Harapan Besar itu Ada Pada Bang Edhy

Harapan Besar itu Ada Pada Bang Edhy

Cocon, S.Pi, M.Si

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI

Cocon, S.Pi, M.Si

Harus diakui selama 5 (lima) tahun terakhir yakni 2014 – 2019, Kementerian Kelautdan dan Perikanan (KKP) di bawah komando Susi Pudjiastuti telah menorehkan legacy, khususnya berkaitan dengan penegakan kedaulatan melalui pemberantasan illegal, unreported, unregulated fishing/IUU Fishing.

Fokus kebijakan lebih mengedepankan “fisheries as natural resources” yakni perlindungan sumber daya. Sebuah langkah bagus, namun satu hal yang masih belum optimal dan tentu jadi pekerjaan rumah ke depan yakni bagaimana menciptakan “fisheries as economic value” yakni mengoptimalkan nilai manfaat ekonomi yang ada (direct use value).

Nampaknya, pekerjaan rumah ini yang belum tuntas. Sebut saja kontrobusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya 2,6 % di tahun 2018. Ini saya kira yang ditangkap Presiden Jokowi di perode Pemerintahan yang ke dua ini. Secara eksplisit jelas dalam Visi Presiden, Jokowi ingin KKP mulai fokus menggarap manfaat ekonomi terutama dengan mulai fokus pada pengembangan industri akuakultur yang inklusif.

Memang sebelumnya sub sektor akuakultur seolah belum mendapat tempat khusus sebagai prioritas kebijakan nasional. Dengan menyimpan potensi yang luar biasa besar, diperkirakan nilai ekonomi mencapai 251 milyar USD per tahun, mestinya sub sektor ini tidak hanya jadi tanggungjawab sektoral semata, namun menjadi tanggung jawab lintas sektoral terkait.

Begitupun halnya dukungan politis harus lebih diperkuat. Itulah menjadi pertimbangan bahwa sudah saatnya akuakultur menjadi prioritas kebijakan nasional. Bila perlu Presiden mengeluarkan Perpres/Kepres khusus untuk percepatan industri akuakultur nasional yang inklusif.

Kini harapan dan semangat baru itu ada pada pundak Menteri KKP yang baru yakni Edhy Prabowo, atau lebih akrabnya Bang Edhy. Beliau memang memiliki 2 (dua) tugas khusus, namun maknanya luas. Pertama, menjaga dan memperbaiki hubungan dan komunikasi dua arah dengan seluruh stakeholder perikanan. Kedua, mengembangkan industri akuakuktur untuk penyediaan lapangan kerja dan penciptaan nilai tambah. Penulis kira, dua arahan di atas adalah kebutuhan konkrit yang harus diwujudkan dalam 5 (lima) tahun ke depan.

Pekerjaan rumah kedepan dalam upaya percepatan industri akuakuktur yang harus segera dibenahi, setidaknya ada 6 (enam) masalah mendasar yakni in-efisiensi produksi, tata kelola sistem produksi, produktivitas dan supply chain, pembiayaan,  perijinan dan investasi, dan pasar.

Perlu Arah Kebijakan yang Komprehensif dan Integratif

Ada 2 (dua) fokus yang harus jadi arah kebijakan akukultur 5 (lima) tahun mendatang yakni kebijakan yang komprehensif dan kebijakan yang integratif. Komprehensif artinya bahwa kebijakan harus menyentuh hal hal mendasar hingga makro terutama terkait pengelolaan sistem produksi dari hulu hingga hilir. Sedangkan integratif bahwa kebijakan harus menjamin adanya satu kesatuan mata rantai sistem bisnis, dengan tujuan utama menciptakan efisiensi.

Berdasarkan fakta riil, bahwa setidaknya ada 8 (delapan) langkah konkrit yang harus di dorong dalan upaya mengoptimalkan nilai ekonomi akuakultur dalam 5 (lima) tahun ke depan.

Pertama, perbaikan tata kelola sistem produksi terutama terkait penyediaan input produksi yang efisien yakni melalui pengembangan sistin logistik pakan dan benih nasional. Pakan dan benih adalah 2 (dua) input produksi yang keberadaannya harus terjamin baik dari mutu maupun kuantitas dan menjangkau seluruh sentral sentral produksi akuakultur. Tingginya biaya logistik karena disebabkan sistem logistik belum tertata dengan baik. Disisi lain, Pemerintah harus berupaya untuk menurunkan biaya cargo yang memberatkan. Perlu ada insentif khusus berkaitan dengan tingginya biaya cargo.

Kedua, pengembangan inovasi teknologi yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, adaptif, efisien, berbasis daya dukung, dan mampu memitigasi perubahan iklim dan lingkungan. Inovasi tersebut harus aplikatif dan terkoneksi dengan kebutuhan UMKM dan industri akuakultur. Teknologi seperti RAS harus terus di dorong untuk lebih memasyarakat.

Ketiga, menciptakan Integrated Aquaculture Business (IAB) berbasis pendekatan kawasan dan komoditas unggulan di setiap daerah. Konsep IAB yang efektif akan menjamin siklus bisnis yang efisien, bernilai tambah tinggi, memicu penyediaan lapangan kerja dan multiplier effect bagi pergerakan ekonomi. Konsep IAB bagi komoditas ekspor juga secara langsung akan meningkatkan daya saing ekspor yang selama ini masih kalah, penyebabnya efisiensi produksi yang memicu produk kita sulit bersaing.

Keempat, kepastian usaha melalui jaminan perlindungan kawasan akualultur dalam perencanaan ruang dan atau zonasi.

Kelima, reformasi perijinan usaha yang lebih ramah investasi. Beberapa keluhan pelaku usaha di daerah terkait birokrasi perijinan yang tidak efisien, dan tumpang tindih regulasi harus segera dituntaskan. Pemerintah haris mendorong deregulasi dan melakukan harmonisasi aturan/regulasi sehingga ramah investasi. Kebijakan omnibus law yang Presiden akan lakukan, harus juga didorong, sehingga berefek pada efesiensi birokrasi perijinan di bidang usaha akuakultur.

Keenam, perlunya mendorong bank mikro pelaku utama perikanan dengan bunga rendah dengan mempertimbangkan kemampuan pelaku utama terutama skala usaha kecil. Perlu ada insentif khusus untuk menekan suku bunga.

Ketujuh, memperkuat market intelligence dan diplomasi pasar khususnya dalam menurunkan tarif biaya masuk ekspor. Diplomasi pasar juga didorong untuk memperluas pasar ekspor, sehingga supply share kita meningkat. Standarisasi dan sertifikasi juga harus didorong untuk meningkatkan keberterimaan produk akuakultur.

Kedelapan, perbaikan supply chain dengan menciptakan pola tata niaga pasar yang efisien. Rantai distribusi pasar harus dipangkas dengan membangun interkoneksi dari hulu hingga hilir secara efisien.

Delapan poin langkah di atas setidaknya menjadi langkah konkrit yang bisa diwujudkan dalam 5 (lima) tahun mendatang ini. Melihat semangat baru yang dibawa Bang Edhy sejak beberapa hari resmi menjabat orang nomor satu di KKP, penulis optimis ditangan beliau industri akuakultur akan lebih maju dan memberikan efek kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Tentu kita harus bantu dan awasi semua.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *