Fermentasi SSF, Tingkatkan Performa Pakan

Ilustrasi: Pembuatan pakan (Agromedia)

Teknologi pakan ikan/udang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama dari kandungan nutrisi. Namun demikian, sampai saat ini masih mengalami kendala dalam efisiensi pakan. 

“Sekitar 70—80% pakan yang diberikan menjadi limbah atau hanya 20—30% yang dikonversi menjadi daging ikan/udang,” ungkap Supono, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lampung. 

Menurutnya, pakan terfermentasi (fermented feed) bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan efisiensi pakan dan kesehatan. Pakan ikan yang difermentasi akan memudahkan ikan mencerna makanan karena senyawa kompleks seperti karbohidrat dan protein yang ada sudah  mengalami katabolisme menjadi senyawa yang sederhana, misalnya glukosa dan asam amino. Apalagi untuk udang yang memiliki pencernaan yang sederhana.

Pakan terfermentasi kaya mikroorganisme atau probiotik yang memiliki efek imunostimulan. Imunostimulan ini berfungsi merangsang imunitas nonspesifik pada ikan/udang. Selain meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dan imunitas ikan, kandungan bakteri probiotik yang tinggi meningkatkan daya cerna karena senyawa komplek sudah diuraikan menjadi senyawa sederhana, kaya vitamin B1, B6, B9, C, K, serta mineral seperti mangan, kalsium, kalium, magnesium, fosfor, dan besi.

Mikroorganisme yang berperan penting dalam pembuatan pakan terfermentasi adalah Saccharomyces cerevisiae (ragi roti) dan Rhizopus oligosporus (ragi tempe). Saccharomyces cerevisiae membantu memecah bahan karbohidrat, sedangkan Rhizopus oligosporus akan membantu memecah bahan protein yang terkandung dalam pakan.

“Fermentasi dapat juga dilakukan untuk bahan pembuatan pakan. Dalam hal ini, fermentasi akan meningkatkan nilai nutrisi bahan pakan seperti meningkatnya kandungan protein.  Tepung kepala udang yang difermentasi akan  meningkat kandungan protein, kalsium, fosfor, dan profil asam amino,” terang Supono. 

Artikel Populer:  Kupas Gizi Pakan Ikan Air Laut

Minim Penggunaan Air

“Fermentasi pakan dikenal luas penggunannya pada peternakan ayam, sapi, babi, dan perikanan. Jenis fermentasi yang digunakan berupa SSF (Solid State Fermentation) atau di Jepang dikenal sebagai fermentasi sistem KOJI, di mana fermentasi dilangsungkan pada kadar air rendah (20—30%),” terang Nunung T. Nugroho, Head of Sales Shrimp Feed PT Suri Tani Pemuka.

Secara fisik, fermentasi pakan dengan metode SSF berbeda dengan sistem WSF (Wet Submerged Fermentation) karena hanya melibatkan penggunaan cairan sedikit atau setara 20—30% air sehingga tidak merusak tekstur fisik pakan. Enzim pektinase dari probiotik, terutama dari genera jamur, mengubah selulosa menjadi pektin, yang bertekstur gel seperti agar-agar atau alginat yang menyelimuti permukaan pelet pakan. Dengan begitu, hingga saat ditebar ke air kolam, water stability pakan fermentasi masih terjaga dengan baik.

SSF menggunakan probiotik jamur, ragi, dan bakteri. Penggunaan ketiga mikroorganisme tersebut di antaranya untuk: (1) meningkatkan kadar protein (pembentukan PST = Protein Sel Tunggal); (2) meningkatkan kadar asam amino Phenylalanine, Tyrosine, Lysine; (3) menurunkan kadar asam amino Aspartate, Arginine, Glutamate; (4) pembentukan asam organik (asam laktat, asam asetat); (5) menurunkan bahan pakan anti nutrisi (β-conglycinin dan glycinin); (6) pembentukan enzim ekstrasesuler (protease, amilase, tannase, lipase, pectinase); (7) pembentukan aroma dan rasa serta enzim xylanase dan phytase; serta (8) mengikat ammonium dan fosfat menjadi bentuk polimer organik.

Keunggulan dan Kelemahan

Pada dasarnya, fermentasi pakan ikan atau udang memanfaatkan bahan bahan campuran yang terdapat pada pakan berupa tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, selulosa, lemak, dan fiber. Penggunaan bahan tambahan untuk fermentasi berupa herbal, molase atau cacing tanah juga bisa dilakukan. Probiotik yang digunakan berupa inokulan Bacillus spp, Lactobacillus spp, Saccharomyces spp, Aspergillus spp, Trichoderma spp dan Enterococcus spp.

Terdapat keunggulan dan kelemahan pada aplikasi pakan fermentasi. Beberapa keunggulannya antara lain mengurangi penggunaan tepung ikan pada formulasi pakan dan menggantinya dengan SBF (Soy Bean Fermented). Pakan yang digunakan bisa menggunakan pakan dengan kadar protein rendah. Hal ini disebabkan fermentasi akan menaikkan kadar proteinnya.

Artikel Populer:  Budidaya Bawal Bintang, Lebih Efisien dengan Pakan Campuran

Asam organik yang terbentuk selama fermentasi mencegah pertumbuhan mikroba yang merugikan dan mencegah pembentukan aflatoksin di pakan selama fermentasi berlangsung. Selain itu, asam organik juga bersifat imunostimulan untuk ikan atau udang.

Pencucian (leaching) ammonium dan posfat dari pakan dapat dicegah. Hal ini disebabkan kedua zat tersebut telah berubah menjadi senyawa kompleks organik. Tingkat kecernaan pakan meningkat sehingga bisa menekan FCR. Selain itu, pakan fermentasi mencegah kerusakan hepatopankreas udang, terutama pada stadia awal budidaya (DOC 1—30) karena dapat mengurangi kadar β-conglycinin dan glycinin.

Adapun kelemahan dari aplikasi pakan fermentasi di antaranya memerlukan pengerjaan tambahan sebelum pakan bisa digunakan (72—96 jam); memerlukan ruang dan peralatan tambahan; berisiko terkontaminasi saat pra-fermentasi, baik dari operator maupun kebersihan ruang dan alat; instabilitas hasil fermentasi akibat piranti dan kondisi ruang fermentasi sederhana di tambak; serta tidak adanya quality control terhadap bibit starter inokulan probiotik yang digunakan.

Secara umum, pengaruh fermentasi pakan pada udang dapat meningkatkan daya cerna pakan, mempercepat pertumbuhan, menekan FCR, dan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Hal ini disebabkan adanya asam organik dan kolonisasi probiotik di saluran pencernaannya.

Artikel Populer:  Pakan Fungsional dalam Akuakultur

Adapun pengaruh fermentasi pakan pada lingkungan tambak berupa pengurangan eutrofikasi perairan dari nitrogen dan fosfor. Keduanya mudah tercuci dari pakan reguler ke dalam air kolam dan terbuang ke lingkungan. “Dengan catatan, fermentasi pakan terkontrol dengan baik dari segi kualitas inokulan, peralatan, dan teknologi fermentasinya. Alangkah baiknya jika fermentasi pakan atau bahan baku pakan dilakukan secara lebih terkontrol di pabrik pakan dan dapat menjadi varian produk berupa functional feed-nya pabrik pakan,” pungkas Nunung. (Rochim/Adit)

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Tak selalu pakan tinggi protein akan memacu pertumbuhan dan menghasilkan keuntungan lebih besar. Faktanya, dengan
  Sebelum membeli atau membuat pakan sendiri, perhatikan kandungan gizi di dalamnya agar ikan atau
Induk udang membutuhkan kandungan nutrisi lebih untuk proses pematangan sel telur dan juga sperma. Terlebih
Pada saat tertentu pakan ikan membutuhkan zat pakan atau non pakan agar ikan menunjukkan hasil
Siasati harga pakan yang tinggi, pembudidaya ikan nila gilir pemberian pakan komersial dengan pakan alternatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.