Dinamika Budidaya Udang, Optimis Hadapi Tantangan

Dinamika Budidaya Udang, Optimis Hadapi Tantangan

Musyawarah Nasional Shrimp Club Indonesia (Munas SCI) 2022 sukses digelar dari tanggal 23-25 Agustus 2022 di Grand City Convex Hall, Surabaya, Jawa Timur. Munas kali ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan dan terlihat dari antusias peserta yang hadir dari seluruh stakeholder budidaya udang.

Salah satu sambutan positif itu keluar dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono. Dalam sambutannya, Menteri Trenggono mengatakan, acara ini sangat bermanfaat bagi para seluruh stakeholder perudangan untuk bertukar informasi seputar perkembangan budidaya udang.

Lebih lanjut, Menteri Trenggono mengajak pembudidaya hingga pelaku usaha budidaya udang di Indonesia untuk bersama bahu-membahu dengan pemerintah menerapkan konsep hulu – hilir pada kegiatan budidaya udang di Indonesia.

Seperti yang diketahui, udang merupakan komoditas perikanan yang sangat diminati oleh pasar dunia, dimana permintaan pasar udang global berada di nomor dua setelah salmon. Indonesia selama kurun waktu 2015-2020 berkontribusi terhadap pemenuhan pasar udang dunia rata-rata sebesar 6,9%.

Senior Marketing PT. Windu Alam Sentosa, Iwan Basuki mengatakan, budidaya udang saat ini masih dipandang salah satu usaha yang menjanjikan, hal ini dikarenakan
udang menjadi komoditas yang banyak diminati oleh pasar global. Saat ini, Indonesia baru mampu memenuhi rata rata 6,9 % kebutuhan pasar udang global.

Dari segi keuntungan bisnis, kata Iwan, budidaya udang masih dapat meraup keuntungan sekitar 30 – 40 %, dengan catatan perjalanan budidayanya lancar tanpa ada kendala penyakit. Dengan adanya potensi market yang terbuka luas dan peluang keuntungan yang menjanjikan ini hingga saat ini banyak bermunculan investor atau pebisnis yang mencoba terjun ke tambak udang, sedangkan petambak yang lama juga masih tetap bertahan dengan usaha budidayanya.

Apalagi saat ini pemerintah mendorong pencapaian target swasembada perikanan dengan peningkatan target sebanyak 250%. Pemerintah berupaya mendorong sektor swasta dan pemerhati budidaya untuk bersama-sama mengejar ketertinggalan dibanding negara lain.

Menurut Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Boyun Handoyo, kondisi budidaya udang nasional saat ini sedang kembali bergairah pasca pandemi covid-19, yaitu dengan semakin membaiknya harga udang, dukungan program pemerintah yang semakin gencar serta banyaknya pelaku baru (milenial) yang mulai terjun ke bisnis ini.

Senada dengan Boyun, Head of Aqua Business Farmsco Feed Indonesia, Kasan Sentosa mengatakan, budidaya udang nasional saat ini cukup menarik, banyak bermunculan investor baru dan juga risiko budidaya semakin kecil sebab para petambak terus mencari serta belajar soal teknik budidaya udang.

“Pada sektor feedmil, feed additive dan obat-obatan juga terus-menerus dan berkala memberikan informasi atau konsep budidaya serta mencari update product mereka untuk memberikan yang terbaik bagi petambak, apalagi dengan adanya Munas SCI ini dapat memberikan banyak informasi dan technical budidaya yang baik dan benar, para petambak bisa saling komunikasi dan sharing pengalaman mereka untuk kemajuan bersama,” ujar Kasan.

Manager Technical Support Shrimp Feed De heus Indonesia, Suprapto yang akrab disapa Prapto melihat kondisi budidaya nasional saat ini meski diterpa penyakit pertumbuhan tambak tetap menggeliat. Hal tersebut bisa dilihat munculnya tambak tambak baru skala intensif khususnya di luar pulau Jawa (Bangka-Belitung, Kalimantan, Bengkulu, NTB dan Sulawesi), begitu pula di Jawa baik Pantai Utara maupun Pantai Selatan.

Oleh sebab itu, menurut Prapto, semangat untuk bertambak terlihat dari animo pengusaha-pengusaha muda atau milenial yang mulai bertambak. Kondisi ini dipicu selain karena bisnis budidaya udang sangat tinggi marginnya dibanding usaha lain, selain itu peran pemerintah untuk menargetkan dua juta ton produksi udang menjadi penyemangat.

Projects Development Senior Manager Cita Indonesia Aqua Company, Nasiruddin Miftahul Firdaus juga mengatakan, kondisi budidaya udang di Indonesia saat ini sedang bersemangat untuk mendapatkan panen yang melimpah, tetapi banyak penyakit dan kendala yang dihadapi.

Meskipun demikian, tambah Boyun, di sisi lain petambak sedang berbudidaya dengan mengikuti kondisi kualitas lingkungan perairan yang terus menurun sehingga menyebabkan merebaknya penyakit dan menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

“Sehingga perlu ada dukungan teknologi budidaya, baik dari pengelolaan lingkungan, penggunaan benih yang unggul, rekayasa sistem dan SOP budidaya, ataupun manajemen pemberian pakan yang tepat untuk mendukung keberhasilan budidaya udang,” tandas Boyun.

Konsep Hulu-Hilir Budidaya Udang
CEO PT. Juara Biolife Solution, Ahmad Arif mengatakan, budidaya udang saat ini masih menjadi salah satu komoditas primadona di Indonesia. meningkatnya permintaan udang di dunia, membuat Indonesia menyusun strategi mengembangkan budidaya  udang. dengan adanya program- program pemerintah yang mendukung para petambak udang, diharapkan Indonesia mampu memenuhi target pasar udang yang dicanangkan oleh pemerintah.

Dalam pidatonya di Munas SCI, Menteri Trenggono, menjelaskan mengenai strategi pengembangan budidaya udang harus menggunakan konsep pengembangan budidaya udang yang memenuhi konsep pendekatan hulu-hilir yang baik dalam satu kawasan industri atau kawasan ekonomi.

Konsep pendekatan hulu-hilir meliputi hatchery, pabrik pakan, on-farm budidaya udang, pengolahan hasil budidaya, proses pengemasan, pabrik es, hingga pabrik kemasan berada dalam satu kawasan. Dengan demikian, kegiatan ekonomi yang dihasilkan lebih besar dan memberikan peluang usaha yang lebih beragam lagi kepada masyarakat.

“Negara harus hadir di tengah usaha masyarakat dalam memajukan sektor budidaya. Pentingnya kita saling kerja sama antar stakeholder. Kerja sama dengan pemerintah daerah harus dilakukan, mulai dari penentuan lokasi shrimp estate, pakan, hatchery dan obat-obatan, sebab udang kalau dibudidayakan dengan baik maka hasilnya akan luar biasa,” ujar Menteri Trenggono begitu kerap ia disapa.

Pengembangan budidaya udang menggunakan konsep hulu-hilir ini, kata Menteri Trenggono, menurutnya dapat memacu peningkatan produksi udang nasional, di mana pemerintah telah menargetkan produksi udang sebanyak 2 juta ton pada tahun 2024.

Selain itu, budidaya udang dapat berkontribusi lebih besar lagi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya. Sepanjang tahun 2021, nilai ekspor udang Indonesia mencapai USD2,2 miliar, tertinggi di antara komoditas perikanan lainnya.

Sementara itu, dalam upaya meningkatkan produksi udang nasional, KKP juga memiliki tiga strategi yang diawali dengan melakukan evaluasi tambak udang existing, merevitalisasi tambak udang tradisional menjadi semi intensif atau intensif dengan produktivitas semula 0,6 ton per Ha per tahun menjadi 2 ton Ha, serta membangun tambak udang modeling skala industri di beberapa titik Indonesia sesuai konsep pendekatan hulu dan hilir.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, TB Haeru Rahayu yang biasa disapa Tebe, turut hadir di Munas SCI kali ini menambahkan, bahwa pentingnya menjaga keberlanjutan dalam menjalankan kegiatan budidaya udang di Indonesia.

“Udang ini merupakan sumber daya alam yang dapat dinikmati oleh kita saat ini dan generasi yang akan datang, untuk itu tetap perhatikan keberlanjutannya,” ujar Tebe.

Bergelut dengan Penyakit
Chairman JALA tech, Aryo Wiryawan Budidaya udang di Indonesia sedang mengalami banyak tekanan. Di semester pertama atau pertengahan tahun, ungkap Aryo, harga udang drop lebih dalam dibanding biasanya, persaingan di pasar export juga semakin meningkat dengan masuknya udang Ekuador ke negara tujuan utama market Indonesia Amerika Serikat.

“Penyakit juga masih menjadi momok petambak terutama di daerah yang padat populasi tambak udangnya,” terang Aryo.

Harga udang yang belum sepenuhnya stabil juga dikatakan oleh Brand Manager Aqua Elanco Animal Health Indonesia, Mufti Islam Insani. Menurutnya, budidaya udang nasional saat ini cenderung dihadapkan dengan permasalahan harga udang yang belum ada kenaikan secara signifikan sedangkan harga pakan dan biaya operasional budidaya udang meningkat.

Commercial Director PT Grobest Indomakmur, Yeri Afrizon mengatakan demikian. Menurutnya, tantangan budidaya semakin hari bertambah kompleks, penyakit udang juga semakin banyak dan menyerang di berbagai umur (DOC).

Yeri menjelaskan, jika berhasil melewati bahaya Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) di DOC 0-30, masih ada resiko White Spot Syndrome Virus (WSSV) di DOC 30-60 dan pada DOC 60-90 juga ada Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang mengintai.

