Teropong Peluang Bertambak di Balik Kabut Isu Resesi

Kabar resesi ekonomi 2023 masih menjadi isu hangat. Covid-19 yang belum usai, perang Rusia-Ukraina,  fluktuasi harga energi dunia, hingga perubahan iklim global ditengarai menjadi pemicunya.

Resesi ini tentu akan membawa dampak bagi semua kegiatan di dunia, salah satunya dunia perikanan budidaya di Indonesia. Sebagai negara maritim dan agraris, angka inflasi Indonesia diperkirakan turun 3,94% di tahun 2023.  Adapun dampak bagi perikanan budidaya terkait dengan pakan. Demikian ungkap Indah Okta, Marketing PT Juara Biolife Solution.

“Pakan menyerap pembiayaan terbesar dalam proses budidaya, yaitu sekira 70%. Permasalahannya, Indonesia masih mengimpor bahan baku untuk pembuatan pakan dari negara lain. Jika rantai pasok global ini bermasalah akibat resesi, dampaknya terhadap pasokan pakan ikan budidaya ikut terancam. Dikhawatirkan, banyak pembudidaya yang bakal terancam gulung tikar,” ungkap Indah.

Menurutnya, agar perikanan Indonesia—khususnya sektor budidaya—menjadi unggulan, kita berharap sinergi antar-lembaga untuk memperkuat komunikasi agar perikanan tetap tumbuh positif. Selain itu, diupayakan skema terbaik agar perikanan dan kelautan tumbuh secara sistemik dan massif.

Re-introspeksi

“Terus terang, bagi saya, pesimis adalah dosa besar. Namun, dalam hal industri udang tahun 2023, saya cukup khawatir. Hal ini disebabkan situasi ekonomi global yang masih belum menentu. Selain itu, persaingan sesama negara produsen udang semakin sengit.  Semua negara produsen bersemangat untuk memompa produksinya. Sementara di sisi lain, mereka akan bersaing ketat memperebutkan ceruk pasar dunia. Saya khawatir tidak akan ada peningkatan, bahkan terjadi penurunan,” cemas M. Nadjib, Direktur IANDV Bio Indonesia dan Konsultan Akuakultur Invendo.

Menurut Nadjib, tidak ada cara lain bagi pelaku industri udang Indonesia selain memproduksi udang dengan efisien, meningkatkan pasar domestik, menekan biaya logistik, menata ulang regulasi, dan menyatukan semua visi seluruh stakeholder.  Diperlukan upaya bersama antara KKP, akademisi perikanan, serta semua asosiasi terkait industri perikanan untuk membuat Repelita Perikanan Indonesia sampai 2050. Hasil kompilasi Repelita Perikanan tersebut kemudian dijadikan master plan untuk acuan bersama.

“Industri udang Indonesia, dan juga beberapa negara produsen lainnya, sangat tergantung pada skenario ekonomi global, mulai dari hulu sampai ke hilir,” ujar Sudari Pawiro, National Chief  Technical Advisor United Nation Industrial Development Organization (Unido).

Di hulu, ketergantung input produksi budidaya udang (vaname) pada impor sangat besar, mulai dari induk, komponen pakan, obat, kincir dan peralatan lainnya. Dengan begitu, fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketersediaan barang-barang tersebut akan sangat berpengaruh terhadap harga-harga input produksi. Sementara di hilir, situasi ekonomi dunia juga berpengaruh terhadap ekspor dan harga udang. Celakanya, 70% ekspor udang kita tergantung pada pasar AS. Dengan begitu, gejolak di negeri Paman Sam juga ikut mengguncang para eksportir.

Saat ini, situasi ekonomi di  beberapa negara yang menjadi pasar udang dunia, seperti AS, Eropa, dan China sedang tidak baik-baik saja dan akan berlanjut hingga tahun depan. Insitute of International Finance memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 hanya 1,2%. Sementara OECD (The Organization for Economic Cooperation and Development) juga memiliki prediksi pesimis meskipun tidak sampai terjadi resesi dunia.  Beberapa faktor ini akan menyebabkan permintaan udang dunia melambat dan harga udang tetap berada di tingkat rendah seperti saat ini. Diperkirakan, harga udang di tambak belum pulih normal seperti sedia kala.

“Meningkatnya input produksi dan harga yang rendah akan mendorong banyak  petambak mengurangi stocking density atau beralih ke pola tradisional, bahkan berhenti berproduksi bila situasi bertambah buruk. Jika industri udang kita bisa mengurangi ketergantungan ini dan secara pararel mengembangkan pasar udang domestik, kestabilan industri udang akan lebih terjamin,” terang Sudari.

Evelyne Nusalim, Expert Forum Informasi Budidaya (FIB) – Direktur Eksekutif Indonesian Food Safety Institut (IFSI), mengungkapkan bahwa ketahanan resesi dari tambak udang vaname sangat rendah. Hal tersebut disebabkan benur maupun bahan baku pakan yang diperlukan untuk produksi harus diimpor sehingga rawan untuk politik luar negeri dan biaya logistiknya tinggi. Benur diimpor dan direproduksi tanpa memperhatikan genetik sehingga tidak tahan penyakit.

Resesi membuat tuntutan konsumen terhadap kualitas lebih tinggi. Untuk makanan bukan primer, kualitas yang tinggi diharapkan untuk ‘value for money’. Sementara dalam hal kualitas, Indonesia tidak bersaing karena beberapa hal. Infrastruktur Indonesia dan sistem logistik tidak menjadi mata rantai yang berkaitan dan mendukung satu sama lain. Lamanya perjalanan serta penyimpanan selama transportasi, tidak menjamin kualitas produk.

Selain itu, pemerintah Indonesia tidak konsekuen dalam menjalankan standar sertifikasi, yang bisa menjamin keseragaman kualitas dari seluruh produk Indonesia. Selama 10 tahun, sistem sertifikasi di Indonesia tetap ‘under construction’.

“Untuk bisa bertahan dari resesi, petambak harus mencari cara kreatif untuk mengurangi biaya produksi. Selain itu melakukan diversifikasi produk dan ‘waste’ untuk industri, seperti pengolahan kulit udang untuk supplement glukosamin, pakan, atau produk lainnya,” papar Evelyne.

Pendpat senada diungkapkan Evie Erlina Shanti, Sales Manager PT Behn Meyer Chemicals. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini adalah serangan beragam penyakit dan tuntutan pasar global terhadap kualitas udang berstandar internasional.  Hal ini menuntut pembudidaya untuk menerapkan SOP budidaya agar memperoleh hasil panen yang optimal. Belum banyaknya industri diversifikasi hasil udang menjadi kendala dalam  membantu penyerapan hasil panen. Keberadaan industri diversifikasi bisa mengangkat harga udang pada saat harga atau serapan pasar udang segar sedang menurun.

“Selain itu, mahalnya biaya transportasi ke luar pulau Jawa mengakibatkan tingginya harga obat, pakan, dan sarana budidaya di pelosok.  Hal ini berakibat pula pada tingginya biaya produksi,’ terang Evie.

Meskipun demikian, Evie berpendapat bahwa tambak udang di Indonesia tetap mempunyai prospek yang sangat baik ke depannya, meskipun saat ini sedang dihadapkan pada isu resesi ekonomi 2023.  Tentu saja masa sulit ini berpengaruh pada budidaya, apalagi diperparah dengan banyaknya serangan penyakit, kenaikan harga pakan, dan harga jual udang yang kurang menggembirakan. Namun, kondisi ini tentu tidak akan berlangsung selamanya. Evie pun sangat optimis bahwa para pembudidaya pasti akan mampu melewatinya.

Optimisme prospek dan peluang

“Udang memang unik. Baik dalam bentuk olahan maupun beku, produk udang disukai hampir seluruh penduduk dunia. Tidak ada satu pun agama yang melarang untuk mengonsumsi udang. Tidak adanya bau amis juga membuat udang disukai anak-anak. Hal ini menjadikan permintaan udang diprediksi akan terus meningkat seiring meningkatnya populasi dunia dan perbaikan pendapatan masyarakat,” papar Romi Novriadi,  Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP).

Adanya isu resesi di tahun 2023 diperkirakan akan berdampak terhadap kekuatan daya beli masyarakat. Hal ini akibat menurunnya aktivitas ekonomi, terutama di beberapa pasar utama tujuan ekspor seperti Amerika Serikat. Namun, momentum peningkatan produksi udang yang saat ini dimiliki oleh Ekuador, Indonesia, dan Vietnam justru akan menjadi anomali, di mana harga udang diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga masyarakat diuntungkan. Masyarakat masih bisa melakukan pembelian udang sesuai kemampuan daya beli. Artinya, ada kemungkinan udang masih terus diserap pasar meskipun tingkat keuntungan yang diperoleh pembudidaya menurun.

“Jika melihat fakta, di mana lahan produksi udang di Indonesia justru terus bertambah, produksi udang akan terus berlanjut di tahun 2023. Untuk mendapatkan cash flow yang menarik, para pelaku usaha diharapkan mulai memperhatikan situasi global dan melakukan penyesuaian di setiap komponen produksi, terutama di padat tebar. Dengan begitu, produktivitas udang tetap terjaga dengan baik,” terang Romi.

Optimisme prospek budidaya udang di tahun 2023 juga diutarakan Sekjen Forum Udang Indonesia (FUI) sekaligus Kepala Bidang Akuakultur Federasi Asosiasi Perikanan Indonesia, Coco Kokarkin. Menurutnya, ancaman dampak resesi ekonomi lebih utama berasal dari negara konsumen barat seperti Amerika dan Uni Eropa. Sementara resesi di China diramalkan tidak terlalu berdampak akibat gelombang protes penolakan rakyat terhadap kebijakan lock down.

“Kalau pun terjadi, resesi di tahun pertama akan melanda industri besar yang menyebabkan banyaknya pemutusan hubungan kerja. Namun, penggemar udang di negara barat dan timur jauh adalah segmen menengah ke atas. Dengan begitu, penggemar udang tetap ada,” jelas Coco, yang juga menjabat sebagai Vice President Hatchery PT  Bomar Biopova Akuakultura, Sulawesi Selatan, ini.

Dampak wabah covid yang telah berlalu masih terasa di berbagai belahan bumi. Asupan pangan dengan protein berkualitas diyakini bisa meningkatkan imunitas dan mempercepat pemulihan kesehatan tubuh. Udang yang kaya zinc, selenium, dan antioksidan menjadi dasar pemikiran bahwa pasar udang masih tetap ada.  

Jika diasumsikan bahwa konsumen kelas menengah juga berkurang pendapatan dan tabungannya, kegemaran makan udang secara kuantitas akan dikompensasikan pada makan  makanan dengan rasa udang yang kuat. Dengan begitu, olahan udang, komposisi udang kecil dan lebih murah akan menjadi pilihan.

Resesi ekonomi akan disikapi konsumen dengan melakukan efisiensi  pemakaian tepung dan bumbu yang tepat jumlah atau udang yang sudah siap saji. Konsumen tidak akan memakan udang kecil yang harus dikupas sendiri serta membeli satu bungkus tepung dan berbagai botol bumbu hanya untuk satu jenis masakan. Sementara itu ada keinginan memasak udang dengan resep berbeda pada waktu yang lain.

Udang kecil sulit diproduksi di negara yang memiliki SDM  dengan upah buruh mahal. Begitu pula dengan negara yang belum terbiasa melakukan pengolahan dengan dasar higienis serta sosiokultural yang belum mendukung. “Jadi, selama kita mengantisipasi pasar dengan penyediaan dan promosi yang kuat dan progresif, udang Indonesia masih akan menjadi usaha yang menguntungkan dan bergairah di Indonesia,” jelas Coco. 

Sementara I Putu Wira Sila mengatakan bahwa resesi belum tentu terjadi. Dengan begitu, usaha tambak udang masih prospek dan bisa diandalkan. Menurut General Sales Manager PT CJ Feed &Care Indonesia ini, data FAO menunjukkan bahwa Indonesia akan meningkat produksinya. Bahkan, jika terjadi kelebihan estimasi akan tetap terserap pasar meskipun keuntungan petambak tidak sebesar periode 2022. Artinya, produksi udang memang sedang tumbuh, sedangkan kebutuhan tetap.

“Pasokan dan kebutuhan masih terbentuk, apapun kondisinya. Terbukti, sudah mulai ada peningkatan harga. Udang size 100 Rp53.000,00.  Saya pikir resesi belum tentu terjadi,” ujar Putu.

Semangat dan optimisme juga disampaikan Ujang Komarudin, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP. Menurutnya, prospek usaha tambak udang di Indonesia pada tahun 2023 tetap prospektif.  Pasalnya, terdapat dukungan kebijakan dengan masuknya pengembangan kawasan tambak ke dalam Major Project pada RPJMN 2020-2024. Selain itu, pangsa pasar udang masih terbuka lebar. Pada tahun 2021, ekspor udang Indonesia sebesar 239.000 ton baru menguasai kurang dari 10% pasar dunia.

Tak hanya itu, teknologi budidaya telah dikuasai, mulai dari tradisonal, tradisional plus, semi intensif, intensif, dan super-intensif. Input sarana benih dan pakan juga tersedia. Khusus produksi pakan udang tahun 2021 baru mencapai sekira 412.000 ton atau 25% dari total produksi pakan ikan pabrikan, yang memiliki kapasitas produksi 3,4 juta ton/tahun. Sementara penyakit udang di Indonesia juga terkendali. “Pernah dibuktikan saat resesi ekonomi tahun 1998, di mana usaha tambak udang tetap berjaya, bahkan memunculkan “petambak kaya” karena harga udang yang melambung tinggi sebagai dampak meningkatnya nilai dolar saat itu,” kenang Ujang. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.