Nanobubble Generator, Tingkatkan Kadar Oksigen dalam Tambak

Nanobubble Generator, Tingkatkan Kadar Oksigen dalam Tambak

Oleh:

Ir. Ujang Komarudin, M.Sc

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Kabupaten Situbondo

 

Ujang Komarudin

Sektor perikanan budidaya di Indonesia saat ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, namun di dalam proses budidaya masih banyak kendala yang dihadapi seperti kondisi kualitas air yang buruk dan serangan patogen yang menyebabkan komoditi budidaya terkena penyakit sehingga berdampak terjadinya gagal panen di beberapa petambak.

Sistem budidaya udang vaname (L. vannamei) secara intensif dan supraintensif yang menggunakan padat tebar yang tinggi memberikan kenaikan produksi yang tinggi. Akan tetapi, hal ini mempunyai dampak kurang baik yaitu terjadinya penurunan kualitas air. Sehingga pertumbuhan udang akan terganggu dan menurunkan ketahanan tubuh terhadap infeksi penyakit serta menyebabkan kematian.

Salah satu agen penyebab penyakit yang sering menyerang budidaya udang adalah bakteri khususnya bakteri Vibrio sp. Salah satu parameter kualitas air utama untuk udang agar tumbuh dengan optimal yaitu tercukupinya suplai oksigen yang larut dalam perairan.

Karakteristik bakteri Vibrio sp adalah bersifat pathogen oportunistik, yaitu organisme yang dalam keadaan normal ada di lingkungan pemeliharaan yang berkembang menjadi pathogen apabila kondisi lingkungan dan inangnya memburuk. Dominasi dan kelimpahan bakteri Vibrio sp yang tidak stabil pada tambak menunjukkan kondisi yang berisiko terhadap masalah kesehatan udang.

Oleh karena itu, keberadaan bakteri ini harus senantiasa dipantau selama masa pemeliharaan melalui penghitungan jumlah Presumptive Vibrio Count (PVC) untuk mengetahui populasi bakteri Vibrio sp. Tingginya kerugian akibat infeksi bakteri Vibrio sp pada udang vaname menyebabkan perlunya penerapan teknologi budidaya yang lebih baik.

Melalui kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Perikanan Besar Air Payau (BPBAP) Situbondo, LIPI, dan Nanocenter membuat suatu terobosan baru dalam teknologi budidaya guna meningkatkan produktivitas budidaya dan serta memperbaiki kualitas air. Yaitu dengan mengaplikasikan teknologi nanobubble yang dapat meningkatkan DO secara signifikan.

Bubble Mill Generator atau Nanobubble dibawah perusahaan PT. Nanobubble Karya Indonesia merupakan teknologi yang dikembangkan dengan menerapkan teknik pencacahan gas yang tercampur dengan air bertekanan tinggi sehingga menghasilkan gelembung gas berukuran nanometer.

Nanobubble Generator menghasilkan gelembung oksigen 97,5% berukuran 70 nm & 2,5% berukuran 450 nm. Dengan gelembung berukuran nanometer, teknologi ini mampu meningkatkan kandungan oksigen terlarut di dalam air sehingga bisa memperbaiki kualitas air budidaya pada perikanan, tambak udang, hidroponik, dan aplikasi lainnya seperti water treatment, food processing, dan sebagainya.

Performa Nanobubble Generator dalam meningkatkan kadar oksigen terlarut sangat cocok diterapkan untuk budidaya supra tersebut.  Ukuran gelembung yang sangat kecil (nanometer) dapat meningkatkan difusi dan stabilitas gelembung oksigen di dalam air. Nanobubble dalam risetnya dapat bertahan pada 10 ppm selama rentang waktu 7 hari di air bersih dan tanpa organisme akuatik.

Teknologi nanobubble yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas budidaya. Sistem nanobubble, oksigen dalam perairan dapat tersedia dalam waktu yang lebih lama sehingga dapat menjaga kadar oksigen terlarut di perairan tetap stabil.

Jangkauan kincir (gelus.id)
Jangkauan Nanobubble (gelus.id)

Oksigen dalam bentuk nanobubble akan menangkap polutan tersuspensi dalam cairan dan mengambang ke permukaan. Polutan tersuspensi tersebut tidak seragam baik ukuran maupun bentuk. Gelembung dengan ukuran besar gagal untuk mengikat polutan, namun gelembung nano mampu menembus rongga kecil dalam kontaminan sehingga dapat membungkus padatan dan membuatnya terangkat.

Oksigen dalam air juga dibutuhkan untuk mengurai bahan organik yang menumpuk dalam air sehingga tidak terjadi peningkatan kadar ammonia yang menjadi ancaman bagi hewan akuatik. Adanya pengembangan teknologi nanobubble diharapkan mampu meningkatkan kualitas sistem budidaya dengan menjaga kondisi keseimbangan antara lingkungan, ikan/udang dan pathogen.

Saat ini Nanocenter, LIPI bersama KKP mengimplementasikan teknologi nanobubble ini di BPBAP Situbondo untuk komoditas udang vaname intensif, produksi induk udang secara terkontrol di dalam ruangan (indoor raceway), RAS kerapu, dan budidaya udang vaname supra intensif skala masyarakat.

Hasil dari implementasi nanobubble siklus pertama pada produksi induk udang dengan tipe kolam in door raceway menghasil SR yang lebih tinggi dengan total panen 3x lipat lebih besar  daripada kolam tanpa teknologi Nanobubble dengan padat tebar dan masa panen yang sama. Saat ini implementasi nanobuuble masih diterapkan pada siklus yang kedua.

Selain produksi induk udang, nanobuble juga diterapkan untuk pembesaran pada tambak beton luasan 800 m2 dengan padat tebar 2 kali lipat. Teknologi nanobuble ini mengahasilkan udang yang tahan dari penyakit karna pasokan oksigen yang optimal membuat kualitas air menjadi lebih stabil.

KKP, LIPI, Nanocenter, juga berkolaborasi bersama mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) menerapkan nanobubble ini dalam sistem Resiculating Aquaculture System (RAS) pada komoditas kerapu. Hasilnya teknologi nanobubble dapat meningkat oksigen terlarut lebih tinggi hingga 10 ppm sehingga napsu makan kerapu meningkat, efisiensi pakan lebih baik, bobot dan panjang lebih tinggi, serta konversi pakan lebih baik dibanding tanpa mesin Nanobubble, serta memotong masa pemeliharaan di penggelondongan (nursery).

Saat ini teknologi nanobubble terus dikembangan untuk membantu masalah besar dalam sektor perikanan. Sesuai dengan visi BPBAP Situbondo dan Nanobubble yaitu membuat petani ikan dan udang lebih bahagia. (Adit)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *