Penggunaan Feed Additive non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname

Penggunaan Feed Additive non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname

Penggunaan zat tambahan pakan dalam pakan ikan dan udang terbukti dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit, menurunkan rasio konversi pakan, mempercepat laju pertumbuhan, dan mengurangi pembentukan zat beracun.

Penggunaan Feed Additive non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname
Feed Aditif Pakan Udang (Minapoli)

Fitobiotik (fitogenik/ekstrak herbal)

Tambahan pakan kelompok fitogenik (phytogenic) tergolong baru, merupakan produk turunan dari tumbuhan yang dicampurkan ke pakan untuk meningkatkan performa kesehatan hewan target. Aditif pakan ini termasuk kelompok yang sangat heterogen yang berasal dari daun, akar, umbi atau buah-buahan dari rimpang, rempah-rempah atau tanaman lain. Bentuknya dapat berupa padat, kering atau serbuk, sebagai ekstrak atau minyak esensial. Phytogenic sebagai aditif pakan, dengan kandungan zat aktif yang sangat bervariasi, tergantung pada bagian tanaman digunakan, musim panen dan geografis asal.

Fitogenic mengandung antioksidan dan/atau aktivitas antimikroba. Selain itu, beberapa phytogenic digunakan untuk meningkatkan palatiblitas pada pakan, yang bisa menyebabkan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat. Sebagai tambahan pakan, fitogenik juga dapat mengurangi kandungan amonia yang dilepas melalui peningkatan penggunaan protein sehingga mengurangi nitrogen yang hilang ke lingkungan. Adanya komponen nitrogen yang tidak tercerna dalam usus dapat menyebabkan pembentukan amonia dan biogenic amina oleh mikrobiota dalam usus. Komponen ini bersifat racun dan dapat menyebabkan ketidak seimbangan mikrobiota dalam usus.

Fitogenik dapat memacu sekresi pencernaan, memperpanjang dan merapatkan jonjot usus, meningkatkan produksi mukosa melalui peningkatkan jumlah sel – sel globlet. Sehingga, aditif ini dapat meningkatkan kecernaan pakan khususnya untuk protein dan asam amino. Dalam kajian yang dilakukan oleh Santos, penggunaan fitogentik yang dienkapsulasi dapat menurunkan FCR dan meningkatkan bobot rata-rata udang vaname.

Minyak Atsiri (Essensial Oil)

Berdasarkan klasifikasi, minyak atsiri termasuk fitogenic karena diekstrak dari tanaman yang berbau harum yang mengandung senyawa aktif seperti alkohol, aldehid, keton, dan senyawa fenolik. Minyak ini diperoleh melalui pemerasan, destilasi atau ekstraksi uap dan dengan menggunakan pelarut (solvent). Famili Labiatae memiliki kandungan thyme, oregano dan daunnya harum dapat digunakan sebagai bumbu. Sifat antimicrobial melalui potensi hidrofobik minyak atsiri menembus dan menghancurkan membran sel bakteri yang menyebabkan kebocoran ion. Sebagai contoh dari famili Labiatae (sinonim: Laminaceae) adalah Oreganum sp. yang memiliki kandungan bahan aktif oregano (carvacrol), thyme, pinene, limonene, ocimene, caryophylene yang diyakini mengandung antioksidan dan memiliki sifat antibakteri. Minyak atsiri ini akan merangsang organ pencernaan untuk mengeluarkan enzim protease lebih banyak, memperpanjang dan merapatkan villi usus dan mengeluarkan mukosa lebih banyak sehingga penyerapan protein pada pakan menjadi lebih baik. Dengan begitu, proses penyerapan protein lebih baik sehingga mengurangi terbentuknya amonia yang bersifat racun.

Minyak atsiri terbukti sebagai antibiotik herbal dan dapat memacu pertumbuhan, aman untuk budidaya, dan tidak menyisakan residu. Sebagai anti fungi, anti mikroba dan antioksidan, minyak atsiri juga berfungsi antimikroba (antibiotik alami), meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan penyerapan nutrisi, memacu pertumbuhan, dan meningkatkan sintasan.

Aplikasi produk yang mengandung minyak atsiri dengan bahan aktif oregano, thyme, eucalypthol dan MCT (middle chain trigliserides), trigliserida rantai sedang, menunjukkan hasil yang sangat bagus. Bahan ini dapat digunakan untuk perlakuan pada udang yang terserang WFD dan dapat memacu pertumbuhan. Perbedan ADG yang diperoleh pada budidaya udang vaname bisa 0,1 – 0,3 gr/hari lebih cepat dibanding yang tanpa diberi minyak atsiri tersebut. Pemberian minyak atsiri dapat dilakukan melalui pencampuran dengan pakan.

Asam Organik (acidifier)

Pencampuran asam organik (acidifier) ke dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan dan kinerja usus. Prinsip kerjanya, asam organik akan menurunkan pH dalam pencernaan berfungsi untuk meningkatkan aktivitas enzym pencernaan dan menciptakan lingkungan yang dapat menekan perkembangan pathogen bahkan membunuhnya. Penggunaannya dipandang sangat baik untuk akuakultur karena memiliki fungsi pemacu pertumbuhan dan antimikroba, serta dianggap sebagai pengganti antibiotik.

Kombinasi asam organik dan garamnya biasanya digunakan untuk mengubah dominasi mikroflora dalam usus secara intensif pada hewan budidaya. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan lingkungan yang tidak disukai oleh bakteri gram negatif. Kinerja asam organik dalam usus melibatkan 2 mode. Pertama, asam organik berperan menurunkan pH dalam lambung dan bagian usus halus. Kedua, asam ini menghambat pertumbuhan bakteri gram-negatif melalui disosiasi asam dan produksi anion dalam sel bakteri.

Salah satu ontoh asam organik adalah potassium diformat (KDF) yang merupakan gabungan antara asam formiat dan kalium formiat. Selain itu ada asam propionat, asam butirat dan lain-lain. Selain itu, asam organic ini memiliki fungsi yang lain, di antaranya adalah:

  • Sebagai pemacu pertumbuhan. Dengan adanya penurunan pH dalam pencernaan tersebut maka dapat mengoptimalkan kerja enzym protease (pepsin), menyerap nutrisi (protein) lebih baik, sehingga pertumbuhan lebih baik, efisiensi pakan meningkat, sbagai pengkelat/pengikat (chelating agent) bagi mineral kompleks sehingga meningkatkan nilai nutrisi pakan.
  • Sebagai antimikroba. Dalam kondisi pH rendah asam organik bebas berpenetrasi masuk ke dalam sel mikroba, mengalami disosiasi, menurunkan pH dalam protoplasma mikroba, perlu banyak energi (ATP) untuk mengeluarkan ion H+, ion sisa asam organik mengganggu/menghambat proses replikasi DNA, kondisi asam dalam protoplasme menyebabkan kerusakan membran dan dinding sel sehingga mikroba akhirnya mati.

Immuno Stimulant

Imunostimulan telah diakui sebagai suplemen yang menjanjikan dan dapat membantu pencegahan penyakit pada udang dan ikan. Imunostimulan dipercaya dapat meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit udang dan ikan dengan meningkatkan meknisme pertahanan melawan oportunistik patogen yang selalu ada di lingkungan sekitar. Imunostimulan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit menular dengan meningkatkan imunostimulan non-spesifik, bukan yang spesifik. Sehingga, efeknya hanya berlangsung sementara dan singkat karena udang tidak memiliki memori.

Banyak imunostimulan yang beredar di pasaran berbahan dinding sel mikroba seperti beta-glucan (dari dinding sel yeast), peptidoglycan (dari dinding sel bakteri gram positif), lipopolysaccharida (dari dinding sel bakteri gram negatif) dan nukleotida. Boonyaratpalin et al. (1994) mengungkapkan efek positif penggunaan peptidoglygan yang dicampur pakan dengan dosis 0,01% terhadap daya tahan dan pertumbuhan udang vaname.

Efek positif penggunaan immunostimulant dalam pakan (Boonyaratpalin et al.,1994)

Enzim

Enzim adalah katalisator biologi atau biokatalisator yang berperan dalam reaksi biokimia. Baik reaksi sintesis (penyusunan) maupun dengadasi (perombakan). Karena kerja enzym spesifik untuk substrat tertentu, nama enzym disesuaikan dengan nama substratnya. Misalnya :

  • Amilase mengurai amilum (pati)
  • Protease mengurai protein
  • Lipase mengurai lemak atau minyak

Kendala dalam budidaya udang vaname skala intensif adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan enzim ekesogenus yang berperan penting dalam pencernaan pakan.

Dengan adanya perubahan bahan baku dalam pakan, yaitu pengurangan bahan protein hewani dan digantikan dengan protein nabati maka proses pencernaan menjadi lebih sulit. Hal ini disebabkan protein nabati lebih kompleks daripada protein hewani. Selain itu, kedelai yang digunakan sebagai sumber protein mengandung zat anti nutrisi seperti phytat (asam phytat) dan tripsin inhibitor. Tripsin inhibitor dapat rusak dengan pemanasan, lain halnya dengan phytat. Phytat harus diurai dengan enzim phytase, produknya adalah inositol dan fosfat anorganik. Enzim phytase antara lain dihasilkan oleh microorganisme seperti jamur dan bakteri seperti Aspergillus niger dan Pseudomonas, Bacillus.

Saat ini telah tersedia di pasaran produk komersial enzim yang mengandung lebih dari 12 macam enzim, untuk dicampur pakan dan diperam sebelum diberikan. Dengan cara ini maka nilai nutrisi pakan akan lebih banyak terserap sehingga mengurangi nutrisi yang terbuang. Dengan demikian maka dapat mengurangi pencermaran atau kerusakan air. Enzim yang terkandung antara lain : phytase, xylanase, cellulase, protease, lipase, amilase, pectinase, b-glucosidase, mannanase, galactosidase, tannase, keratinase, invertase (Towers, 2013). Dalam kajian Rachmawati dan Samijan (2018a), penggunaan phytase dalam pakan terbukti dapat memperbaiki konversi pakan.

Table beberapa jenis enzim dan manfaatnya

Enzim Manfaat
Amilase Mengurai zat pati dan polisakarida kompleks
Arabinose, pectinase Menghancurkan zat anti-nutrisi, meningkatkan level energi pada hewan
Mannase Memecah mannan and polisakarida non-pati
Selulase Degradasi selulosa dalam pakan dari tumbuhan
Keratinase Degradasi keratin
Lipase Emulsifikasi dan pemanfaatan minyak dan lemak
Phytase Meningkatkan ketersediaan hayati dari fosfat, mineral, dan protein
Protease Pemanfaatan protein hewani
Tannase Menghilangkan tannin
Xylanase Hidrolisis polisakarida non-pati, seperti pentose
Galactosidase Berperan sebagai galaktosida untuk mengurangi zat anti-nutrisi
Glucosidase Berperan sebagai glucan, membuka akses nutrisi
Invertase Konversi sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dan meningkatkan level energi

Merujuk pada kajian yang dilakukan Rachmawati dan Samijan, pemanfaatan ekstrak nanas yang mengandung enzyme protease bromelin menunjukkan adanya perbedaan baik tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan, protein efisiensi rasio maupun laju pertumbuhan relatif (noerhidajat).

Table Pengaruh penggunaan ekstrak nanas terhadap budidaya ikan

A : Ekstrak Nanas 0 ml/kg

B : Ekstrak Nanas 0,1 ml/kg

C : Ekstrak Nanas 0,2 ml/kg

D : Ekstrak Nanas 0,3 ml/kg

TKP : Tingkat konsumsi pakan

EPP  : Efisiensi pemanfaatan pakan

PER :  Protein efisiensi rasio

RGR : Laju pertumbuhan relatif

SR   :  Sintasan

 

 Ir. Suprapto

Shrimp Club Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.