Pentingnya Update Pengetahuan Teknologi Pakan

Kita tidak menutup mata bahwa sebagian besar sumber biaya produksi, terutama di budidaya udang, berasal dari pakan. Oleh sebab itu, faktor penting dalam budidaya udang yaitu ketika kita berhasil dalam mengelola penggunaan pakan di lapangan. Artinya, semakin optimal kita mengelola pakan, FCR di lapangan sampai akhir budidaya bisa kita tekan seoptimal mungkin.

Namun, di sisi lain, pakan juga menyebabkan banyak masalah di dalam tambak melalui akumulasi sampah organik. Dampak dari makanan yang tidak termakan akan terkumpul di dasar kolam dan menjadi gas beracun (amonia) ketika kadar oksigen rendah. Dampak lain, terjadi plankton bloom, yang ditengarai dari kepekatan air.

Di tambak udang vaname modern, diperlukan pemahaman tentang nutrisi, kebutuhan nutrien, dan teknologi pembuatan pakan agar penggunaan pakan mencapai sasaran. Begitu pula dengan kemampuan pengelolaan pakan dan teknik aplikasi pemberian pakan.

Salah satu faktor pengelolaan pakan adalah teknik dan aplikasi frekuensi pemberian pakan selama masa pemeliharaan. Hal ini disebabkan padat tebar tinggi dan teknologi yang digunakan di tambak modern sangat kompleks. Oleh sebab itu, para pembudidaya selalu berusaha menekan biaya produksi seefisien mungkin dari berbagai komponen produksi.

Penggunaan pakan yang efisien dalam usaha budidaya sangat penting kerena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Program pemberian pakan merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan jenis, ukuran, frekuensi, dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan. Oleh karena itu, perbaikan komposisi nutrisi dan efisiensi penggunaan pakan tambahan perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mengurangi biaya pengadaan pakan. Selain itu, upaya perbaikan tersebut juga berguna untuk meminimalkan produksi limbah pada media budidaya sehingga tercipta budidaya udang yang berkelanjutan.

Pengelolaan pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan jenis dan jumlah pakan, waktu dan frekuensi pemberian, serta lokasi udang diberi pakan. Penerapan feeding regime hendaknya disesuaikan dengan tingkah laku serta siklus alat pencernaan udang vaname untuk memaksimalkan penggunaan pakan.

Sumber pakan berkualitas

Udang sangat membutuhkan asupan makanan, baik pakan alami maupun buatan. Pakan udang yang baik membuat pertumbuhan udang di dalam kolam tambak optimal. Untuk mencapai target produksi, kita perlu mengetahui syarat pakan yang baik dan berkualitas, di antaranya: (1) ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran udang; (2) berkolesterol tinggi untuk mempercepat molting atau ganti kulit, sebagai acuan kasar bisa dilihat dari kandungan lemaknya; (3) berprotein tinggi untuk membantu mempercepat recovery setelah terjadi molting; (4) pakan yang digunakan memiliki kandungan serat yang rendah; (5) kandungan nutrisi dalam pakan harus tinggi; (5) warna pakan seragam; (6) memiliki attractability atau daya rangsang pakan udang.

Pakan yang mempunyai atraktan bagus akan merangsang udang untuk mengkonsumsi pakan. Parameter ini terkait dengan sifat udang dalam mencari sumber pakan, yang lebih mengandalkan indera penciumannya. Aroma pakan harus mampu memberikan rangsang bau yang menarik udang untuk mengonsumsinya. Dengan begitu, pertumbuhan udang vaname sesuai dengan harapan.

Untuk sumber pakan udang, terutama bahan baku pakan buatan, berasal dari beberapa sumber. Pertama, pakan yang bersumber dari bahan hewani yang kaya protein dan lemak, baik dari air maupun darat. Kedua, pakan yang bersumber dari bahan nabati, yang kandungan seratnya rendah. Hal ini disebabkan bahan dari nabati kaya dengan karbohidrat, sedangkan serat merupakan jenis karbohidrat yang sulit dicerna.

