Kolam Bundar Geomembrane, Solusi Budidaya Lahan Terbatas

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi, mulai dari hasil darat hingga laut, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dengan sumber daya yang melimpah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dari melimpahnya hasil alam yang dimiliki Indonesia, pembudidayaan perairan menjadi salah satu yang banyak diminati dan memiliki potensi nilai ekonomi yang besar. Sudah banyak contoh hasil budidaya perairan ini yang menjadi komoditas besar untuk di kembangkan seperti lele yang menjadi salah satu bahan makanan favorit masyarakat ataupun udang vaname yang mana pada tahun 2013 Indonesia menempati posisi terbesar kedua di dunia untuk produksi udang vaname dan masih banyak komoditas lainnya yang tersebar di Indonesia.

Untuk menghasilkan hasil yang maksimal dalam proses pembudidayaan perairan, sarana dan prasarana menjadi hal wajib yang diperhatikan karena akan menjadi tempat tumbuh dan berkembang biak hewan yang dibudidayakan dan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan hasil panen.

Saat ini, terdapat 2 jenis tambak yang banyak digunakan masyarakat untuk berbudidaya yaitu penggunaan kolam konvensional yang harus mengeruk tanah dan penggunaan kolam di atas tanah, tentu kedua jenis kolam tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing

Kolam konvensional biasanya banyak digunakan pada skala pembudidayaan yang relatif besar karena hasil panen yang dihasilkan dengan menggunakan sarana kolam ini lebih banyak dibandingkan menggunakan kolam bundar.

Pembudidayaan yang menggunakan kolam konvensional membutuhkan lahan yang lebih luas dari pada kolam bundar, ini membuat proses pembuatan akan lebih rumit dan biaya tentu jauh lebih mahal dari pembuatan kolam bundar.

Terdapat 4 jenis kolam konvensional yang banyak ditemui digunakan di Indonesia yaitu kolam tradisional yang hanya menggunakan alas tanah, kolam beton, kolam terpal dan kolam geomembrane.

  1. Kolam Tanah merupakan media kolam paling sederhana karena hanya membutuhkan pengerukan tanah tanpa memberi alas pembatas antara tanah dan air. Kelebihan penggunaan kolam ini adalah biaya pembuatan kolam yang lebih murah dibanding jenis kolam lainnya, tetapi kolam ini memiliki kelamahan karena rawannya hewan yang dibudidayakan memiliki aroma lumpur, karena tidak diberi alas, resiko kebocoran juga tinggi dan membuat perawatan dan pengurasan kolam menjadi lebih rumit.
  2. Kolam Beton merupakan salah satu jenis kolam pembudiayaan yang dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama. Karena dinding dan alas yang terbuat dari beton, membuat tingkat kebocoran akan lebih sedikit dibanding kolam tanah dan terpal, serta tingkat kematian hewan budidaya juga bisa lebih rendah. Namun pembuatan kolam beton sangat mahal, perawatan dinding yang retak juga lebih rumit dan juga mengeluarkan biaya yang lebih besar dibanding jenis kolam lainnya.
  3. Kolam Terpal biasanya adalah kolam tanah yang dilapisi terpal untuk memisahkan lapisan tanah dan air. Biaya pembuatan juga jauh lebih murah dibanding kolam beton, tetapi kolam terpal lebih mudah bocor yang berbahaya untuk hewan yang dibudidayakan, lapisan terpal yang mudah lapuk dan terkelupas juga membahayakan hewan yang dibudidayakan.
  4. Kolam Geomembrane menjadi jenis kolam yang paling direkomendasikan untuk pembudidayan pada kolam konvensional. Geomembrane diletakan sebagai alas pembatas antara tanah dan air sebagai media budidaya. Harga untuk pembuatan kolam geomembrane jauh lebih murah dibanding dengan pembuatan kolam beton dengan tingkat kebocoran yang sangat kecil, keawetan saat dijadikan alas kolam juga lebih awet dibanding menggunakan terpal karena lapisan geormembrane yang halus dan rata. Lapisan yang rata dan halus membuat proses perawatan juga lebih mudah dan murah.

Jenis kolam yang juga banyak digunakan adalah kolam bundar. Kolam ini banyak digunakan bagi pembudidaya yang ingin memanfaatkan keterbatasan lahan dengan berbudidaya hewan perairan. Di Indonesia, kolam jenis ini banyak ditemukan untuk pembudidayaan ikan air tawar seperti lele, nila hingga udang.

Kolam bundar geomembrane pada budidaya perikanan

Dibandingkan dengan kolam konvensional, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk pembutan kolam bulat jauh lebih hemat. Selain karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas, pembuatan kolam bundar ini hanya membutuhkan rangka berupa besi atau bambu yang nantinya diberi plastik sebagai alas dan media untuk berbudidaya.

Keuntungan lain dari penggunaan kolam bundar adalah kemudahan perawatan kolam bundar dibanding kolam konvesional. Selain karena media budidaya yang lebih kecil yang proses perawatan kolam akan jauh lebih mudah dan murah, pada saat pembuatan, dasar kolam dapat dibuat agak kerucut sehingga proses pembuangan kotoran akan lebih cepat yang membuat manajemen kualitas air lebih baik dan lebih mudah dikendalikan.

Kolam bundar juga lebih fleksibel yang membuat kolam dapat dipindah sewaktu-waktu kapanpun. Penggunaan metode Red Water System (RWS) ataupun Green Water System (GWS) juga akan lebih mudah diaplikasikan pada pembudidayaan dengan kolam bulat.

Penggunaan kolam bundar juga dapat disandingkan dengan budidaya tanaman dengan menggunakan metode akuaponik. Pennggabunagn akuaponik dan kolam bulat akan sangat menguntungkan, selain masyarakat dapat keuntungan tambahan, proses akuaponik yang ditanam di atas kolam bundar akan jauh lebih hemat dan menguntungkan karena proses perputaran air dan kotoran pada kolam bulat akan langsung disalurkan ke tanaman, yang mana bagi tanaman itu adalah pupuk alami yang baik untuk pertumbuhan dan untuk kolam bundar akan tetap terjaga kualitas airnya sehingga baik hewan yang dibudidaya dan tanaman saling mendapat keuntungan.

Seperti halnya kolam konvensional, kolam bundar saat ini masih banyak yang menggunakan terpal sebagai alas dan media untuk menampung air budidaya, padahal resiko penggunaan terpal sebagai media alas untuk budidaya sama beresikonya seperti penggunaan terpal pada kolam konvensional.

Rawannya kebocoran akan sangat berbahaya karena pengurangan air pada kolam bundar akan sangat berpengaruh pada hewan yang dibudidayakan yang sudah terbiasa dengan ekosistem sebelumnya. Selain itu juga kelupasan terpal yang selain membahayakan ikan juga membahayakan manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut. Pada akhirnya, pilihan penggunaan kolam konvensional ataupun kolam bulat kembali kepada individu masing-masing. Kedua kolam memiliki keuntungan dan kelebihannya masing masing yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memulai bisnis budidaya perairan. (Riana PT. KTG/Info Akuakultur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.