Pantang Menyerah

Rochim Armando

Jangan jatuh kedua kalinya di lubang yang sama. Begitulah pepatah mengatakan, yang memberikan pesan kepada kita semua untuk belajar dari masa lalu. Dengan begitu, kesalahan dalam mengatasi sebuah masalah tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

Begitu pula dengan menghadapi salah satu momok yang masih menghantui dunia budidaya udang di Indonesia, WFD. Hingga White Feses Disease atau penyakit kotoran putih masih mewabah di sejumlah tempat. Dampaknya jangan ditanya. Beberapa pihak menyebutkan produksi tambak udangnya turun drastis. Ada yang turun, dari 20 ton/hektar menjadi hanya 12—14 ton/hektar. Ada yang pendapatannya hanya mencapai BEP, bahkan hingga minus 25% dari modal yang dikeluarkan.

Kerugian usaha memang menyakitkan. Namun, jika kita mau belajar, mau mengkaji kembali standar operasional tambak yang telah dijalankan selama ini, tentu ada solusi yang bisa diambil. Begitu pula dengan para pembudidaya yang telah berpengalaman dengan serangan WFD di tambaknya.

Sinergi antara pembudidaya, dinas kelautan dan perikanan, lembaga penelitian, serta stake holder lainnya di dunia perudangan telah menghasilkan kebijakan strategis dalam menghadapi ancaman WFD. Tak hanya mencegah, saat ini sudah ditemukan bahan aditif pakan yang bisa diaplikasikan untuk pengobatan udang yang telah terinfeksi WFD.

Mencegah memang pilihan yang terbaik. Dengan mengetahui kebutuhan udang, pencegahan terhadap masalah kesehatan bisa dilakukan. Lingkungan budidaya yang sehat tentunya menunjang kesehatan udang. Kapasitas oksigen terlarut, keasaman air, suhu tambak, dan alkalinitas adalah beberapa parameter kualitas air yang perlu diperhatikan. Semakin mendekati kondisi yang ideal, tentu semakin baik. Mengetahui karakter udang secara alami di alam tentu banyak membantu.

Kesuburan perairan dipengaruhi oleh kandungan bahan organik di perairan. Semakin subur perairan, plankton dan alga pun tumbuh semakin subur. Memang, dalam jumlah tertentu, plankton menjadi salah satu makanan bagi udang. Namun, blooming plankton justru menjadi ancaman terbesar bagi tambak udang. Bahkan, kematian massal paska-blooming plankton dituding sebagai faktor penyebab turunnya kualitas air yang berdampak pada turunnya kesehatan udang dan memicu serangan vibrio.

Sampah atau limbah organik ditengarai menjadi faktot utama terjadinya wabah WFD. Tak heran jika menjaga kualitas lingkungan perairan dan kestabilan plankton menjadi kunci dalam mencegah mewabahnya WFD. Perlakuan secara mekanis, biologis, dan kimiawi diarahkan untuk mengelola sampah organik. Tujuannya jelas, untuk menghindari keracunan pada udang dan berkembangnya bakteri vibrio, baik di dasar maupun badan air.

Selain lingkungan, kesehatan udang juga harus diperhatikan dengan memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan. Kurangnya nutrisi, baik bersifat makro—seperti karbohidrat, protein, lemak—maupun mikro—seperti vitamin dan mineral—bisa menurunkan daya imun udang terhadap serangan bakteri. Dengan begitu, kualitas nutrisi pakan pun menjadi unsur penting dalam upaya pencegahan WFD.

Efisiensi pakan pun menentukan kualitas kesehatan fisik udang dan lingkungan. Semakin tinggi serapan terhadap nitrogen dan fosfor memacu pertumbuhan udang, sekaligus mengurangi limbah organik yang terbuang ke perairan.

Jika WFD masih menyambangi? Tentu saja, langkah yang bisa diambil adalah pengobatan. Aplikasi probiotik, mineral, dan herbal telah tersedia untuk kebutuhan pengobatan WFD. Dengan kajian yang dinamis dan terus-menerus dilakukan, setiap masalah tentu bisa menemukan jalan solusinya. Tentu saja, dengan tekad pantang menyerah.

*Penulis adalah Tim Redaksi dan Kontributor Daerah Majalah Info Akuakultur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.