Tingkatkan Sinergitas, SCI Harus Berperan Aktif

Tingkatkan Sinergitas, SCI Harus Berperan Aktif

“SCI bisa menjadi wadah untuk solusi dari permasalahan dalam budidaya udang dan peningkatan roda perekonomian Indonesia,”

Demikian disampaikan Commercial and Technical Manager Benchmark Genetics, Dedy Safari meyambut terselenggaranya Musyawarah Nasional Shrimp Club Indonesia (MUNAS SCI) beberapa waktu lalu.

Munas SCI kelima sukses digelar, angin segar berhembus dari sektor perikanan budidaya Indonesia khususnya udang setelah hampir dua tahun terbelenggu pandemi covid-19. Munas kali ini dilaksanakan tiga hari yakni 23 – 25 Agustus di Grand City Convex, Surabaya.

Melalui rangkaian event Munas SCI kali ini, kata CEO Minapoli yang juga Panitia Munas SCI 2022, Rully Setya Purnama, terlihat bahwa pelaku usaha budidaya udang Indonesia masih memiliki antusias dan harapan yang sangat besar terhadap perkembangan industri udang di Indonesia.

Rangkaian Munas SCI mulai dari Pembukaan, Pameran, Munas, Seminar, Gala Dinner hingga Penutupan dapat berjalan dengan penuh energi, lancar dan sukses. Acara yang berlangsung selama 3 hari ini dibuka langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) Sakti Wahyu Trenggono.

Menurut Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Rudy kusharyanto, SCI dengan gebrakan di acara Munas-nya memberikan energi positif untuk mulai menggelar event besar berikutnya, baik nasional maupun internasional yang mampu menghadirkan seluruh stakeholder budidaya udang nasional ataupun internasional.

Total peserta atau pengunjung mencapai lebih dari 2.500 orang, yang sebagian besar diantaranya berprofesi sebagai petambak udang. Seminar budidaya udang yang dikemas dalam Indonesia Shrimp Farmers Day dan SCI Commercial Class juga mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi hingga melebihi kapasitas yang disiapkan.

Technical Support De Heus Indonesia Jateng Jabar Selatan dan Banten, Rizki Fajar Kurniawan menuturkan, acara SCI sangat membantu para petambak, terdapat pameran dari produk-produk sarana dan prasarana budidaya udang yang update, apalagi adanya shrimp farmer day yang berisikan materi-materi dari ahli bisa menambah wawasan para pelaku budidaya udang.

“Harapannya untuk munas selanjutnya bisa lebih antusias, yang bisa di jangkau petambak dari Aceh sampai Sulawesi dan Sumbawa,” tambah Rizki.

Marketing dan Sales Shrimp De Heus Indonesia, Achmad Nur Komari terkejut. Ia mengaku tidak menyangka pengunjung membludak dari hari pertama sampai penutupan. Animo dari pelaku Usaha budidaya udang, terlihat sangat antusias dan luar biasa.

Munas ini juga mengukuhkan Haris Muhtadi menjadi Ketua Umum SCI periode 2022-2027 yang meneruskan perjuangan 17 tahun Iwan Sutanto. Pada acara Munas SCI ini juga ditandantangani Nota Kesepahaman (MoU) antara SCI dengan KADIN, GPMT, AP5I & FKPUI (Forum Komunikasi Pembenihan Udang Indonesia) untuk saling membantu dan bersinergi dalam rangka peningkatan produktivitas, efisiensi dan keberlanjutan budidaya udang di Indonesia.

Rully berharap, SCI bisa terus menjadi lokomotif industri perudangan nasional melalui tata kelola organisasi yang semakin baik dan sinergi dengan stakeholder terkait mulai dari produsen induk, hatchery, pabrik pakan, pabrik pengolahan, logistik hingga institusi pembiayaan.

“Serta yang sangat fundamental adalah bagaimana SCI mempersiapkan SDM untuk mendorong perkembangan produksi dan keberlanjutan industri udang nasional,” tungkas Rully.

Head of Aqua Business Farmsco Feed Indonesia, Kasan Sentosa mengatakan, acara ini banyak memberikan informasi dari expert yang tentunya sangat bagus bagi kemajuan petambak dan udang nasional. Ia menambahkan, acara ini diharapkan bisa rutin setiap tahun, kedepannya juga bisa lebih terpromosi lagi agar lebih banyak peserta yang berpartisipasi terutama untuk produk yang belum ikut partisipasi baik dari lokal maupun luar negeri.

Senada dengan Kasan, CEO PT. Juara Biolife Solution, Ahmad Arif juga berharap acara semacam ini bisa digelar setiap tahunnya. Menurut Arif, selain untuk sharing mengenai teknologi dan keadaan budidaya saat ini, juga dapat dijadikan sebagai ajang temu para pembudidaya udang.

“Kesan yang didapat selama acara yaitu turut bahagia bisa bergabung di acara tersebut. Selain menambah pengalaman juga mendapatkan networking untuk dunia perikanan khususnya,” ujar Arif.

Anggota SCI, yang juga merupakan petambak, Wiwik Winarti mengatakan, Munas kali ini lebih semarak dan bertaraf internasional. “Saya mengikuti sebagian besar seminarnya, dan merasakan atmosfer internasional itu. Para speaker­-nya bermutu dengan materi presentasi sesuai perkembangan teknologi budidaya udang yang diharapkan oleh petambak di Indonesia,” ujarnya.

Trade show-nya meriah, ungkap Wiwik, ini bukti bahwa meskipun ada pandemi covid-19 selama dua tahun lalu, industri udang Indonesia tetap bergairah dan bangkit kembali.

Menurut Marketing Executive PT. Hidup Baru Plasindo, Yoppie Budiono, acara seperti ini harusnya bisa dilaksanakan secara berkala dan rutin setiap tahun demi memperat silaturahmi dan juga update pengetahuan bagi semua pihak sehingga kondisi perekonomian nasional khususnya tambak udang bisa semakin maju dan berkembang.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Boyun Handoyo, berharap SCI tetap konsisten menyelenggarakan event yang dapat menarik stakeholder serta memberikan informasi teknologi terkini seputar budidaya udang dan diagendakan secara berkala.

Saling Bersinergi
Area Manager PT. INVE Indonesia, Ester Rumantiningsih mengatakan, Munas SCI menjadi momentum yang bagus untuk bertemu, berkomunikasi dan berdiskusi para stakeholder budidaya udang. Dari Munas ini, tambah Ester, SCI harus bersinergi dengan segala pihak ataupun stakeholder lain untuk meningkatkan kemampuan petambak dan membantu petambak demi kelangsungan budidaya udang kedepannya.

Senada dengan Ester, Boyun mengatakan, sinergitas SCI kedepan bisa bekerja sama dengan dunia akademisi sehingga bisa menarik perhatian generasi penerus perudangan nasional misalnya penyelenggaraan kegiatan lokasinya mendekat dengan universitas yang memiliki fakultas perikanan.

Ketua Forum Udang Indonesia (FUI), Budhi Wibowo pun demikian. Menurutnya, pengurus SCI yang baru terpilih bisa semakin meningkatkan kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan industri udang dari hulu hilir untuk meningkatkan produksi udang nasional yang berkelanjutan.

Jadi Wadah Aspirasi
SCI merupakan wadah dari para pengusaha, penggiat serta stakeholder yang berhubungan dengan budidaya udang. Meskipun belakangan berdiri dibandingkan dengan wadah yang serupa sebelumnya, namun sudah memiliki struktur yang cukup baik dengan adanya ketua dan seksi-seksi pada masing-masing wilayah.

Dengan lengkapnya susunan organisasi yang ada, sangat bisa mengcover seluruh dinamika dalam budidaya yang ada dan bila dikumpulkan dengan pertemuan nasional (Indonesia) maka pemetaan problem akan didapat.

Mengkerucutnya pemetaan problem yang ada akan memudahkan penyelesaian tentu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya. Masalah yang sudah dapat diselesaikan merupakan efek domino dengan meningkatnya produksi udang.

Menurut SM. Ops & Data Analyst PT DELOS Teknologi Maritim Jaya, Paian Tampubolon, SCI harus memperhatikan dinamika yang terjadi pada tambak-tambak semi intensif yang umumnya dikelola oleh masyarakat dan menjadikannya sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kehidupan. Pada level ini, tambah Paian, masih sangat terasa belum optimal sentuhan dari pihak manapun sehingga terjadi banyak tambak mangkrak yang menjadikan lahan-lahan terlantar.

“Menurut saya besar harapan SCI dapat menghidupkan kembali dan menyelesaikan problem ini karena mereka memiliki pengurus wilayah. Hal-hal yang dapat dilakukan berupa mengedukasi para petambak tentang cara berbudidaya yang baik saat ini, misalnya membentuk kelompok cluster dalam rangka menata layout dan penerapan sistem operasional budidaya terkini,” jelas Paian.

Senior Marketing PT. Windu Alam Sentosa, Iwan Basuki mengatakan, sebagai organisasi tempat berkumpulnya para pembudidaya udang di Indonesia, diharapkan SCI menjadi tempat setiap pembudidaya udang di Indonesia untuk mengikuti dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan industri udang baik di Indonesia maupun di dunia.

“Semoga dengan terpilihnya ketua umum yang baru, SCI tetap membumi dan menyentuh petambak-petambak kecil serta menjadi penyambung aspirasi para petambak di daerah masing-masing,” jelas Iwan.

Technical Aquaculture Aquacell Indo Pasifik, Ahmad Yazid Latif mengatakan, selain menjadi wadah silaturahmi antara stakeholder budidaya udang, acara semacam ini tentunya bisa menjadi kesempatan terciptanya ide-ide dan inovasi baru yang dapat menjadikan ekosistem pertambakan di Indonesia menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya.

Isi munas sangat menarik, ungkap Direktur Riz Samudera, Siti Asiyah yang lebih akrab disapa As, antara lain penjelasan peluang pasar udang eksport yang masih prospek. Ia menambahkan, penjelasan pada acara seminar sangat lengkap, mulai dari breeding, brodstock, penyakit udang serta penjelasan sistem operasional produksi budidaya udang.

“Sebagai organisasi udang, SCI harus bisa merangkul petambak kecil sehingga bisa bersama-sama memajukan pembudidaya dan meningkatkan hasil budidaya udang,” tambah As.

SCI Harus Berperan AKtif
Kegiatan pameran dan seminar jadi daya tarik rangkaian acara Munas SCI kali ini, berbagai teknologi dan produk seputar budidaya udang turut dipamerkan. Acara seminar membahas beberapa materi kajian, mulai dari hulu sampai ke hilir, diantaranya tentang cara budidaya, teknologi aplikatif misal tambak bulat sistem modular, penerapan biosecurity, peningkatan penggunaan tandon, penyediaan benih resisten penyakit dan fast growth, terbukanya peluang pasar udang vaname saat ini di negara Eropa, Amerika, dan China.

Boyun menuturkan, kebutuhan China saat ini disuplai dari Amerika Latin (Ekuador) sehinga perlu didorong untuk Indonesia agar bisa bersaing mengisi pasar China dengan pertimbangan logistik yang lebih dekat.

Pada kesempatan ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui BPBAP Situbondo, BPIUK Karangasem, BBPBAP Jepara dan Direktorat KKI juga ikut berperan serta meramaikan Munas SCI dengan membuat pameran dengan beberapa tema yang ditampilkan seperti, Milenial Shrimp Farm (MSF), Digitalisasi Tambak Udang, Pakan Udang Mandiri, Produksi Induk Udang Unggul dan Pembuatan Shrimp Estate (Kawasan Budidaya Udang Terintegrasi).

Boyun mengatakan, dalam waktu dekat sebaiknya SCI mempererat kekompakan semua stakeholder udang Indonesia dengan menjalin sistem komunikasi yang terbuka dengan berbagai pihak dalam peningkatan SDM, infrastruktur, modal usaha, teknologi budidaya dan pasar.

Kemudian, tambah Boyun, harus bekerjasama dengan pemerintah membuat kawasan-kawasan budidaya udang terintegrasi dari hulu ke hilir untuk menjamin keberlanjutan budidaya dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Sebagai organisasi budidaya udang, Boyun menghimbau, agar SCI dapat berperan menjaga lingkungan untuk keberlangsungan budidaya udang vaname. Selain itu, SCI harus bisa mengayomi petambak dengan mengawal regulasi dan melindungi petambak terkait isu pencemaran lingkungan.

“Hal tak kalah penting juga, dengan semakin cepatnya perkembangan penyakit di budidaya udang vaname saat ini, SCI lebih berperan aktif dalam menyampaikan sosialisasi teknologi aplikatif yang mudah diterapkan oleh pembudidaya,” jelas Boyun.

Kolaborasi
Menurut Sales Manager Indonesia Aker Biomarine, Bawanta Widya Suta yang lebih akrab disapa Wanta, acara SCI ini luar biasa menarik. Interaksi antara petambak dan partner sangat sinergis dengan semangat maju bersama yang sangat terasa. Semoga acara SCI kedepan bisa lebih baik, lebih meriah dan lebih besar.

Untuk Munas, kata Sales and Technical Manager Skretting Indonesia, Suhoiri Syukri, saya melihat animo peserta sangat luar biasa, ditandai dengan kehadiran peserta yang banyak (lebih 1000 orang), dengan booth pameran yang full dan aneka produk sarana produksi dari pakan, saprotam, plastic HDPE, kincir, dll.

Lanjutnya, semoga dengan terpilihnya pengurus baru, SCI terus berkembang kuat dan memberikan support nyata untuk pertumbuhan bisnis udang di Indonesia. Semoga SCI bisa merangkul semua stakeholder perudangan di seluruh Indonesia.

Berharap kepengurusan SCI yang baru, tambah Sekretaris Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, Hari Julianto, bisa melanjutkan dan terus mengembangkan budidaya udang, terutama merangsang pasar luar negeri agar pertumbuhan produksi udang di dalam negeri bisa masuk ke pasar luar negeri.

“Munas SCI sekaligus pameran menjadi forum besar pertama pelaku budidaya udang Indonesia pasca pandemi. SCI menjadi penghubung stakeholder udang Indonesia dengan akademisi, peneliti, dan Pemerintah,” pungkas Kepala Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem-Bali, Wendy Tri Prabowo. (Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.