“Untuk bisa melewati masa-masa kritis tersebut, maka mulai dari benur, pakan, saprotam dan tentunya management tambak harus saling bahu-membahu untuk memastikan suksesnya budidaya di setiap pelanggan,” ujar Yeri.

Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA), Rudy Kusharyanto, budidaya udang nasional saat ini boleh dibilang masih menghadapi tantangan yang lebih berat, khususnya dengan penyakit udang yang saat ini masih banyak menyerang di sentra-sentra produksi udang nasional.

Penyakit AHPND, WSSV dan IMNV, masih menjadi momok yang menyerang udang di tambak dalam waktu yang sulit diprediksi, ini tentu sangat erat kaitannya dengan target produksi nasional yang diharapkan meningkat namun bila masalah penyakit ini dibiarkan tentu akan berpengaruh terhadap total produksi udang nasional.

“Dari faktor kondisi budidaya udang saat ini kita belum sepenuhnya terbebas dari permasalahan yang ada. Serangan penyakit yang hilang-timbul masih menjadi momok bagi sebagian petambak di Indonesia,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, antisipasi dan penanganan penyakit yang dilakukan masih bersifat sporadis, tidak menyeluruh dalam dan antar sektoral, hal ini yang masih menjadikan para pembudidaya masih saja mengalami permasalahan penyakit udang.

“Namun demikian sebetulnya kita mempunyai sumber daya manusia di bidang perikanan yang sangat besar. Kemampuan teknis para praktisi tambak kita masih bisa diharapkan dan sanggup mengikuti perkembangan teknologi budidaya yang terus berkembang,” tungkas Iwan.

Selain masalah penyakit, tambah Rudy, para pembudidaya juga terdampak oleh peningkatan biaya produksi akibat naiknya berbagai saprotam serta cost energy yang pada akhirnya management yang lebih ketat serta efisiensi sangat penting untuk menekan biaya produksi udang yang saat ini trend-nya makin meningkat.

“Perlu manaikan level pemeliharaan dari tradisional menjadi intensif dan terus update perkembangan teknologi di sektor budidaya udang,” tandas Nasiruddin.

Aquacultur Advisor/Tim Teknis Shrimp Club Indonesia (SCI), Suprapto menuturkan, kondisi budidaya udang saat ini, sedang banyak dihadapkan pada masalah penyakit terutama Vibriosis, (WFD), (MYO) dan (WS).

“Banyak petambak yang gagal, hasil panen (produksi) rendah sehingga tidak menutup biaya operasional. Juga masa perubahan cuaca yang tidak menentu (ekstrim), masalah lain yakni kualitas air yang fluktuatif,” ungkap Suprapto.

Pasalnya, menurut General Manager PT. Kona Bay Indonesia, Ari Setiardhi, budidaya udang nasional saat ini masih bergelut dengan penyakit yang bisa mengganggu produksi udang di Indonesia secara umum dan pada umumnya disebabkan oleh pengelolaan lingkungan, kebijakan pemerintah, biosecurity dan distribusi benih.

“Diharapkan peran semua pihak agar masalah ini bisa kita atasi bersama untuk peningkatan produksi udang di Indonesia ke depannya,” kata Ari.

Ketersediaan Induk dan Kualitas Benur
Area Manager PT. INVE Indonesia, Ester Rumantiningsih menjelaskan, saat ini budidaya udang perlahan kembali stabil sehingga sedikit memberikan angin segar bagi petambak. Namun demikian, Ester menambahkan, budidaya udang saat ini sedang menghadapi banyak tantangan baik dari ketersediaan induk di hatchery maupun kualitas benur yang dihasilkan sehingga ketika ditebar di tambak.

“Banyak hal yang harus diperhatikan supaya udang bisa tahan terhadap tantangan penyakit maupun kondisi alam yang cukup fluktuatif,” ujar Ester.

General Manager Animal Health Service Central of Indonesiac PT Central Proteina Prima, Daniel M Nugraha masih cukup optimis walaupun sedang lesu akibat dihantam masalah penyakit seperti harga udang yang belum kembali normal dan harga bahan baku pakan yang tinggi dampak perang Rusia-Ukraina.

Dari PT. Pradipta Paramita Minatama, Fabiola Yana Pradipta mengatakan, saat ini budidaya udang nasional masih menjadi pekerjaan rumah bersama supaya lebih maju lagi. Dibutuhkan dukungan baik dari pemerintah, asosiasi, dan para pelaku usaha supaya bersama-sama menjadikan budidaya Indonesia lebih maju dan tetap sustainable hingga di masa mendatang terlebih menyoal pencegahan dan penanganan penyakit.

Dibalik berbagai macam tantangan budidaya udang, kata Rudy, tentunya rasa optimisme harus tetap ada untuk mencapai peningkatan produksi udang nasional. “Kerjasama seluruh stakeholder yang terkait dalam budidaya juga peran pemerintah sebagai pemegang regulasi dengan harapan memberi dukungan yang positif kepada pelaku budidaya untuk bersama dalam meningkatkan produksi udang nasional,” pungkasnya. (Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.