Hadapi Isu Resesi, Efisiensi Harga Mati

Oleh: Dr. Hasan Nasrullah (Research and Development, PT. Aquacell Indo Pasifik)

Resesi ekonomi global diprediksi akan terjadi pada tahun 2023. Pelemahan ekonomi dan inflasi harga sudah mulai dirasakan pada kuartal akhir tahun 2022 ini. Pemicunya kompleks dan saling terkait. Sebut saja di antaranya pandemik covid-19, konflik Rusia-Ukraina yang berujung pada fluktuasi harga energi, freight, dan beberapa bahan pangan dan pakan, dan keadaan iklim.

Resesi yang dimulai di Amerika dan benua Eropa telah memberikan dampak pada penurunan permintaan seafood pada negara tujuan pasar ekspor Indonesia. Dibandingkan tahun lalu, di periode yang sama, terjadi perlambatan laju ekspor ke Amerika sebagai tujuan utama ekspor udang Indonesia. Begitu pula dengan kebijakan lockdown di Tiongkok pada akhir tahun 2022 yang turut memberikan dampak pada ekspor seafood. Lemahnya permintaan mengakibatkan terjadinya penumpukan stok udang. Akibatnya, terjadi koreksi harga sehingga harga udang menurun drastis sejak bulan Agustus hingga akhir tahun 2022 ini.

Di sisi lain, biaya produksi udang cenderung tetap tinggi, berhadapan dengan tantangan inflasi yang berpengaruh pada berbagai harga input produksi, penyakit, hingga faktor iklim dan cuaca. Jika keadaan belum membaik, industri budidaya udang Indonesia dipastikan akan terdampak.

Sudah seharusnya jika pelaku usaha serta pemerintah memiliki strategi dalam menghadapi gelombang resesi global ini, yang dampaknya pasti akan dirasakan oleh Indonesia, baik besar atau pun kecil. Sebagai contoh, eksplorasi pasar baru merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh para pelaku ekspor untuk menghadapi resesi global. Membuka kemungkinan ekspor ke negara-negara potensial, selain Amerika dan Tiongkok, menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan untuk strategi jangka panjang. Tentunya, eksplorasi pasar ini perlu didukung peningkatan kualitas dan harga komoditas udang agar bersaing di pasar Internasional.

Efisiensi dan inovasi budidaya, benteng terakhir

Bisa dibilang, satu-satunya strategi petambak udang untuk menghadapi isu resesi ekonomi global adalah meningkatkan efisiensi produksi, yang salah satunya bisa dicapai dengan inovasi sistem budidaya. Ke depan, budidaya dengan sistem bak bundar baik secara indoor atau outdoor akan mulai banyak dioperasikan. Sistem ini lebih fleksibel dalam mendukung efisiensi penggunaan air, kontrol kualitas air, sistem difusi udara, penggunaan padat tebar tinggi, hingga sistem panen yang lebih efisien dibandingkan dengan tambak konvensional.

Dengan sistem bak bundar, monitoring dan penerapan biosekuriti juga bisa diimplementasikan dengan lebih terkontrol untuk mengurangi kematian akibat penyakit dan ancaman biologis lain. Sistem budidaya bak bundar dengan kepadatan tinggi ini juga tengah kami kembangkan, dilengkapi dengan penggunaan suplemen dan bahan aditif yang mendukung peningkatan produktivitas. Hasil yang ditunjukkan pun sangat positif. Produktivitas meningkat signifikan dan kematian akibat penyakit hampir tidak terjadi.

Tantangan dan peluang

Budidaya dengan sistem ini sangat potensial digunakan oleh para petambak untuk meningkatkan efisiensi produksi di masa depan. Namun, dibutuhkan investasi dan waktu yang tidak sedikit untuk merubah sistem yang sudah ada. Oleh karena itu, untuk menjamin peningkatan efisensi produksi, diperlukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem dan SOP budidaya yang telah dilakukan sepanjang tahun.

Terkadang, kita hanya berpatokan pada SOP budidaya yang rigid atau mengulang-ulang SOP yang terbukti berhasil sebelumnya. Namun kita lupa bahwa keadaan dan lingkungan budidaya selalu dinamis, misalnya air, cuaca, iklim, harga pakan, kualitas benih udang, dan input budidaya lainnya. Keadaan iklim yang tidak menentu serta penyakit juga menjadi hantaman serius bagi para petambak. Dengan kondisi yang dinamis ini, terkadang kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada nutrisi pakan untuk menjaga udang sekaligus menjamin pertumbuhanya agar optimal.

Peningkatan efisiensi produksi bisa dilakukan dengan penambahan suplemen dan zat aditif yang memiliki fungsi sinergis, meningkatan imunitas udang, memiliki aktivitas antibakteri, dan juga meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan. Penggunaan suplemen dan aditif lokal juga bisa membantu meningkatkan efisiensi harga di tengah resesi.

Untuk kepentingan efisiensi budidaya, kami telah mengembangkan produk suplemen pakan untuk meningkatkan performa budidaya udang. Suplementasi pakan dengan produk suplemen tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan imunitas serta mendukung performa pertumbuhan udang. Lewat efek sinergis bahan aktif peptida asam amino, selenoprotein, serta trace mineral organik (Se, Zn, Cu, Mn); hasil budidaya udang diharapkan bisa maksimal.

Hasil riset laboratorium menunjukkan bahwa suplementasi dengan produk yang kami kembangkan mampu meningkatkan sistem imunitas dan sistem anti-stress, baik secara enzimatis maupun ekspresi gen setelah infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus. Adapun hasil uji langsung pada tambak komersial di Madura menunjukkan adanya peningkatan efisiensi produksi dan keuntungan bagi petambak.

Hasil perbandingan antara tambak kontrol tanpa penggunaan suplementasi pakan (Tambak A) dan tambak yang menggunakan suplementasi pakan (Tambak B) menunjukkan perbedaan yang menggembirakan. Dengan luas lahan yang sama (2.500 m2) dan kepadatan tebar yang sama (151 ekor/m2), Tambak A menghasilkan panen seberat 4.630 kg, sedangkan Tambak B 5.836 kg. Artinya, suplementasi pakan menghasilkan bobot panen 26% lebih tinggi dibandingkan tanpa suplementasi.

Dilihat dari nilai konversi pakan (FCR), Tambak A sebesar 1,58; sedangkan Tambak B sebesar 1,41. Artinya, suplementasi pakan membuat jumlah kebutuhan pakan menjadi 10% lebih rendah. Dengan begitu, terdapat penghematan jumlah pakan yang berarti menambah keuntungan bagi petambak.

Suplementasi ini juga bisa menekan kematian akibat infeksi virus dan menurunkan jumlah bakteri patogen dalam hepatopankreas udang. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan aditif dan suplemen apapun harus disertai dengan penerapan biosekuriti dan cara budidaya udang yang baik agar hasilnya optimal.   

Optimis dan terus berbenah

Isu resesi global 2023 harus kita sikapi sebagai pendorong kuat berkembangnya industri udang Indonesia. Pada awal tahun pun diperkirakan Amerika dan Tiongok akan mulai membuka kembali impor seafood. Para produsen udang akan kembali bersaing mendapatkan pasar paska-turunnya harga udang. Dengan begitu, usaha tambak udang masih prospektif menghadapi resesi 2023. Dengan catatan, produksi harus jauh lebih efisien. Tentu saja, dibutuhkan komitmen terus-menerus dalam berinovasi untuk memberikan peningkatan efisiensi produksi. Bagi industri pakan dan petambak udang, dukungan inovasi dilakukan dalam bentuk premiks, feed additive, suplemen, mineral organik tambak, pendampingan, hingga jasa analisis laboratorium. Sistem budidaya udang yang lebih efisien dan sustainable pun harus terus dikembangkan demi peningkatan nilai bisnis udang Indonesia. Dengan ada atau tidak adanya resesi, industri udang Indonesia harus terus melakukan perubahan. Diperlukan inovasi ke arah yang lebih baik untuk terus meningkatkan efisiensi produksinya.

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.