Ketahui Kualitas Fisik Pakan, untuk Performa Budidaya

Oleh:

Widyatmoko

Kualitas fisik pakan berhubungan erat dengan proses produksi pakan. Proses produksi pakan yang baik dan stabil akan menghasilkan pakan dengan kualitas fisik yang baik.

Kualitas fisik pakan dapat menjadi indikator dari proses produksi pakan maka hal ini berpengaruh pada performa usaha budidaya.  Dari sejumlah indikator kualitas fisik pakan, sebagian besar berkaitan dengan tingkat kematangan bahan baku dalam proses produksi.

Tingkat kematangan bahan baku akan menentukan nilai kecernaan (digestibility) pakan, artinya bahan baku atau pakan yang dimasak dengan baik, dapat dicerna dengan lebih optimal oleh ikan atau udang.

Hal ini terutama sangat berarti bagi ikan yang saluran pencernaannya pendek seperti halnya udang.  Digestibility pakan juga bisa turun jika pakan “over cooked”, disamping itu beberapa vitamin akan rusak saat dimasak dengan suhu yang tinggi.

Pakan yang aromanya “hambar”, berwarna pucat dan mudah hancur kemungkinan proses pemasakkannya kurang baik, sehingga bahan bakunya tidak matang.  Akibatnya pakan lebih sulit dicerna.

Salah satu indikator dari pakan yang tidak dicerna dengan baik adalah pada feces yang dikeluarkan oleh ikan atau udang berwarna gelap dan masih mengandung sisa pakan.  Jika pakan tidak dicerna dengan baik maka nutrisi yang diserap oleh ikan atau udang tidak mencukupi kebutuhannya sehingga pertumbuhannya jadi lambat.

Pada jenis-jenis ikan tertentu (seperti nila, lele, patin) ikan akan terlihat selalu lapar.  Kondisi ini cenderung pemberian pakan ditambah, tapi karena pertumbuhan ikan tidak optimal maka efisiensi pakan jadi rendah.

Pakan yang aromanya agak asam atau “apek” sebaiknya tidak digunakan lagi sebab dapat mengganggu kesehatan ikan atau udang.  Racun yang terdapat dalam jamur (mycotoxin) dapat mengurangi nafsu makan ikan, menurunkan laju pertumbuhannya bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Demikian juga jika pakan baunya apek atau tidak segar.  Senyawa bahan baku yang sudah lama disimpan akan mengalami perubahan kimiawi sehingga mengganggu kesehatan ikan atau udang.

Pakan yang mengandung banyak debu seringkali dikeluhkan oleh konsumen karena debu yang masuk ke kolam budidaya tidak dimakan oleh ikan/udang dan akan mencemari air kolam budidaya.  Disamping itu debu juga mengganggu feeder pada saat menebarkan pakan ke dalam kolam.

Debu yang ditiup angin dapat masuk ke mata dan hidung feeder, dan hal ini sangat mengganggu bagi feeder.  Pakan yang berdebu biasanya juga mudah hancur dalam air (water stability rendah), sehingga tidak dimakan oleh ikan atau udang.  Hal ini akan mengakibatkan kualitas air cepat rusak, sehingga kesehatan ikan atau udang dapat terganggu, efisiensi pakan turun karena debu tidak dimakan oleh ikan atau udang, pemberian pakan tidak cermat sebab feeder terganggu oleh debu.

Penting bagi kita untuk memperhatikan dan menyadari bahwa kodisi fisik pakan berhubungan erat dengan proses produksi pakan, dan hal ini secara langsung akan mempengaruhi kualitas pakan yang diberikan pada ikan atau udang yang kita pelihara.

** Penulis, menempuh pendidikan S1 di IPB dan S2 di AIT dalam bidang akuakultur.  Pernah bekerja di BBAP Jepara (1988 – 1994) dan PT. Suri Tani Pemuka (1994 – 2021) sebagai Plant Manager, Head of R&D, Head of Freshwater Technical Support dan Head of Freshwater Fish Hatchery.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.