Pantang Patah Arang

Rochim Armando

Ibu, apakah hidup sesulit ini?

Remaja berkaos kuning yang tengah beranjak dewasa itu terlihat sedih. Dengan sendu, ia menelpon ibunya dan menumpahkan segala kegalauannya. Merasa telah menjadi anak yang tidak berguna, ia begitu sangat menyesal telah mengabaikan harapan kedua orang tuanya untuk ikut ke Negeri Tirai Bambu dan melanjutkan sekolahnya di sana. Sore di halte bus yang sepi itu, ia duduk seorang diri.

Itulah sepenggal cerita di film The Billioner, yang diangkat dari kisah nyata perjalanan karir pengusaha pemilik bisnis makanan ringan rumput laut goreng Tao Kae Noi. Dia-lah Top Aitthipat Kulapongvanich, sang miliader muda dari Thailand.

Berasal dari keluarga yang berkecukupan, Top tumbuh seperti anak lainnya. Di usia sekolah, ia kecanduan game online. Namun, siapa sangka, Top justru menghasilkan banyak uang dari games tersebut. Sampai-sampai, di usia sekolah itu, ia mampu membeli sebuah mobil dan memiliki tabungan.

Kecanduan game membuat Top mengabaikan nilai sekolahnya. Hasilnya, ia gagal tes masuk ke sekolah tinggi negeri. Padahal, ayahnya hanya mampu menyekolahkannya di perguruan tinggi negeri karena biaya di perguruan tinggi swasta sangat mahal. Merasa bisa mencari uang sendiri dari hobi games-nya, ia pun dengan sembrono mengatakan bahwa ia tak butuh uang ayahnya. Kualat, tak lama setelah itu akun game-nya dihapus sang penyedia layanan karena telah terdeteksi melakukan aktivitas komersial, yang dilarang dalam aturan game tersebut.

Tak bisa lagi mengisi rekeningnya dengan bermain game, Top mencoba berbisnis dengan menjual DVD player, yang ternyata barang bajakan. Tak menunggu lama, bisnis ini segera tutup, bahkan sebelum Top memasarkannya ke orang lain.

Usaha kedua adalah bisnis kacang setelah Top menghadiri sebuah acara Food Expo. Ia tertarik dengan keterangan dari seorang wiraniaga mesin penggoreng kacang otomatis, yang mengatakan bahwa mesin tersebut yang pertama di Thailand. Dari harga 500.000 Baht, Top bisa membawa pulang dengan menyewa hanya 50.000 baht. Namun, ternyata Top ‘tertipu’ lagi. Ayahnya yang marah mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan mesin serupa di pasar hanya dengan 30.000 Baht.

Top tidak patah arang dan melanjutkan usaha bisnis kacangnya. Dibantu pamannya yang baik, ia terus mencari rahasia menghasilkan kacang goreng yang enak. Tak sia-sia, ia pun berhasil mendapatkan formula yang pas. Pamannya, ibunya, hingga klien ayahnya, semua memuji enaknya kacang buatan Top.

Tantangan berikutnya adalah pemasaran. Untuk menjual kacangnya, Top membeli sebuah booth, menyewa tempat di mall, dan meminta pamannya menjaga booth tersebut. Sayang, kacang enak buatan Top sepi pembeli. Berbagai usaha seperti memanggil pembeli untuk datang ke booth dengan kata-kata menarik telah dilakukan, tetapi tetap sepi. Terus mencari inspirasi, Top akhirnya menyadari posisi booth-nya kurang mendukung. Ia pun meminta dipindahkan ke dekat pintu masuk mall dan berhasil.

Pembeli kacang Top sangat ramai di hari pertama setelah pindah. Bersamaan dengan itu, ayah dan ibu Top memutuskan pindah ke China karena rumah mereka akan disita bank. Usaha ayah Top bangkrut dan meninggalkan tunggakan hutang sebanyak 40 juta Baht. Namun, Top menolak untuk ikut dan memutuskan tetap tinggal di Thailand meneruskan impian bisnisnya. Sayang, asap yang ditimbulkan menyebabkan atap mall menjadi kotor. Akhirnya, kontrak dibatalkan dan Top harus pindah.

Di tengah kegalauan, Top secara tak sengaja mencicipi rumput laut goreng yang dibawakan kekasihnya. Segera ia jatuh cinta dengan snack goreng kering tersebut. Tak menunggu lama, ia pun membeli berkarton-karton lembaran rumput laut mentah untuk coba digoreng sendiri. Bersama pamannya, ia terus mencoba. Sayang, ternyata rumput laut goreng tak bertahan lama, tak lebih dari 3 hari saja. Hingga akhirnya Top mendapatkan rahasianya dari Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan Kasetsart University. Kuncinya terletak pada pengemasan vakum yang akan membunuh bakteri sehingga makanan menjadi lebih awet. Untuk itu, Top harus mengadakan mesin kemas vakum tersebut.

Saat harus mengosongkan rumah telah tiba. Mereka harus angkat kaki. Tak berhenti sampai di situ, paman Top terjatuh di kamar mandi dan harus diopname. Top tidak putus asa dan ia terus bereksperimen sendiri hingga akhirnya bisa mendapatkan rumput laut goreng yang enak.

Singkat cerita, akhirnya Top berhasil memasarkan rumput laut goreng Tao Kae Noi-nya yang terkenal hingga di Indonesia. Tentu saja, setelah melewati ujian pemasaran untuk bisa berhasil menembus pasar jaringan waralaba 7-Eleven. Baginya yang baru berusia 19 tahun ketika itu, ujian-ujian tersebut begitu sangat melelahkan dan menguras emosi. Namun, ia berhasil melewati semuanya dengan tetap memelihara asa.

Dua tahun setelah kerjasama dengan 7-eleven, Top bisa melunasi hutang ayahnya 40 juta baht, mengambil alih rumahnya kembali dan membawa pulang kedua orangtuanya. Top sudah memiliki lebih dari 2.500 karyawan dan mengirimkan produknya ke 6.000 cabang 7-Eleven. Mengekspor camilan rumput lautnya ke 27 negara di dunia. Memiliki tambak rumput laut di Korea Selatan. Dan pendapatannya pada tahun 2010 sebesar 1.500 juta Baht setara 450 milyar rupiah.

Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi. Jika kita menyerah, habislah sudah.”~ Top.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.