Manajemen Pakan Pada Pemeliharaan Larva Udang Vaname

Oleh :

Deni Aulia, S.Tr.Pi, S.P

Penyusun Rencana Ketenagaan, Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Taruna Mandiri 47

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wiratama 47

 

Jenis pakan yang diberikan pada larva udang Vaname selama proses pemeliharaan terdiri dari dua jenis yaitu pakan alami (fitoplankton dan zooplankton) dan pakan buatan (komersial). Jenis pakan alami yang digunakan adalah Chaetoceros ceratos dan Artemia salina. Pakan buatan diberikan pada larva untuk mencegah terjadinya kekurangan pakan selama pemeliharaan larva. Masing-masing makanan tersebut diberikan dengan jumlah dan frekuensi tertentu sesuai dengan stadia larva.

Larva udang Vaname pada stadia nauplius (mulai saat tebar sampai 3 hari) belum diberi pakan, karena pada stadia ini larva udang Vaname masih mempunyai persediaan makanan yaitu kantong kuning telur sebagai pensuplai makanan. Setelah nauplius berkembang menjadi zoea, larva mulai membutuhkan makanan, terutama makanan yang melayang-layang dalam air.

Manajemen Pakan Alami

Makanan utama larva udang Vaname dalam daur hidupnya adalah plankton, baik plankton nabati (fitoplankton) maupun plankton hewani (zooplankton). Namun di dalam air laut, banyak sekali dijumpai beraneka macam jenis plankton dengan beraneka ragam pula bentuk dan ukurannya. Tentu saja tidak semua jenis plankton tersebut dapat dijadikan pakan bagi larva udang, tetapi harus di sesuaikan dengan kondisi larva itu sendiri. Oleh karena itu, dalam memelihara larva udang perlu di pilih jenis plankton yang baik dan sesuai dengan kebutuhan larva.

Frekuensi pemberian algae dilakukan tiga kali dalam satu hari yaitu pada pukul 09.00, 15.00, dan 21.00 WIB. Jenis algae yang digunakan antara lain yaitu Skeletonema costatum, Tetraselmis chuii, Chaetoceros calcitrans, Chaetocerros muelleri dan Thalasiosira sp. Frekuensi pemberian algae dapat berubah sewaktu-waktu tergantung dari ketersediaan algae yang terdapat dalam media pemeliharaan. Dosis pemberian algae diberikan tergantung dari jumlah kepadatan algae yang tersisa dalam bak pemeliharaan, dimana pada tiap stadia terdapat standar pemberian pakan algae. Algae diberikan dengan cara mentransfernya menggunakan pompa yang telah dihubungkan dengan bak pemeliharaan larva. Setelah pemberian algae dilakukan, instalasi pipa dan selang yang digunakan untuk mentransfer algae disterilisasi menggunakan larutan formalin sebanyak 1000 ppm.

Artemia mulai diberikan pada saat larva memasuki stadia Mysis 2. Jenis artemia yang digunakan yaitu Artemia salina. Naupli artemia yang baru menetas diberi aerasi lalu diberikan untuk larva. Hal ini dilakukan agar naupli dalam penampungan sementara tetap dalam kondisi hidup. Sebelum diberikan, naupli artemia diberi larutan formalin sebanyak 5 ppm dengan cara menuangkan larutan formalin ke dalam ember 10 liter kemudian naupli artemia dicelupkan ke dalam ember kemudian ditampung di ember yang bervolume 50 liter dan diberi 2 titik aerasi.

Pemberian formalin tersebut bertujuan untuk mensterilisasi naupli artemia agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang terdapat pada cyste artemia. Selanjutnya naupli artemia diberikan menggunakan gayung dengan cara ditebarkan secara merata. Pemberian naupli artemia didasarkan pada standar jumlah pemberian naupli artemia yaitu sebanyak 3500 gram per satu juta ekor. Frekuensi pemberian pakan artemia yang terlalu sering akan mengakibatkan tingginya biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Selain itu, waktu yang digunakan kurang efisien.

Kultur Fitoplankton dan Zooplankton

Plankton jenis fito (algae) yang digunakan adalah Cheatocerros sp, Tetraselmis sp, dan Thalasiosira sp. Pakan alami akan diberikan pada stadia akhir nauplius sampai stadia akhir mysis. Frekuensi pemberian algae dilakukan tiga kali dalam satu hari yaitu pada pukul 09.00, 15.00, dan 21.00 WIB. Sebelum diberikan terlebih dahulu algae harus dikultur secara murni (indoor), semi massal (intermediate) serta massal (outdoor).

Zooplankton yang diberikan pada larva udang Vaname yang dibudidayakan adalah jenis Artemia salina. Pemberian artemia diberikan setelah mencapai stadia MPL (Mysis Post Larva) sampai  PL (Post Larva). Frekuensi pemberian Artemia sebanyak 3 kali dalam sehari yaitu pukul 09.00; 15.00; 22.00. Artemia sebelum diberikan ke bak pemeliharaan larva, terlebih dahulu harus dilakukan kultur. Kultur artemia didahului dengan melakukan kegiatan dekapsulasi. Dekapsulasi adalah proses pengikisan cangkang telur (cyste) artemia agar lebih cepat menetas saat dilakukan kultur.

