Manfaat Spirulina Untuk Pakan Udang

Kandungan nutrisi yang begitu lengkap, dengan potensi mikroalga ini yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional dan sumber pewarna alami.

Spirulina merupakan alga hijau biru yang dapat ditemukan pada perairan tawar maupun asin. Mikroalga ini telah lama digunakan sebagai sumber bahan makanan dan merupakan salah satu sumber makanan alami paling potensial baik untuk hewan dan manusia.

Sebagai bahan pangan fungsional dan pemanfaatannya ke dalam makanan manusia (level food grade) memerlukan standar yang tinggi dalam proses pembuatannya. Sehingga menyulitkan bagi usaha rumah tangga untuk dapat memenuhi kriteria tersebut. Kriteria produk dengan standar yang tidak tinggi (level feed grade) dapat memberikan peluang pasar yang besar bagi usaha rumah tangga.

Perekayasa Madya, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Lisa Ruliaty mengatakan, Unit Pembenihan Udang di BBPBAP Jepara selama 3 (tiga) tahun terakhir telah memanfaatkan fungsi Spirulina sebagai bahan pengkaya pada pakan segar bagi induk udang windu maupun sebagai pakan tambahan dalam pemeliharaan benih windu dan vaname.

Ia melanjutkan, hasil tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi peningkatan fekunditas induk udang windu dan peningkatan sintasan benih.  Ditingkat pembudidaya ikan, khususnya pembibitan ikan hias pemanfaatan tepung Spirulina telah banyak digunakan yang dapat meningkatkan kecerahan warna bagi ikan hias.

Namun sayangnya, kata Lisa, produk tepung Spirulina yang di pergunakan di tingkat pembudidaya ikan kebanyakannya merupakan produk import dari India dan Cina. Teknologi produksi tepung Spirulina secara sederhana perlu lebih dikembangkan di tingkat pembudidaya ikan sehingga dapat secara mandiri menyediakan kebutuhan pakan tambahan bagi mereka.

“Produksi tepung Spirulina secara sederhana merupakan rangkaian kegiatan mulai dari kultur, pemanenan hingga pengeringan dengan lemari pengering sederhana. Kegiatan ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga dengan menggunakan media kultur air tawar maupun air payau,” ujar Lisa.

Terapkan Prosedur Operasional Standar (POS)

Untuk mendapatkan sel Spirulina sebagai bahan baku tepung, terlebih dulu dilakukan kultur di bak beton, bak fiber, kolam terpal, ember maupun galon air dengan volume media menyesuaikan dengan sarana yang ada.

Lisa menjelaskan, proses kultur meliputi persiapan alat dan bahan, pemupukan dan inokulasi bibit hingga perawatan kultur. Mempersiapkan salinitas kultur Spirulina pada salinitas 12 – 15 ppt dengan penambahan NaCl sebanyak 0,8 g/l bila kultur dilakukan pada media air tawar dan penambahan air tawar bila kultur dilakukan pada media air laut.

Air media kemudian di sterilisasi dengan pemberian chorine sebesar 30 ppm.  Setelah 24 jam, media dinetralisasi dengan natrium thiosulfate sebanyak 10 – 15 ppm. Air media yang telah netral baru dapat dipergunakan sebagai media kultur Spirulina.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia untuk menumbuh kembangkan sel yaitu, Urea (80 ppm), SP-36 (40 ppm), ZA (20 ppm),  EDTA (5 ppm) ,FeCL3(1  ppm) dan Vit.B12(0,001 ppm).   Pupuk dilarutkan dengan air dan setelah larut di masukkan ke dalam media kultur.

Pemberian bibit untuk kultur Spirulina dengan kepadatan awal >10.000 sinusoid/ml. atau 10% – 20% dari volume media kultur dilakukan setelah pemupukan. Intensitas cahaya matahari yang masuk berkisar 3.000 lux (12 jam terang:12 jam gelap). Pengadukan terhadap kultur dilakukan dengan pemberian aerasi.

Hasil pengamatan terhadap produk pasta dan tepung Spirulina yang dikultur pada media volume 10 m3 dapat dilihat pada Tabel 1. Dari delapan kali kultur skala massal pada volume 10 m3  memberikan hasil produk pasta yang bervariasi, hal ini di karenakan kepadatan sel yang berbeda pada saat panen.

Rerata berat produk pasta yang di hasilkan adalah sebesar 4.603 g ± 1.903 g yang akan menghasilkan produk tepung sebanyak 567 g ± 248 g.  Bila di konversi, maka setiap 1 liter kultur Spirulina akan menghasilkan tepung Spirulina sebanyak 0,06 g.

Hasil analisa proximat terhadap produk tepung Spirulina yang di hasilkan dengan lemari pengering sederhana menunjukkan kandungan protein yang  tinggi yaitu 63,44 % berat kering serta kandungan asam lemak esensial Eicosapentaenoic acid(EPA) sebesar 0,0013 %b/b dan Docosahexaenoic acid (DHA) sebesar 0,0002 %b/b.

“Kandungan protein yang tinggi pada produk tepung memberikan banyak keuntungan bagi pengguna di dalam pemanfaatannya. Hasil analisa proximat secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2,” ujar Lisa.

Pemanenan dan pengeringan

Dalam tahap pemanenan, Lisa mengatakan, pemanenan dilakukan ketika sel Spirulina berada pada fase pertumbuhan, peralatan panen yang digunakan berupa plankton net dan saringan dengan meshsize 30 mikron yang di jahit menyerupai kantong.

Pada wadah bak beton atau bak fiber, saringan tersebut diikat pada lubang pembuangan fiber yang sudah dilengkapi kran, kemudian kran di buka sampai Spirulina yang ada di bak habis. Atau dapat juga dengan menggunakan pompa celup untuk mempercepat proses pemanenan sel.

Pemanenan dengan cara menyaring menggunakan saringan dari kain satin lebih mudah dilakukan karena bentuk sel Spirulina yang berbentuk filamen atau benang dengan sel berpilin yang berbentuk seperti spiral dengan ukuran sel yang lebih besar di bandingkan dengan jenis fitoplankton yang lainnya.

Biomasa yang didapatkan kemudian dibilas dengan air tawar sebanyak 2-3 kali untuk mereduksi komponen media kultur. Biomas yang terkumpul selanjutnya dapat disebut dengan pasta atau jel. Pasta dapat di simpan pada freezer selama seminggu atau langsung di lakukan proses pengeringan untuk produksi tepung Spirulina selanjutnya.

Untuk proses pengeringan, pasta ditimbang terlebih dulu dan kemudian ditipiskan di atas loyang yang dilapisi plastik mika untuk proses pengeringan. Ketebalan biomasa Spirulina diatur pada ketebalan maksimal 0,5 cm atau diatur sebanyak 100 g pada tiap plastik.

Biomasa Spirulina yang telah di tipiskan kemudian di tempatkan pada lemari pengering sederhana untuk proses pengeringan. Lemari pengering sederhana yang dipergunakan dapat dibuat sendiri dari lemari triplek yang dilapisi dengan styrofoam.

Lemari pengering sederhana tersebut telah dilengkapi dengan lampu bohlam 40 watt sebanyak 8 buah dan exhause fan untuk pengeluaran udara panas dari lemari tersebut. Suhu ruangan pada lemari pengering di atur pada suhu  600C.

Lemari pengering juga telah dilengkapi dengan alat timer otomatis yang dapat mengatur suhu lemari pengering pada suhu 60 oC selama proses pengeringan berjalan. Biomasa Spirulina akan kering  dalam waktu <24 jam dengan menggunakan lemari pengering tersebut.

Spirulina yang telah kering berupa lempengan kemudian di ambil dan selanjutnya dilakukan penimbangan. Proses penepungan dari Spirulina yang telah kering dilakukan dengan peralatan sederhana yaitu dengan menghalusnya menggunakan mesin blender dan selanjutnya dilakukan penyaringan untuk mendapatkan butiran tepung yang lebih halus.

“Tepung Spirulina halus tersebut kemudian disimpan menggunakan aluminium foil dan di vacum siller supaya kedap udara sehingga dapat tahan lama dan tidak berjamur,” jelas Lisa.

Tabel 1. Hasil analisa Proximat Produk Tepung Spirulina

No. Komposisi % berat kering
1. Air 5,76
2. Abu 7,57
3. Lemak 1,65
4. Protein 63,44
5. Serat 2,16
6. BETN 19,42

Aplikasi Teknologi

Teknologi ini telah diaplikasikan pada pelaku pembibitan ikan hias dan ikan lele di Kab. Bandung dan Kab. Purworejo dengan melakukan modifikasi pengeringan pasta Spirulina.  Pengeringan dilakukan secara langsung dibawah sinar matahari dalam ruangan tertutup beratap transparan.

Produk pasta dipergunakan dalam media kultur pembibitan ikan, sedangkan tepung yang dihasilkan di pergunakan sebagai campuran didalam pakan pembibitan ikan hias maupun pembesarannya.

Menurut Lisa, teknologi yang diterapkan memiliki keunggulan seperti kultur Spirulina dapat dilakukan dengan menggunakan wadah bak beton, bak fiber, kolam terpal, ember maupun galon dengan volume media kultur menyesuaikan dengan sarana yang ada. Teknologi ini sederhana, ungkap Lisa, mudah untuk dilakukan baik oleh pembudidaya ikan maupun masyarakat luas dan dapat dikelola di skala rumah tangga, tidak membutuhkan modal yang besar, dan prospektif untuk dikembangkan karena memiliki peluang pasar yang besar di level feed grade. (Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *