Penggunaan Tambahan Pakan Non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan Dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname (Bag.1)

Salah satu penentu keberhasilan budidaya adalah pengelolaan pakan. Agar sukses budidaya dan efisien dalam penggunaan pakan, perlu adanya penambahan komponen non-nutrisi ke dalam pakan. Fungsinya untuk meningkatkan efisiensi pakan dan daya tahan udang terhadap serangan penyakit serta mengurangi pencemaran lingkungan. Beberapa komponen tersebut di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitobiotic (fitogenik), minyak atsiri, asam organik, imunostimulan dan enzim.

Meskipun 50 – 60% dari biaya produksi digunakan untuk pakan, Primavera mengungkapkan, udang vaname hanya mengonsumsi sekitar 17% yang digunakan untuk pertumbuhan atau dipanen dalam bentuk biomassa udang. Oleh karena itu, tidak semua nutrisi yang terkandung dalam pakan buatan dapat diserap oleh udang sehingga sebagian besar akan terbuang ke lingkungan berupa kotoran udang (feces), dan pakan yang tidak termakan.

Banyaknya limbah yang terbuang akan berdampak pada kualitas air dalam media budidaya. Seperti perkembangan plankton yang sangat cepat yang dapat menyebabkan goncangan kualitas air sehingga dapat menimbulkan stres pada udang. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar nutrisi pakan dapat dimanfaatkan atau terserap secara optimal. Dengan demikian maka nilai konversi (FCR) akan lebih baik.

Pentingnya Efisiensi Pakan

Efisiensi pakan adalah tingkat kecernaan nutrisi pakan yang dapat terserap oleh usus udang. Dengan kata lain, nutrisi pakan yang dapat diubah menjadi menjadi bagian tubuh udang yang disebut nilai konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR). Pemberian pakan yang tepat akan memberikan hasil pertumbuhan udang yang bagus (optimal).

Kurang dalam pemberian pakan menyebabkan lambatnya pertumbuhan udang dan tidak rata. Sementara itu, pakan yang berlebih akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan (air dan dasar tambak). Oleh karena itu, pemberian pakan yang tepat sangat diperlukan agar pertumbuhan udang baik, konversi pakan rendah dan mencegah timbulnya masalah pencemaran air tambak.

Aspek Lingkungan dalam Manajemen Pakan

Manajemen pakan yang salah akan berakibat pada kerusakan media budidaya. Pemberian pakan yang berlebih dengan harapan untuk memacu pertumbuhan dapat memberikan hasil tidak seperti yang diharapkan. Suhu air yang tinggi pada kisaran 30 – 32 oC akan memicu tingkat nafsu makan yang berlebihan sehingga bisa mengecoh para teknisi.

Berapapun jumlah pakan yang diberikan dianco akan habis. Pembudidaya akan meningkatkan jumlah konsumsi pakan meskipun sebenarnya pakan yang diberikan sudah melebihi kebutuhan. Pakan yang tidak termakan serta kotoran udang akan meningkatkan kandungan bahan organik dalam petakan tambak.

Peningkatan bahan organik akan diikuti peningkatan kebutuhan oksigen di dalam tambak. Bila oksigen tidak mencukupi, proses perombakan bahan organik menjadi tidak sempurna sehingga akan mengakibatkan penumpukan amonia, nitrit dan gas asam sulfida (H2S). Di samping itu, peningkatan Nitrogen berakibat perkembangan plankton yang sangat cepat sehingga terjadi overbloom plankton. Goncangan pH pagi dan sore akan lebar dan rawan terjadi kematian massal plankton (crash).

Terjadinya Serangan Penyakit Pada Udang

Peningkatan bahan organik yang berasal dari sisa pakan, kotoran udang dan plankton mati akan memicu perkembangan bakteri di dalam petakan tambak. Tidak hanya bakteri yang menguntungkan (pengurai non-pathogen), yang merugikan (pathogen maupun penghasil senyawa beracun) akan berkembang. Perkembangan bakteri vibrio yang tinggi menyebabkan peningkatan kasus penyakit infeksi pada udang seiring dengan meningkatnya kandungan bahan organik dalam petakan tambak.

Peningkatan bahan organik, amonia, nitrit, gas H2S, serta berkembangnya vibrio menurunkan kualitas air dalam budidaya. Penurunan kualitas air dalam media budidaya dapat menyebabkan udang menjadi stress, nafsu makan menurun, udang menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Selanjutnya, bila tidak segera tertangani dengan baik maka dapat berakibat kematian.

Pada umumnya, menyembuhkan penyakit pada udang adalah sangat sulit dan selalu ada kematian. Oleh karena itu, mencegah adalah lebih baik daripada mengobati.

Strategi Pengelolaan Pakan

Strategi pengelolaan pakan menjadi sangat penting dalam meningkatkan efisiensi pakan, kestabilan kualitas air maupun pengendalian penyakit. Dalam pengelolaan pakan tersebut, digunakan beberapa tambahan pakan non-nutritif yang terdiri dari probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitobiotik, minyak atsiri, asam organik, imunostimulan, dan enzim. Pembahasan mengenai kedelapan jenis tambahan pakan ini akan dibagi menjadi dua bagian.

  1. Probiotik

Dalam akuakultur, probiotik merujuk pada mikroorganisme non-pathogen yang sengaja ditambahkan atau diberikan melalui oral dan lingkungan. Penggunaan probiotik bersifat menguntungkan bagi hewan target (inang). Istilah lain yng sering diberikan adalah bakteri menguntungkan atau benefical bacterial. Disamping dapat memacu pertumbuhan, probiotik juga dapat meningkatkan sistem pertahanan yang bersifat alami (innate immunity) bagi udang.

Perobiotik yang diberikan melui pakan (oral) dapat membantu sistem pencernaan karena menghasilkan enzim sehingga akan meningkatkan kecernaan pakan dan mengurangi nutrisi yang terbuang sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan dan mengurangi pencemaran. Disamping itu, probiotik dapat menyeimbangkan mikroba usus dan menekan perkembangan bakteri merugikan dalam system pencernaan. Sementara itu, probiotik yang diaplikasikan ke lingkungan akan mengurai limbah dari kotoran udang, sisa pakan dan plankton mati, menekan perkembangan bakteri merugikan seperti vibrio melalui kompetisi nutrisi, maupun habitat. Dengan aerasi yang cukup, bakteri nitrifikasi akan mengoksidasi amonia menjadi nitrite dan selanjutnya menjadi nitrat yang cukup aman bagi kehidupan udang. Bakteri yang umumnya mengurai bahan organik menjadi mineral (anorganik) akan menyediakan nutrisi bagi perkembangan fitoplankton sehingga akan menciptakan kondisi ekosistem yang seimbang dan terjadi proses siklus yang saling ketergantungan.

Tabel-1. Total Vibrio dan Enterococcus dalam pencernaan udang setelah pemberian pakan yang dicampur probiotik dan minyak esensial (Vieira et al., 2016)

Perlakuan Colony-Forming Unit (cfu)/g
Hepatopancreas Usus
Vibrio sp

(x104)

Enterococcus

(x106)

Vibrio sp

(x106)

Enterococcus

(x108)

Kontrol 68,8 ± 19,5 a 94,1 ± 68,2
Probiotik* 1,2 ± 0,6 b 39,5 ± 10,2 ns 32,5 ± 28,7 9,6 ± 6,5 ns
Minyak esensial 34,4 ± 12,1 a 86,8 ± 35,3
Probiotik* + minyak atsiri 1,7 ± 0,9 b 56,5 ± 23,2 29,5 ± 19,4 7,8 ± 5,7

*) Probiotik dari jenis Enterococcus

 

Probiotik Tingkat kelulusan hidup (%) Efisiensi pakan (%) Hari pemeliharaan Bobot akhir (g) Produktivitas (kg/ha)
Probiotik 83,02 ± 6,12* 117,97 ± 4,45 77,00 ± 6,42 11,2 ± 0,62 1325,61 ± 74,44
Kontrol 74,65 ± 9,07 104,35 ± 7,30 72,33 ± 9,7 11,96 ± 0,35 1291,13 ± 192,92

 

  1. Prebiotik

Prebiotik, merupakan makanan probiotik, yaitu bahan makanan yang tidak dapat dicerna seperti inulin dan frukto-oligosaccharida namun sangat penting untuk memacu pertumbuhan bakteri yang bermanfaat dalam usus (probiotik), khususnya Bifidobacterium dan Lactobacillus untuk keseimbangan mikroflora dalam usus. Mannan-oligosaccharida, adalah salah satu produk yang ada di pasaran. Prebiotik di alam terkandung dalam ketela rambat, bawang putih, kulit pisang, bekatul, dan sebaginya. Beberapa jenis prebiotik selain yang sudah disebukan diatas antara lain Fruktooligosakarida (FOS), Mananoligosakarida (MOS), Galaktooligosakarida (GOS), Arabinoxylan-oligosakarida.

Prebiotik ternyata juga dapat meningkatkan sintasan maupun pertumbuhan bagi udang serta meningkatkan ketahanan tubuh udang. Menurut Ringø, inulin dapat meningkatkan jumlah bakteri gram positif seperti Streotococcus, Carnobacterium dan Bacillus. Sementara itu, Li menggunakan isomaltooligosakarida pada udang vaname dengan dosis 2 g per kg pakan selama 28 hari untuk populasi mikroba dan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit bercak putih. Sedangkan Gainza dan Romeo menggunakan Mannan Oligosakarida (MOS) pada udang vaname dengan hasil yang cukup signifikan. Hasil uji coba disajikan dalam grafik dan tabel berikut. (Noerhidajat)

Tabel Peningkatan produktivitas udang dengan penggunaan prebiotik (Gainza and Romeo, 2020)

Indikator produktivitas 0.5%MOS Kontrol
Bobot rata-rata (g) 15,6 ± 0,6 15,5 ± 0,7
Konversi pakan CV 1,2 ± 0,1 1,63 ± 0,02
Pertambahan bobot (g/hari) 0,2 ± 0,0 0,2 ± 0,0
Biomassa rata-rata (kg) 4830 ± 189 2565 ± 201
Panen (kg/Ha) 9660 ± 378 5131 ± 402
Kelulusan hidup S(%) 70,3 ± 6,6 37,5 ± 4,7

 

  1. Synbiotik (Pro- dan prebiotik)

Sinbiotik merupakan perpaduan antara probiotik dan prebiotik. Belum banyak riset tentang peran sinbiotik (Pre- dan Probiotik) dalam pengendalian penyakit pada udang, baik  yang disebabkan oleh vibriosis maupun virus. Namun demikian, sistem ini telah dibuat dalam budidaya udang di tambak yang disebut Sistem Sinbiotik. Menurut Lisal, aplikasi probiotik masih memiliki kelemahan, yaitu kemampuan bertahan, kolonisasi, dan kompetisi nutrien dari bakteri probiotik untuk masuk ke dalam satu lingkungan ekosistem yang sudah mengandung berbagai jenis bakteri lainnya. Dengan demikian, dibutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi keterbatasan tersebut, salah satunya adalah melalui pemberian prebiotik.

Pengaruh pemberian sinbiotik pada pakan terhadap sintasan udang vaname setelah diuji tantang dengan IMNV (Windanarni dkk., 2016)

Beberapa contoh sinbiotik (probiotik + prebiotik) menurut Das et al, (2017).

Keterangan:

MOS-Manna oligosaccharide,

FOS- fructooligosaccharide,

PHB- plyhydroxybutyrate acid

 

Ir. Suprapto, Penulis adalah anggota Shrimp Club Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.