Manajemen Pakan Buatan

Pakan buatan merupakan pakan yang sengaja dibuat oleh manusia yang kandungan nutrisinya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi larva. Dalam proses pemeliharaan larva udang Vaname, pemberian pakan buatan sangat berpengaruh dalam menunjang pertumbuhan larva.

Untuk menunjang hal tersebut, perlu dilakukan sistem pemberian pakan buatan yang tepat waktu, tepat jenis, tepat cara dan tepat guna. Pakan buatan sudah diberikan pada stadia zoea sampai dengan post larva. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pakan buatan adalah nutrisi, ukuran, dan kualitas fisik yang baik.

Gambar 3. Pakan buatan larva udang Vaname

Pakan buatan yang diberikan kepada larva udang harus memiliki kandungan nutrisi yang baik sesuai dengan kebutuhan larva untuk pertumbuhan. Kandungan nutrisi dilihat dari kandungan gizi di dalam pakan seperti kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, kadar air, dan mineral. Kandungan protein pakan buatan yang baik yaitu minimum 40% sedangkan kandungan lemak maksimal 10%. Ukuran pakan yang diberikan disesuikan dengan stadia larva udang. Udang pada stadia Zoea diberikan pakan dengan ukuran 50 – 100 µm, pakan mysis ukuran 100 – 200 µm dan pakan post larva berukuran 200 – 300 µm (SNI 7311 : 2009).

Pemberian pakan harus dilakukan secara tepat. Karena apabila dalam pemberiannya terjadi kelebihan maupun kekurangan akan berdampak buruk bagi larva yang dipelihara. Kelebihan pakan akan menyebabkan banyaknya endapan yang terdapat pada dasar bak akibat dari sisa pakan yang tidak termakan oleh larva, sehingga hal tersebut akan menimbulkan penurunan kualitas air pada media pemeliharaan.

Menurunnya kualitas air tersebut dipicu oleh endapan sisa pakan dalam dasar bak yang dalam jangka waktu tertentu akan berubah menjadi senyawa beracun seperti : amonia, nitrat, nitrit, dan H2S. Apabila hal tersebut terjadi, akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh larva sehingga larva akan lebih mudah terserang berbagai macam penyakit. Karena dengan kondisi yang seperti itu bibit penyakit dapat berkembangbiak secara cepat.

Kekurangan pakan akan menyebabkan berkurangnya nutrisi yang diserap oleh larva, sehingga akan menghambat proses pertumbuhan pada larva. Selain itu, apabila terjadi kekurangan pakan akan menimbulkan sifat kanibalisme pada larva yang berakibat larva akan saling memakan sesama jenisnya.

Oleh karena itu, kegiatan pengelolaan pakan harus dilakukan secara tepat (waktu, jenis, cara, dan fungsi) agar tidak menimbulkan kelebihan dan kekurangan pakan dan pakan yang diberikan sesuai dengan larva. Sehingga apabila hal tersebut dapat terlaksana dengan baik dapat menghasilkan output yang berupa sintasan dengan presentase yang tinggi.

Pemberian pakan buatan dilakukan empat jam sekali selama 24 jam atau enam kali per hari yaitu pada pukul 02.00, 06.00, 10.00, 14.00, 18.00, dan 22.00. Meningkatnya umur larva akan berpengaruh pada dosis pemberian pakan yang semakin meningkat sejalan dengan tingkat pertumbuhan larva.  Pakan buatan yang biasa diberikan untuk larva udang Vaname adalah pakan dalam bentuk bubuk, cair dan flake (lempeng tipis) dengan ukuran partikel sesuai dengan stadianya. Tahapan pemberian pakan buatan adalah sebagai berikut:

  1. Mencatat jumlah pakan yang diperlukan sesuai dengan nomor bak\
  2. Menimbang pakan dan diberi nomor bak yang akan diberi pakan
  3. Menuangkan pakan ke dalam saringan pakan dengan ukuran saringan mesh 100, kemudian dihancurkan serta dilarutkan di dalam air laut/tawar sebanyak 10 liter yang sudah disiapkan di dalam ember agar ukuran partikel pakan sesuai dengan bukaan mulut larva
  4. Menyebarkan pakan secara merata ke dalam bak pemeliharaan larva dengan menggunakan gayung
  5. Mencuci ember dan gayung hingga bersih dan mengembalikan peralatan di tempat masing-masing.

Pakan diberikan menggunakan gayung dengan cara menebarkannya secara merata ke seluruh permukaan air media. Hal tersebut dilakukan agar pakan dapat menyebar secara merata sehingga dalam perolehan pakan untuk larva dapat dilakukan dengan mudah. Penyimpanan pakan dilakukan dalam gudang pakan dengan suhu ruangan 22°C.

Dalam melakukan penyimpanan pakan sebaiknya ditempatkan pada kondisi tempat yang kering dan terhindar dari pancaran sinar matahari secara langsung. Hal ini bertujuan agar pakan tidak mengalami pembusukan akibat keadaan pakan yang lembab atau basah dan nutrisi yang terkandung dalam pakan tidak berkurang akibat terkena sinar matahari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.