Air Sehat, Produktivitas Meningkat

Panen umur 120 hari, tambak udang vaname milik Faisal di Surade, Sukabumi, hasilkan 45 ton/hektar. Dengan kepadatan 200 ekor/m 2; FCR budidaya sebesar 1,25; berat udang mencapai 30 ekor/kg.

Bukan tanpa aral, Faisal mengaku sempat mengalami gagal panen sepanjang 4 siklus di awal budidaya. Namun, setelah mengikuti magang teknis dan mendapat pembinaan langsung dari Balai Besar Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, usaha tambak Faisal menunjukkan produktivitas tinggi.

Salah satu langkah yang perlu diperhatikan petambak udang adalah menjaga kualitas air media pemeliharaan di tambak. Maklum, air bagi udang ibarat udara bagi manusia. Jika kualitas air atau udara buruk, kesehatan jelas akan terganggu, timbul penyakit, dan menimbulkan kematian.

Air yang sehat akan membuat udang merasa nyaman. Dengan kandungan pakan alami yang cukup, pertumbuhan udang akan berjalan dengan baik. Dengan begitu, stamina udang menjadi prima, nafsu makan terjaga, dan pertambahan bobot udang sesuai dengan harapan.

Persiapan tambak

“Tujuan utama persiapan tambak atau lahan adalah untuk membersihkan atau membunuh bakteri dan biofilm yang mungkin sudah terbentuk dalam substrat dasar tambak selama proses budidaya sebelumnya,” ujar Bambang Widigdo, Guru Besar dan Peneliti di FPIK-IPB University.

Menurut Bambang, yang juga seorang praktisi budidaya ini, kegiatan utama dalam persiapan tambak terdiri dari pembersihan lahan (dasar dan dinding tambak) dari kotoran atau lumpur sisa budidaya sebelumnya. Pembersihan juga dilakukan pada alat-alat budidaya seperti kincir, anco, kaki-kaki jembatan, dan selang sifon. Selanjutnya dilakukan desinfeksi terhadap tambak dan seluruh peralatan.

Selanjutnya, dasar tambak dijemur untuk memastikan bibit penyakit mati. Semua peralatan, misalnya kincir dan autofeeder,  juga mulai dipasang dan diatur sesuai petunjuk teknis. Setiap satu kincir dipasang untuk menangani kebutuhan seluas 100—150 m2 atau 25.000—35.000 ekor benur.

Setelah tanah dasar dan peralatan siap, langkah selanjutnya adalah persiapan air media pembesaran sebelum benur ditebarkan. “Tujuan utama dari persiapan air adalah menyediakan air yang bebas hama atau penyakit; mengandung pakan alami, baik fitoplankton maupun zooplankton; serta memiliki kualitas kimia-fisika dan biologi yang memenuhi kriteria,” kata Bambang.

Menurut Bambang, kegiatan pada tahap persiapan air terdiri dari pengisian dan sterilisasi air. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan air yaitu tidak menggunakan bahan-bahan yang dilarang dan berbahaya bagi konsumen saat pembasmian hama atau penyakit, terutama antibiotika. Selain itu, gunakan desinfektan yang diijinkan, baik oleh pemerintah Indonesia maupun internasional, seperti trichloroisocyanuric acid (TCCA) atau kaporit.

Adapun pakan alami berupa plankton (fito dan zooplankton) merupakan prakondisi yang harus dicapai sebelum dilakukan penebaran. Untuk mempercepat tumbuhnya plankton, diperlukan pemupukan (urea, TSP, dan ZA) dan penambahan bahan fermentasi. Jika diperlukan, lakukan inokulasi plankton dari tambak lain yang sehat, yang sedang dalam persiapan air juga, atau plankton dari hatchery.

Pastikan kualitas kimia-fisika dan biologi telah memenuhi kriteria untuk penebaran. Jika memungkinkan, lakukan bioassay untuk menguji kenetralan air tambak dari residu bahan sterilisasi. Dengan begitu, tambak pembesaran sudah siap untuk ditebari benur.

Tabel: Kualitas air saat persiapan air siap untuk ditebar benur  
Parameter Standard
Fisika
1 Suhu (◦C) 28 – 32
2 Kecerahan (cm) 25 – 35
3 Ketinggian air (cm) 120 – 160
4 Warna air HC – CH
Kimia
5 Salinitas (ppt) 15 – 34
6 DO (ppm) > 4
7 pH 7,5 – 8,5
8 TAN (ppm) < 2
9 NH4 (ppm) < 2
10 NH3 (ppm) < 0,1
11 Alkalinitas Total (ppm) >120
12 HCO3 (ppm) >80
13 PO4 (ppm) < 1
14 NO3 (ppm) < 35

Penebaran benur

Hal penting yang perlu diperhatikan petambak sebelum penebaran benih yaitu memastikan benur dan media air pembawa benur dari hatchery telah terjamin keamanannya. Hal ini disebabkan air media dari tempat lain berpotensi mengandung bibit penyakit.

