Indo Fisheries 2022: Bisnis Perikanan, Sudah Sejauh Mana?

Setelah dua tahun vakum akibat pandemi covid 19, PT Napindo Media Ashatama selaku professional exhibition organizer business to business resmi membuka pameran dan forum internasional, Indo Livestock 2022 Expo & Forum bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (6/7).

Indo Livestock 2022 Expo dan Forum yang digelar tiga hari mulai tanggal 6 hingga 8 Juli 2022 merupakan pameran business to business yang pertama kali dilaksanakan setelah pandemi. Pameran ini mencakup industri peternakan, pertanian, pakan ternak, pengolahan susu, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, dan perikanan.

Arya Seta Wiriadipoera, Managing Director PT Napindo Media Ashatama mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah informasi dan menjadi wadah pertemuan stakeholder pertanian, perikanan dan peternakan. Pada perhelatan kali ini, terdapat 200 peserta dari 23 negara yang mana 4 negara terebut terdapat pavilion negaranya masing-masing, yaitu pavilion Indonesia, Belanda, Cina dan korea Selatan.

Terkait bisnis akuakultur di acara Indo Livestock kali ini, harapan besar disampaikan para peserta untuk semakin berkembangnya akuakultur Indonesia.

Supri, Market advisor FishTechIndonesia mengatakan, industri akuakultu di Indonesia saat ini belum optimal, terutama untuk para petambak. “ Dengan adanya pameran ini, kita harus mulai melek dan menggunakan tekhnolog untuk meningkatkan kualitas produksi dan tentu saja meningkatkan keuntungan untuk petambak itu sendiri,” ujar Supri.

Prospek Tetap Besar

Budi Tanaka, Direktur Utama PT Bio Cycle Indo mengatakan, bisnis akuakultur setelah pandemi masih sangat menjanjikan, bisnis akuakultur ini terbukti sebagai salah satu industri yang tahan banting terhadap pandemi, akan tetapi dengan gejolak dunia yang ada saat ini, industri akuakultur lagi beradaptasi dengan keadaan ekonomi dunia.

Tidak jauh berbeda dengan Budi. Darminto, Sales Manager Fish Feed De Heus mengatakan, bisnis akuakultur saat ini masih sangat prospek dan menjajikan, karena kebutuhan gizi masyarakat yang bersumber protein ikan masih belum tercukupi.

“Akan tetapi proses budidaya terkendala harga pakan ikan yang naik drastis dibanding tahun sebelumnya, akibat dari ketersediaan dan harga bahan baku yang juga naik (khususnya Import),” tambah Darminto.

Suherman, Marketing Oodank mengatakan, akuakultur dipandang penting untuk saat ini dan masa depan dengan tujuan memenuhi peningkatan permintaan makanan protein hewani berkualitas. Dengan demikian peluang bisnis akuakultur amat sangat potensial untuk dilakukan mengingat seiring perkembangan ilmu dan teknologi yang akan berdampak dalam kemudahan proses tersebut.

Bangkit dari Pandemi

Menurut Romi Novriadi, Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan, Dosen Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Jakarta, boleh dikatakan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama masa pandemi dimana salah satunya membatasi bahkan melarang kegiatan dine in di restaurant memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan serapan ikan dan udang hasil budidaya.

Namun, tambah Romi, masa pandemi juga memberikan kesempatan untuk para pelaku usaha melakukan inovasi melalui penjualan retail dan meningkatkan diversifikasi kualitas produk sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan makanan dengan profil nutrisi lengkap yang mampu menstimulasi peningkatan sistem imun di dalam tubuh.

Perubahan pola konsumsi masyarakat ditunjukkan oleh meningkatnya Angka Konsumsi Ikan (AKI) secara nasional mulai dari 54,56 Kg/per kapita/tahun di tahun 2020 menjadi 55,37 Kg/per kapita/tahun di tahun 2021. “Kondisi diatas menambah keyakinan bahwa bisnis akuakultur setelah masa pandemi akan tetap memiliki peningkatan yang cukup baik dibandingkan sektor produksi lainnya,” jelas Romi.

“Pandemi masih berlangsung (karenanya masih ada PPKM) entah sampai kapan, walau sebagian sudah mulai lupa dan kurang menjadi mawas,” kata Deny Mulyono, ketua GPMT.

Menurutnya, situasi ini menggerus ketahanan ekonomi di setiap negara, tidak hanya di Indonesia, termasuk juga negara-negara tujuan ekspor hasil budidaya perikanan, diantaranya USA, sebagai negara tujuan utama ekspor hasil udang budidaya dari Indonesia.

Alhamdulillah, walau pandemi masih berlangsung namun kegiatan usaha sudah berangsur baik, akan tetapi tantangannya saat ini pada supply-chains, ketersediaan bahan baku dan juga kelancaran pasar di hilirnya. Semua saling mempengaruhi dan menentukan kelancaran industri ini, di tengah situasi yang tidak menentu ini, sebaik-baiknya disikapi dengan bijaksana oleh semua stakeholders terkait agar tetap jalan dan meminimalkan resiko sebaik mungkin, jeli dalam mensiasati pasar agar tetap berjalan,” pungkas Deny.

Dampak Global

Tantangan bisnis di sektor akuakultur tidak hanya disebabkan oleh pandemi covid 19 saja. Nyatanya, Deny menuturkan, perubahan iklim dan gelombang panas yang terjadi pun turut mempengaruhi hasil panen produk hortikultur, hasil tangkapan, musim tanam di banyak negara penghasil, terlebih perang Russia dan Ukraina, semua termasuk komponen utama yang mempengaruhi gonjang-ganjing harga komoditas, logistik, yang mana sebagiannya adalah bahan baku pakan.