Jenis pakan yang banyak menggunakan sumber bahan hewani dari air mempunyai ciri khas yang fishy. Sebagai atraktan, jenis pakan ini kuat. Pakan yang mempunyai daya atraktan kuat otomatis akan mengundang respon lebih baik dari udang untuk mengkonsumsinya.

Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan pada pakan adalah kebutuhan udang terhadap protein, yang lebih besar dibandingkan organisme lainnya. Fungsi protein di dalam tubuh udang antara lain untuk pemeliharaan jaringan, pembentukan jaringan, mengganti jaringan yang rusak, serta pertumbuhan.

Kebutuhan udang terhadap protein untuk setiap stadia hidupnya berbeda-beda. Pada stadia larva, kebutuhan protein lebih tinggi dibandingkan setelah dewasa. Hal ini disebabkan pertumbuhan udang lebih pesat pada stadia larva dibandingkan dewasa. Di samping itu, sumber protein yang diperoleh udang juga berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan kebiasaan makan dari udang, di mana udang cenderung bersifat karnivora pada stadia larva.

Pakan yang baik bagi udang vaname adalah pakan yang mengandung protein paling bagus serta kestabilan pakan dalam air. Selain protein, terdapat lemak yang merupakan komponen nutrisi penting yang dibutuhkan udang untuk perkembangan. Lemak berperan sebagai sumber energi serta membantu penyerapan kalsium dan vitamin A yang dibutuhkan udang, baik berupa vitamin maupun mineral.

Probiotik dan pakan

Penggunaan probiotik dapat menjadi solusi untuk menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan yang optimal, mengurangi biaya produksi, dan pada akhirnya dapat mengurangi beban lingkungan karena akumulasi limbah di perairan. Probiotik merupakan makanan tambahan berupa sel-sel mikroorganisme hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi udang. Probiotik berperan untuk memudahkan proses penyerapan zat nutrisi, meningkatkan kesehatan udang, mempercepat pertumbuhan, dan menghalangi penyakit masuk ke tubuh udang.

Selain dimanfaatkan sebagai pakan tambahan (feed supplement) bagi udang, probiotik yang diaplikasikan pada pakan atau media kultur juga dapat menjaga kualitas air (conditioners). Prinsip dasar kerja probiotik adalah pemanfaatan kemampuan mikroorganisme dalam memecah atau menguraikan rantai panjang—baik karbohidrat, protein, atau pun lemak—penyusun pakan yang diberikan.

Proporsi jumlah koloni bakteri probiotik, khususnya Lactobacillus sp. dalam pakan, menyebabkan aktivitas bakteri probiotik dapat bekerja secara maksimal dalam pencernaan udang. Dengan begitu, daya cerna udang dalam menyerap sari-sari makanan menjadi lebih tinggi dan menghasilkan pertumbuhan yang baik.

Lactobacillus yang masuk ke dalam tubuh udang melalui pakan akan menghasilkan enzim laktase yang dapat memanfaatkan karbohidrat (glukosa) untuk diubah menjadi asam laktat. Terbentuknya asam laktat menyebabkan pH pada substrat menjadi rendah hingga mencapai 4,6—5,0. Kondisi lingkungan yang asam ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan pembusuk dalam sistem pencernaan udang. Di samping itu, sekresi enzim proteolitik juga akan meningkat.

Saat ini, dengan semakin berkembangnya teknologi budidaya, mau-tidak mau pembudidaya harus terus meng-update pengetahuan. Hal ini dilakukan agar budidaya yang dijalankan semakin baik. Dengan banyaknya problematika yang berkembang saat ini, terutama isu serangan penyakit serta semakin menurunnya kualitas perairan, mau-tidak mau kita dituntut untuk semakin mengefisienkan atau mengoptimalkan potensi sumberdaya yang ada, terutama di tambak udang. (Ed: Rch)

Oleh:

Rudy Kusharyanto, PT Suri Tani Pemuka

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.