Harus Dibuat Kesempatan Sendiri

Ini kisah seorang penulis legendaris yang kritis, Pak Pram adalah nama panggilannya. Pramoedya Ananta Toer adalah nama aslinya, Ia lahir di Blora, 6 Februari 1925. Beliau sering mengkritik pemerintahan lewat cerita-cerita di dalam novelnya, karena itulah beliau sering keluar masuk penjara, sejak masa kolonial sampai pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto inilah, Ia harus diasingkan ke Pulau Buru lantaran dianggap seorang yang pro-Komunis. Malangnya, tidak hanya diasingkan, semua bukunya dilarang dari peredaran. Ia bahkan ditahan tanpa pengadilan.

Di dalam pengasingannya, Ia merasakan bagaimana kerasnya hidup di pulau yang belum terjamah oleh pembangunan. Di sana Pak Pram pun dipaksa untuk bekerja rodi dan melakukan pembukaan hutan dan pekerjaan berat lainnya. Tidak hanya itu, Pak Pram dan tahanan lainnya sering mendapatkan tindakan keras dari para pengawal.

Anehnya, walaupun Pak Pram diasingkan, Ia tidak patah semangat dalam menghasilkan karya. Jiwanya sebagai seorang sastrawan membuat dirinya tidak bisa dipenjara meski Ia diasingkan. Bahkan, Ia menceritakan pada teman-teman tahanannya, bahwa dirinya menulis novel yang masih setengah jadi dan ingin melanjutkannya.

Namun baginya, ia tidak boleh menunggu kesempatan datang, jika ia harus menunggu sampai kesempatan yang baik datang untuk bisa menulis, saat Ia berada di tempat yang mendukung untuk menulis, saat semua fasilitas tersedia, artinya tidak akan nada karya yang tercipta.

Menunggu kesempatan hanya akan membuat langkahnya tertahan karena kesempatan belum tentu datang. Maka, apa yang bisa Ia lakukan adalah dengan membuat kesempatannya sendiri.

Di dalam pengasingan, jelas bahwa menulis adalah hal yang menantang. Pak Pram sudah dibebani dengan aneka pekerjaan berat di ladang sehingga sudah kelelahan dan tidak bisa menulis. Beruntung, pemberitaan di luar negeri tentang penahanan wartawan dan sastrawan di Indonesia memunculkan desakan dari publik luar negeri untuk memberikan kebebasan pada para wartawan dan satrawan.

Karena desakan inilah, setelah beberapa lama berhenti menulis, Pak Pram akhirnya bisa melanjutkan menulis atas perijinan kepala keamanan. Ia membuat kesempatannya sendiri dan berusaha mendapatkan mesin tik dari temannya dari luar negeri, sekalipun mesin tik itu tidak pernah sampai ke tangannya.

Mesin tik yang baru pemberian kawannya dari luar negeri diganti dengan mesin tik usang yang pitanya harus dibuat oleh para tahanan. Walaupun begitu, Pak Pram tetap bersyukur karena Ia telah mendapatkan kesempatannya berkarya.

Ia pun rutin meluangkan waktunya  dalam setiap harinya, selama lima menit untuk membaca dan lima belas menit untuk menulis dengan berburu waktu senggangnya sendiri. Ia sendiri yang harus mengatur waktu dan menciptakan peluangnya sendiri agar bisa menulis, bukan menunggu dipersilahkan oleh para penguasa di tahanan.

Pak Pram bahkan masih harus berkerja keras untuk menyembunyikan tulisan itu di tempat yang aman, agar tidak ketahuan oleh pihak keamanan. Sebab, di penjara, sekalipun telah diberi ijin, pihak keamanan tidak sepenuhnya memberi dukungan.

Bahkan, jika tulisannya diketahui oleh pihak keamanan, tulisan itu bisa disita dan dibakar. Dibantu oleh teman-teman tahanannya, Pak Pram juga berupaya keras mengamankannya dan menyembunyikan tulisannya. Selain menyembunyikan tulisan-tulisannya, teman-teman Pak Pram juga membantu menerbitkan tulisannya di negara lain.

Pak Pram memang beruntung memiliki teman-teman tahanan yang bersedia membantunya menggarap novel-novelnya. Para tahanan yang menjadi sahabatnya ini memberikan informasi dan memberikan inspirasi dalam menentukan karakter tokoh-tokoh novelnya. Beliau sangat senang menerima aspirasi dari teman-temannya, dengan bantuan teman-temannya ini, Ia banyak menerima ilmu baru. �(Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.