Senada dengan Deny. Budi Novianto, Country Business Development Manager Algebra Bio Indonesia juga mengatakan, untuk sektor akuakultur terutama udang, masih terdampak pada pandemi dan saat ini pada masalah politik di Eropa (Perang Rusia dan Ukrania).Di mana terjadi krisis energi dan juga ekonomi di Eropa maupun Amerika yang menyebabkan menurunnya permintaan udang, ada kemungkinan stok udang di Indonesia cukup banyak sebagai frozen food di perusahaan coolstorage.

“Namun harga udang sepertinya tidak turun terlalu drastis saat ini, untuk ikan freshwater saat pandemi, sempat ada penurunan sebentar, tetapi saat ini sudah normal lagi,” jelas Budi.

Irawati Fari, Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) juga menuturkan hal serupa. Menurutnya, walaupun Indonesia terkena dampak dalam situasi ekonomi global yang mungkin kurang kondusif, namun bisnis akuakultur masih terpantau baik terutama untuk ekspor.

Budi menuturkan, yang terdampak parah justru di sektor peternakan atau poultry, permintaan turun, produksi melimpah, ayam pedaging sempat harganya di bawah harga pasar, bahkan baru-baru ini ayam petelur juga mengalami hal yang sama, sampai banyak yang bangkrut.

“Tetapi sekarang sudah mulai membaik, harga juga bagus, hanya saja harga pakan dan raw material-nya yang saat ini masih tinggi. Jadi aku yakin di akuakultur juga meningkat cost pakannya, terutama karena harga pakan pabrikan yang terpaksa ikut naik. Petambak ikan dan udang harus pandai menyiasati untuk menghemat cost produksi, manajemen dibuat lebih effisien supaya tetap ada profitnya,” kata Budi.

Apa action Pemerintah?

Ujang Komaruddin, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP mengatakan, bahwa dibalik Indonesia sebagai produsen utama perikanan budidaya dunia dengan share produksi sebesar 13.23%, nomor urutan kedua setelah China dengan share 56.97%, dengan peluang pengembangan lahan perikanan budidaya yg masih sangat luas, Indonesia masih menyisakan berbagai tantangan.

Menurut Ujang begitu kerap Ia disapa, sebagian besar tantangan masih bersifat tradisional (low technology), tidak memenuhi skala ekonomi (economic scale). Kemudian, sistem tataniaga/rantai pasok yang tidak menguntungkan pembudidaya, pencemaran/degradasi kualitas lingkungan budidaya dan dampak negatif perubahan iklim global dan minimnya penerapan best aquaculture practises dan rendahnya kapasitas SDM.

Dalam rentang 2021-2024, Ujang menuturkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) meluncurkan program terobosan, seperti pengembangan produksi budidaya berbasis ekspor, dengan empat komoditas unggulan yakni udang, rumput laut, kepiting, dan lobster.

Selain itu, tambah Ujang, pembangunan kampung perikanan budidaya (aquaculture villages) berbasis kearifan lokal seperti budidaya air tawar (di pedalaman), budidaya air payau (di pesisir), dan budidaya laut.

“Target produksi udang nasional sebesar 2 juta ton pada tahun 2024, membutuhkan sinergi seluruh stakeholders dalam pencapaiannya,” ungkap Ujang.

Pemerintah melalui DJPB telah dan sedang melaksanakan berbagai dukungan program dan kegiatan berupa percontohan teknologi pada skala komersial (modelling budidaya udang terintegrasi dan budidaya udang berbasis kawasan). Revitalisasi pertambakan udang (redesain kawasan tambak dan intensifikasi) dan penyederhanaan perijinan usaha perikanan budidaya.

Ujang berharap, modelling tambak dan revitalisasi tambak ini akan menjadi contoh bagi pengembang budidaya udang, pemerintah pusat/daerah, dan para penyuluh dalam mengembangkan teknologi akuakultur.

Tidak sampai di situ, program terobosan kedua yang diemban DJPB adalah pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal, yang melibatkan seluruh komponen stakeholder dan pembudidaya. Tahun 2021-2022, KKP telah menetapkan 130 kampung perikanan budidaya, baik yang bernuansa air tawar (daratan pedalaman), air payau (pesisir) dan juga budidaya laut.

Pembangunan perikanan budidaya di Indonesia, dikawal melalui implementasi ekonomi biru (blue economy), dimana terjaganya keseimbangan kepentingan ekologi dan ekonomi yg didukung oleh Inovasi teknologi. Tren usaha akuakultur ke depan, tentu saja harus menganut kepada kegiatan yang produktif, efisien, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

Pembangunan kampung perikanan budidaya bertujuan untuk peningkatan produksi dan pendapatan,  pengentasan kemiskinan, membangun konektivitas komponen-komponen usaha budidaya, menjaga populasi komoditas endemik bernilai ekonomis tinggi, dan tentu saja meningkatkan partisipasi masyarakat (pembudidaya).

Beberapa teladan yg sudah dikaji dan dicontohkan pemerintah antara lain budidaya sistem bioflok, recilculation aquaculture system (RAS), integrated multitrophic aquaculture systems, silvofishery, minapadi, aquaponic, dan green energy.

Millenial shrimp farming – percontohan budidaya udang yang dilengkapi oleh sistem otomatisasi dan digitalisasi juga merupakan teladan yang siap ditiru dan dikembangkan di masyarakat. Strategi DJPB lainnya dalam menata akuakultur di Indonesia adalah pengembanga genetic engineering dan quality assurance serta ketertelusuran produksi. (Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *