Kontrol Air dari Hulu ke Hilir

Diambil dari laut, digunakan oleh tambak, dan dibuang kembali ke laut. Selanjutnya, diambil dan digunakan kembali untuk tambak. Itulah air laut.

Dalam ekosistem alami, kehidupan semua makhluk hidup telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Namun, untuk memenuhi keinginan manusia, alam dieksploitasi untuk kesejahteraan. Pemanfaatan lahan tambak dengan kepadatan tebar tinggi adalah salah satunya.

Bukan tanpa dampak, penggunaan bahan penunjang budidaya seperti pakan, obat-obatan, dan pupuk menambah beban limbah. Air laut yang semula bersih dan jernih pun menjadi lebih cepat keruh, terlalu subur, dan mengandung limbah organik beracun. Daya dukung air media tambak terhadap pertumbuhan udang menjadi semakin rendah. Akibatnya, produktivitas panen semakin turun, biaya operasional justru bertambah, dan sudah pasti laba semakin tergerus. Berita gagal panen atau udang dipanen terlalu awal akibat serangan penyakit pun tak jarang terdengar.

Lantas, bagaimana langkah bijak agar usaha budidaya udang bisa terus berlanjut?

Air laut berkualitas

Keberlanjutan usaha budidaya udang tak lepas dari upaya memperoleh dan mempertahankan kualitas air laut sebagai media pemeliharaan udang agar tetap berkualitas.

“Sumber air laut yang baik untuk budidaya udang memiliki parameter fisik sesuai kebutuhan udang. Adapun parameter fisik utama kualitas air laut terlihat dari salinitas serta kecerahan. Kualitas fisik yang dapat diukur seperti TDS dan TSS; sedangkan untuk parameter kimia seperti pH, nitrat, nitrit, amonium, fosfat, alkalinitas, serta kesadahan (hardness),” tutur Sebay Hamdan, Sales Supervisor PT. Pradipta Paramita Minatama.

Dari cara pendistribusian, Sebay mengatakan bahwa pengambilan air laut dapat dilakukan dengan pompa dan pipa atau pasang-surut menggunakan pintu atau kanal air. Kelebihan penggunaan pompa yaitu dapat memenuhi kebutuhan air laut secara kontinu dan terkontrol, baik debit maupun tingkat kebersihanya. Namun kelemahannya, biayanya lebih mahal dibandingkan dengan pasang surut. Sementara biaya metode pasang surut lebih murah. Namun, disebabkan kita bergantung pada alam yang tidak menentu, sulit untuk mendapatkan air secara kontinu dan mengontrol kualitas air dengan cara ini.

Parameter fisik air tambak yang utama karena mudah pengontrolan alat sensornya menurut Rico Wisnu Wibisono, COO FisTx, adalah suhu, kebutuhan oksigen (DO), dan potensi oksidasi-reduksi (ORP). Sementara parameter kimia yang paling dibutuhkan karena mudah memperoleh test kit-nya adalah keasaman (pH), alkalinitas, dan TAN. “Saya lebih suka menggunakan pipa karena mencegah kontaminasi dari luar dan lebih steril,” aku Rico berbicara soal cara pendistribusian air laut ke area tambak.

Sumber air alternatif

“Yang paling perlu diperhatikan dalam penggunaan air sumur, sudah tentu, salinitas yang harus sesuai standar, yaitu 15—25 ppt,” ujar Sebay Hamdan soal penggunaan air sumur sebagai pengganti air yang langsung diambil dari laut. Selain itu, lanjut Sebay, hardness perlu diperhatikan karena air sumur sudah melalui proses filtrasi melalui pasir atau tanah sehingga kandungan mineralnya sedikit berbeda dengan pengambilan langsung dari laut.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, kualitas air dalam parameter fisik setidaknya sesuai dengan standar. Hal tersebut bertujuan untuk optimalisasi dan efisiensi biaya produksi. Air yang tidak sesuai standar juga dapat di-treatment agar sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh, untuk wilayah dengan salinitas rendah bisa dilakukan penambahan garam. Tentu dibutuhkan biaya yang besar. Selain itu, komponen garam hasil tambak garam tidak sama seperti air laut. Hal ini disebabkan beberapa mineral dalam proses pembuatannya terbuang atau menguap bersama air. “Namun kita bisa memilih benur yang memang siap di kadar salinitas rendah, di bawah 15 ppt,” terang Sebay.

Iwan Hermawan, Manager Produksi PT. Windu Alam Sentosa, Rembang-Jawa Tengah, mengatakan bahwa kondisi parameter air sebaiknya sudah terkondisi dari sumbernya. Dengan begitu, tidak dibutuhkan lagi penanganan khusus yang akan menambah beban biaya. “Namun, pada lokasi dan situasi tertentu memang membutuhkan penanganan khusus. Misalnya mengenai kecerahan air. Jika sumber airnya keruh berlumpur tentu membutuhkan pengendapan. Jika salinitas air dari sumbernya rendah diperlukan proses adaptasi secara khusus saat tebar benur, yaitu secara bertahap hingga salinitas air mendekati salinitas air kolam,” jelasnya.

Sementara Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoardjo, menjelaskan bahwa parameter kualitas air (fisika, kimia, serta biologi) yang harus menjadi persyaratan ketika menggunakan air sumur terdiri dari bahan organik, misalnya total organik matter (TOM), Fe++, Cu , alkalinitas, dan NH4+.

Untuk parameter biologi yang penting adalah jumlah koloni bakteri vibrio, yaitu koloni hijau, koloni kuning, koloni hitam, dan koloni menyala. Parameter bakteri vibrio tersebut penting untuk menduga adanya beberapa penyakit udang yang disebabkan oleh vibrio yang berbahaya serta perlakuan yang harus dilakukan.

Menurut Heri, tidak dibutuhkan adaptasi salinitas secara khusus. Hal tersebut disebabkan benur dari hatchery biasanya dipelihara pada salinitas air yang sudah diturunkan menjadi 18—20 permil. Biasanya, hatchery hanya mau menurunkan salinitas sampai 18 permil. Pada salinitas 18 permil, benur bisa langsung ditebar di tambak  dengan salinitas 3—8 permil.

Kualitas fisik dan kimia untuk budidaya udang vaname yang spesifik adalah tahan hidup pada salinitas 0,5—45 permil. “Saya menerapkan pemeliharaan udang vaname di tambak pada kisaran salinitas 3—8 permil terhindar penyakit AHPND. Terbukti pada pengalaman saya yang sudah menerapkan 9 siklus produksi pada salinitas tersebut. Produktivitasnya tetap tinggi, tanpa perlakuan tambahan mineral tertentu. Cukup ditambahkan kalsit atau dolomit saja,” kata Heri.

“Yang penting, saat di hatchery, benur sudah di-screening test dengan air tawar dan formalin dan dinyatakan lolos. Pada saat penebaran, cukup diadaptasikan suhunya dengan cara mengapungkan benur dalam kantong ke air tambak selama 30—60 menit, lalu langsung ditebar,” lanjutnya.

Memperbaiki kualitas air media

Sumber air dengan parameter kualitas air yang standar tentu menjadi dambaan para petambak. Namun, adakalanya air dari sumber air laut tidak sesuai dengan standar, misalnya telah mengalami pencemaran. Menghadapi hal ini, petambak tentu harus melakukan perbaikan kualitas air terlebih dulu sebelum dijadikan air media pemeliharaan udang. Keberadaan tandon input atau tandon masuk sangat diperlukan untuk mengamankan kebutuhan kolam tambak.

“Keberadaan tandon input sangat penting untuk memastikan kualitas air untuk kolam budidaya. Idealnya, tandon input letaknya lebih tinggi dari kolam pembesaran dan kolam kolam pembesaran lebih tinggi dari tandon output atau tandon keluar. Dengan seperti ini, kontaminasi penyakit lewat air bisa diminimalkan,” kata Nanang Heriyanto, Staff PT. IANDV Bio Indonesia. 

Menurut Nanang, luas kolam tandon input yang dibutuhkan berkisar 20—30% dari luasan kolam budidaya atau pembesaran. Dalam kolam tandon ini dilakukan proses pengendapan, dengan harapan air lebih ringan dan TOM bisa lebih rendah. Selanjutnya, air masuk tandon treatment dan dilakukan desinfeksi air untuk menurunkan vibrio.

Hal senada juga diungkapkan Rico Wisnu Wibisono. Menurutnya, keberadaan kolam input penting karena dapat berfungsi sebagai aging air dan tempat sterilisasi. Namun, saat ini sudah dikembangkan sistem filtrasi sehingga lebih hemat tempat dan waktunya lebih cepat. “Idealnya, tandon saat ini 20—30%, kolam budidaya 50—60%, dan IPAL 10—20%,” terang Rico.

Indah Okta, Marketing PT. Juara Biolife Solution, menerangkan bahwa terdapat beberapa perlakuan untuk menghasilkan air tandon berkualitas di antaranya sterilisasi air menggunakan kaporit secara merata. Bahan aktif akan lebih efektif pada pH air <7,5 dan bahan aktif klorin netral setelah 2 x 24 jam. Selain itu dilakukan pemberantasan hama dan krustasea liar secara manual serta penebaran ikan herbivora dan karnivora untuk mengendalikan makroalga. Selanjutnya, air tandon siap digunakan untuk menambah atau mengganti air kolam pembesaran.

Layout untuk budidaya udang secara sederhana sudah diatur,” ungkap Indah mengutip gambar model dari Peraturan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung No. 84 Tahun 2019 tentang Pedoman Pengendalian Pencemaran Air Permukaan bagi Usaha Tambak Udang.

Lay out tambak yang baik menurut buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Sukenda, area input dan output untuk budidaya udang tidak boleh berdampingan. Jadi harus memiliki jarak yang memisahkan antara input dan output. Jika diletakan di area yang berdekatan, terjadi sirkulasi penyakit yang akhirnya akan menjadi endemi di lokasi tersebut. Selain itu, kualitas parameter fisik, kimia, dan biologis air sumber untuk tambak akan menurun drastis walaupun dilakukan treatment sebelum air limbah dibuang ke alam,” tutur Sebay.

Untuk keberlanjutan usaha budidaya udang, kualitas air jelas harus dijaga. Pemantauan harus dilakukan sejak air akan digunakan atau masuk ke lingkungan budidaya, saat proses pembesaran, hingga ketika limbah udang akan dibuang. Untuk lingkungan yang berkualitas, pantau kualitas air dari hulu sampai hilir, dari akan digunakan sampai akan digunakan kembali. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.