam fitat di beberapa sumber bahan baku nabati dapat mengganggu pemanfaatan nutrisi fosfor yang pada akhirnya berpotensi untuk meningkatkan limbah nutrient di dalam dan disekitar lingkungan pemeliharaan. Penambahan enzim phytase yang umumnya diperoleh dari Aspergillus niger dapat secara signifikan meningkatkan ketersediaan fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh organisme akuatik sebagai sumber nutrisi. Kondisi ini menjadikan penggunaan enzim phytase dan carbohydrase selama beberapa dekade meningkat cukup signifikan. Namun, seiring dengan perubahan harga bahan baku dan juga keinginan untuk mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein semakin meningkat, menjadikan penggunaan enzim protease mulai mendapatkan porsi yang cukup signifikan ketika formulasi pakan mulai diarahkan untuk mengkombinasikan beberapa sumber protein dari bahan baku nabati untuk menggantikan peran tepung ikan dan tepung hewani lainnya.

Protease merupakan enzim yang mampu menghidrolisis protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti peptida kecil dan asam amino. Hasil hidrolisis ini tentunya menjadikan protein dalam pakan akan lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh organisme akuatik untuk optimalisasi laju pertumbuhan dan perbaikan sistem metabolisme. Oleh karena itu, penambahan sejumlah kecil enzim protease secara eksternal yang bersinergi dengan keberadaan enzim protease internal akan meningkatkan pemanfaatan dan daya cerna protein dalam pakan.  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penambahan protease dalam pakan yang diformulasikan dengan penggunaan tepung bungkil kedelai dalam jumlah yang tinggi dapat meningkatkan daya cerna nutrisi protein nabati oleh ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) di kisaran 0,792 hingga 0,869 dibandingkan dengan ikan yang diberikan pakan kontrol [1]. Penambahan protease pada pakan dengan pengurangan tepung ikan hingga 10% dan pengurangan level protein sebanyak 5% tetap memberikan pertumbuhan yang baik untuk udang putih Litopenaeus vannamei [2]. Dalam penelitiannya Li et al. (2016) juga melaporkan bahwa penambahan bobot udang meningkat di kisaran 275.1% ± 6.2% ketika diberi pakan dengan kandungan 0.175 g protease per kg pakan dibandingkan dengan penambahan bobot udang tanpa penambahan protease pada pakan yang hanya memiliki penambahan bobot sekitar 247.9% ± 11.3%. Riset oleh penulis yang sama dan dilakukan dengan menggunakan komoditas ikan nila  Oreochromis niloticus× O. aureus juga menunjukkan tren pertambahan bobot yang cukup signifikan ketika protease ditambahkan kedalam pakan.

Hasil penelitian ini mulai memberikan harapan ketika kita yang saat ini mulai kesulitan mendapatkan bahan baku berkualitas dan kalaupun ada, memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga berdampak kepada kenaikan harga pakan, untuk mulai melakukan re-formulasi pakan dengan menggunakan bahan baku lokal yang memiliki nilai nutrisi cukup baik dan juga nilai ekonomi yang lebih rendah. Beberapa kandidat bahan baku lokal yang dapat digunakan diantaranya jagung rendah aflatoxin ataupun tepung bungkil kelapa sawit. Melalui penggunaan dengan kombinasi bahan baku yang tepat dan dipadukan dengan suplementasi enzim protease diharapkan daya cerna dan profil nutrisi bahan baku lokal dimaksud menjadi lebih baik. Hal ini menjadikan tujuan untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi produksi akuakultur nasional dapat dicapai***

  1. Dalsgaard, J.; Verlhac, V.; Hjermitslev, N.; Ekmann, K.S.; Fischer, M.; Klausen, M.; Pedersen, P.B. Effects of exogenous enzymes on apparent nutrient digestibility in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) fed diets with high inclusion of plant-based protein. Animal feed science and technology 2012, 171, 181-191.
  2. Li, X.; Chai, X.; Liu, D.; Kabir Chowdhury, M.; Leng, X. Effects of temperature and feed processing on protease activity and dietary protease on growths of white shrimp, L itopenaeus vannamei, and tilapia, Oreochromis niloticus× O. aureus. Aquaculture Nutrition 2016, 22, 1283-1292.
banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.