Lebih lanjut, Bambang Widigdo menjelaskan bahwa kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan budidaya selanjutnya, terutama terkait dengan kegiatan penebaran benur di kolam tambak.  Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian pekerjaan. Pertama, pastikan bahwa benur yang datang dalam kondisi baik dan sehat. Kedua, lakukan penghitungan ulang untuk menentukan benur yang hidup saat tiba di lokasi, antara lain dengan metode sensus, dilihat satu-persatu, dan dihitung jumlah benur yang mati atau lemah dari 2—3 kantong benur. Hitung benur yang hidup dan masih lincah. Ketiga, lakukan aklimatisasi benur dengan kondisi air tambak, terutama aklimatisasi suhu. Keempat, pastikan penebaran dilakukan dengan hati-hati dan tidak terjadi pengumpulan benur di satu titik.

Kegiatan berikutnya adalah pemeliharaan udang hingga panen. Selama pemeliharaan, hal yang sangat penting adalah ketepatan dosis dan waktu pemberian pakan. Pemberian pakan dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu blind feeding dan pasca-blind feeding.

Blind feeding merupakan pemberian pakan yang diberikan sejak udang berumur 1 hari hingga 40 hari. Dosis pakan sudah merupakan paket sesuai jumlah benur yang ditebar dan ini biasanya disediakan oleh perusahaan pakan melalui teknisi technical service-nya. Sementara dosis pakan pasca-blind feeding disesuaikan dengan perkiraan biomass udang  di dalam kolam. “Hal yang penting di sini adalah pendugaan populasi dan biomass udang di kolam. Untuk hal ini, masing-masing teknisi tambak—biasanya—memiliki cara yang berbeda-beda,” kata Bambang.

Merawat air kolam

Menurut Bambang, pemantauan kualitas air perlu terus dilakukan untuk mengoreksi nilai parameter. Biasanya dilakukan pengapuran untuk mengoreksi pH dan alkalinitas, penambahan bakteri probiotik, serta pergantian air. Semua kegiatan dilakukan sesuai SOP yang dimiliki para teknisi technical service perusahaan pakan.

“Perawatan setelah tebar benur umumnya hanya merawat air agar kualitasnya sesuai dengan kebutuhan udang. Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk merawat kualitas air kolam budidaya di antaranya pH pen, Secchi disc, DO meter, tongkat pengukur ketinggian air, termometer, dan refraktometer,” kata Agus Subagyo, Regional Technical Support Asia PT Inve Aquaculture.

Sementara Wayan Agus Edhy, Direktur Operasional PT Berkah Aquakultur Bahari, mengatakan bahwa kondisi air dikatakan layak untuk penebaran benur jika kecerahannya 50—60 cm, alkalinitas di atas 100 ppm, salinitas di atas 15 ppt, TVC di bawah 100 cfu/ml, dan nilai pH 7,8—8,5. Adapun upaya perawatan air kolam tambak setelah penebaran benur adalah menjaga bahan organik agar selalu rendah, misalnya dengan kegiatan sifon lumpur tambak. “Hal ini disebabkan bahan organik merupakan sumber masalah penyakit dalam budidaya udang,” terangnya.

Menurut Paian Tampubolon, Technical & Marketing Area PT. Thai Union Kharisma Lestari, terdapat lima langkah yang diperlukan untuk merawat kualitas air tambak setelah kegiatan penebaran benur. Langkah pertama adalah melakukan penggantian air secara rutin untuk peremajaan fitoplankton, yang mempunyai siklus hidup dalam waktu tertentu dan kondisi plankton tua. Kondisi ini terlihat dari ukuran yang membesar, air berbusa, dan diawali dengan timbulnya klekap pada pojok tambak.

Langkah kedua yaitu membuang bahan organik dengan melalukan sifon secara rutin. Langkah ini dilakukan untuk mencegah fitoplankton tumbuh subur akibat ketersediaan nutrien berupa nitrat dari hasil proses nitrifikasi melimpah.

Langkah ketiga adalah mengontrol pemberian pakan untuk mencegah terjadinya kelebihan pakan yang merupakan penyumbang terbesar fosfat di tambak. Fosfat merupakan nutrien bagi fitoplankton.

Langkah keempat mencegah tersendatnya proses pembusukan (nitrifikasi) dengan bakteri. Dengan begitu, proses pembusukan tidak menyisakan senyawa beracun yang dapat menggeser dominasi jenis plankton baik (chaetoceros, diatom) menjadi jelek (blue green alga/BGA).

Langkah kelima adalah menjaga pH air tambak agar selalu stabil. Hal ini dilakukan agar dominasi fitoplankton tidak mudah berubah.

“Untuk menjaga kualitas air dilakukan pengecekan setiap minggu, jika perlu setiap hari. Cek lab secara lengkap serta analisis kimia, fisika, dan biologi,” tambah Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa.

Tak berlebihan rasanya jika para petambak perlu melakukan pemantauan ketat terhadap kualitas air tambaknya. Pasalnya, investasi yang ditanamkan dalam usaha ini tentu tidak sedikit. Jangan sampai niat mencari keuntungan usaha justru berakhir kecewa karena alpa, tidak sensitif pada kualitas air tempat hidup udang mereka. Selalu ingat, “Air sehat, produktivitas meningkat!”. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.