Budidaya Alga, Untuk Tingkatkan Nutrisi Pakan Ikan

Mikroalga, alga mikroskopis kaya nutrisi untuk kegiatan budidaya perikanan

Mikroalga, di samping kehadirannya menjadi ancaman bagi kegiatan akuakultur, beberapa jenis di antaranya justru menjadi berkah bagi perikanan. Pasalnya, kandungan nutrisinya dibutuhkan beberapa jenis ikan budidaya, terutama jenis herbivora.

Alga kerap kali dituding sebagai penyebab munculnya berbagai serangan penyakit dan kematian massal pada ikan maupun udang. Awalnya, terjadi ketidakseimbangan alga di dalam lingkungan perairan.

Selanjutnya, akibat dari komposisi jenis alga yang tidak seimbang, kualitas perairan munurun, tingkat kandungan oksigen dalam air berkurang. Bahkan, sejumlah jenis alga ditengarai mengeluarkan bahan toksik.

Daya tahan tubuh ikan dan udang menurun. Tidak dapat dihindari, penyakit pun merebak ketika daya tahan tubuh turun dan kondisi lingkungan memburuk. Pada akhirnya, terjadi kerugian telak akibat kematian massal pada ikan dan udang budidaya yang tak terhindarkan.

Benarkah alga menjadi biang dari malapetaka tersebut? jawabannya iya. Akan tetapi, kabar baiknya, alga tidak hanya melulu menimbulkan efek negatif bagi budidaya perikanan. Sejumlah alga diketahui berpengaruh positif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk industri farmasi, kosmetika, pangan, dan industri lainnya.

Beberapa di antaranya diperlukan dalam kegiatan akuakultur sebagai sumber pakan untuk ikan. Sebut saja misalnya Chlorella vulgaris, Porphyridium cruentum, Dunaliella salina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jenis-jenis mikroalga tersebut dipandang menguntungkan karena dapat menyediakan nutrisi yang berlimpah bagi ikan budidaya. Bahkan, karena kandungan nutrisinya yang kaya, tidak sedikit jenis mikroalga tersebut banyak dibudidayakan secara massal mengingat nilai ekonominya yang tinggi.

Mengenal Alga Lebih Dekat

Menurut klasifikasi dalam ilmu biologi, alga merupakan sejenis organisma fotosintesis yang mengandung klorofil, menghasilkan O2 dan merupakan suatu thallus (jaringan vegetatif) yang tidak terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Jadi, organisme ini berbeda dengan lumut atau jenis tanaman lainnya.

Pada kerajaan tumbuhan (kingdom plantae), organisme sudah jelas diklasifikasikan berdasarkan organ daun, batang dan akar, sementara pada alga tidak demikian. Meskipun begitu, alga dan tumbuhan sama-sama mempunyai klorofil sehingga mempunyai kemampuan melakukan proses fotosintesis, yaitu mampu menyintesis makanannya sendiri dari sinar matahari dan sumber karbon.

Dengan demikian, seperti halnya tumbuhan, alga pun dapat menghasilkan zat asam (oksigen) sebagai produk samping dari proses fotosintesisnya dan karbohidrat (karbon) sebagai produk utamanya.

Menurut pemaparan Rahmania Admirasari, dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alga sendiri diklasifikan menjadi dua berdasarkan ukurannya, yaitu:

Rahmania Admirasari
  • Makroalga, alga yang berukuran besar, sehingga dapat dilihat dan diamati oleh mata telanjang;
  • Mikroalga atau alga yang berukuran kecil (mikroskopis) dan bakteria fotosintetik oksigenik (Cyanobacteria).

Produk Bernilai Ekonomis Tinggi dari Mikroalga

Saat ini, di dunia sudah dikenal luas beragam jenis alga dengan produk utama yang bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja misalnya spirulina. Jenis mikroalga ini menjadi salah satu bahan baku suplemen kesehatan bagi manusia karena kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan beragam vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, serta kandungan mineral dan asam lemaknya.

Di samping itu, masih banyak jenis alga lain yang bermanfaat dan menjadi komoditas penting. Berikut ini beberapa jenis mikroalga dan berbagai jenis produk yang dihasilkan.

  • Spirulina plantesis, Phycocyanin, produk yang dihasilkan berupa biomassa dan suplemen makanan kesehatan, serta bahan dasar kosmetika
  • Chlorella vulgaris, produk yang dihasilkan berupa biomassa, suplemen kesehatan, dan sumber pakan
  • Dunaliella salina, produk yang dihasilkan Carotenoids, ß-carotene, suplemen makanan, sumber pakan.
  • Haematococcus plavialis produk yang dihasilkan adalah Carotenoids, astaxanthin, yang digunakan dalam suplemen makanan, industri farmasi, dan pakan
  • Odontella aurita sebagai sumber asam lemak, dan bahan baku farmasi, kosmetika, dan sumber makanan.
  • Porphyridium cruentum, produk yang dihasilkan di antaranya adalah polisakarida untuk industri farmasi, kosmetika, dan pakan hewan
  • Isochrysis galbana, produk yang dihasilkan di antaranya adalah asam lemak untuk pakan ternak,
  • Phaeodactylum tricornutum, bahan yang dihasilkan di antaranya adalah lemak, asam lemak, nutrisi asam, serta bahan baku untuk bahan bakar.

Mikroalga, Bahan Bernutrisi Tinggi Bagi Ikan

Alga berperan tak kalah penting dalam kegiatan akuakultur. Beberapa jenis alga sudah dikenal luas sebagai sumber pakan alami bagi ikan jenis herbivora, seperti ikan bandeng, mas, dan lain-lain.

Menurut Rahmania, aplikasinya dalam bidang akuakultur dapat berupa pakan langsung pada fase pembesaran larva, juvenile, atau pun untuk sebagai pakan zooplankton yang pada akhirnya menjadi pakan alami bagi ikan.

  • Sumber pakan alami pada fase pembesaran larva dan juvenilles dari moluksa, crustacea dan ikan.
  • Sumber pakan bagi zooplankton (rotifer, copepoda, dll) yang pada akhirnya menjadi sumber pakan alami bagi ikan.
  • Sumber pakan bagi Ikan herbivore

Tabel 1. Beberapa jenis mikroalga dan manfaatnya bagi jenis hewan akuakultur

Alga Organisma Akuakultur
Chlorella Brachionus
Scenedesmus Artemia, Ikan mas
Skeletonema Tiram dan kerang
Nitzschia Tiram dan kerang
Chaetoceros Tiram dan kerang

Budidaya Mikroalga Skala Massal

Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, tak sedikit praktisi yang sudah melakukan budidaya mikroalga secara massal. Jenis alga yang dibudidayakan tertentu untuk yang bernilai nutrisi tinggi atau digunakan untuk keperluan lainnya.

Selain itu, jenis yang dibudidayakan tersebut haruslah yang tidak beracun baik bagi hewan maupun manusia. Rahmania mengungkapkan, beberapa persyaratan budidaya mikroalga untuk kegiatan akuakultur harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya adalah:

  • Non toksik atau tidak beracun;
  • Ukuran tubuhnya tepat untuk dikonsumsi oleh organisma yang akan dibudidayakan;
  • Dinding sel alga mudah dicerna;
  • Kandungan nutrisi cukup baik.

Pada dasarnya, dalam kegiatan budidaya mikroalga, ada beberapa komponen wajib yang harus ada, yaitu cahaya matahari, karbondioksida (CO2), air, nutrisi, dan peralatan pendukung. Gas karbondioksida dibutuhkan sebagai sumber karbon bagi alga.

Kehadiran air mutlak diperlukan sebagai sumber hydrogen dalam sintesis karbohidrat yang terdiri dari unsur Karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sementara itu, kebutuhan nutrisi lainnya, di antaranya unsur Nitrogen, Fosfor, dan unsur-unsur mineral lainnya dapat dipenuhi dari pasokan air limbah budidaya perikanan.

Seperti diketahui, air limbah yang berasal dari budidaya perikanan banyak mengandung sisa-sisa pakan dan zat-zat eksresi ikan, misalnya ammonia, nitrat, nitrit, dan fosfat. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur hara bagi mikroalga sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk kultivasi mikroalga.

Gambar 1. Metode budidaya mikroalga secara umum

            Gambar 2. Alur budidaya mikroalga dan waktu pemanenan yang tepat

Kultivasi mikroalga dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sistem terbuka dan sistem fotobioreactor (sistem tertutup). Pada metode terbuka, budidaya mikroalga dilakukan pada kolam/ bak-bak terbuka dengan ukuran yang luas.

Sementara itu, budidaya dengan metode fotobioreactor dilakukan di dalam reaktor-reaktor tertutup yang biasanya terbuat dari kaca/plastik transparan. Hal ini agar permukaan dapat ditembus cahaya matahari yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri. Sebagai contoh, pada metode tertutup (fotobioreaktor), kelebihannya adalah terjaga dari kontaminasi, produktivitas lebih tinggi, serta tidak membutuhkan lahan yang relative luas. Meskipun demikian, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah biaya investasi awal yang mahal.

Di lain pihak, jika budidaya dilakukan pada kolam terbuka, kelebihannya antara lain biaya investasi awal yang relatif rendah dan perawatan mudah. Akan tetapi, kelemahan yang ditimbulkan di antaranya adalah membutuhkan luas lahan yang besar, mudah terkontaminasi oleh mikroalga yang lain, sehingga dapat memicu terjadinya kompetisi. (Noerhidajat/Resti)

Peran “Generasi Millenial” dalam Peningkatan Perikanan Nasional

Oleh: Rifqi Dhiemas Aji

(Konsultan Teknis Peternakan dan Perikanan PT. Natural Nusantara)

Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia tahun 2035 diperkirakan mencapai 305,7 juta jiwa. Maka pertambahan pertahunnya diproyeksikan sebanyak 2,5 juta per tahun dan pertambahan dalam 20 tahun ke depan bertambah sekitar 50,2 juta jiwa.

Selain itu, masih berdasarkan data BPS, pada tahun 2015 sekitar 53,3% dari penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Lalu diproyeksikan pada tahun 2035 mendatang, arus urbanisasi akan meningkat menjadi 66,6%.

Sehingga arus urbanisasi yang tinggi, diprediksikan akan mengurangi jumlah penduduk di pedesan dan berdampak pada produsen pangan yang rata rata berdomisili di desa, baik perikanan, peternakan dan pertanian secara umum akan mengalami penurunan.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait pertumbuhan industri sektor perikanan, produksi perikanan nasional mengalami kenaikan pada angka diatas 23 juta ton dimana tahun 2015 pada angka 20 juta ton.

Angka tersebut bisa saja terus terjaga atau naik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan atau promosi terhadap sektor perikanan yang lebih baik. Indonesia sendiri pada awal tahun 2018 sudah menerbitkan roadmap Making Indonesia 4.0 yang menjelaskan jika sektor makanan dan minuman menjadi prioritas pertama dari 5 prioritas unggulan di era Revolusi Industri 4.0.

Kekhawatiran dalam produksi perikanan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional adalah berkurangnya luas lahan perikanan budidaya akibat alih fungsi lahan yang berpindah, menurunnya minat pelaku budidaya perikanan dalam beternak ikan yang diakibatkan pengaruh sektor lain yang lebih menjanjikan serta lemahnya sumber daya manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan.

Dengan pengetahuan dan kemampuannya dalam berbagai sektor, anak muda atau generasi penerus ini harus menyadari bahwa kontribusi dalam dunia perikanan sedang ditunggu tunggu.

Baik sebagai tenaga ahli perusahaan, pemerintahan, enterpreneur maupun sociopreneur yang bergerak dalam memajukan perikanan Nasional. Sebab, sektor perikanan hampir selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan, karena pola pikir yang tertanam pada generasi muda saat ini adalah pekerjaan atau usaha di bidang perikanan kurang menjanjikan dibandingkan dengan menjadi pekerja kantoran.

Hal tersebut juga dapat menjadi alasan mengapa arus urbanisasi sangat tinggi, karena orang di desa menganggap mencari peruntungan di kota lebih baik ketimbang membangun sendiri desanya masing-masing.

Dalam revolusi keempat ini, kita menghadapi serangkaian teknologi baru yang mengombinasikan berbagai disiplin ilmu dengan dunia digital. Teknologi teknologi baru ini akan berdampak pada semua disiplin, ekonomi dan industri, bahkan akan menantang ide kita tentang arti manusia.

Teknologi ini memiliki potensi besar menghubungkan jutaan manusia melalui web, meningkatkan efisiensi bisnis dan organisasi secara drastis, dan membantu regenerasi lingkungan alami melalui manajemen aset yang lebih baik, mengurangi kerusakan yang terjadi.

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini, secara bersamaan Indonesia mengalami bonus demografi dimana jumlah usia kerja produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia kerja non produktif.

Hal ini perlu diantisipasi dan diarahkan untuk menampilkan sisi positif dari bonus demografi yang terjadi. Generasi muda nan produktif ini perlu diarahkan dan ditumbuhkan “ruh” dalam membangun sektor perikanan Nasional mengingat perikanan masih merupakan sektor penting bagi kebutuhan pangan Nasional.

Tidak sedikit saat ini mulai bermunculan inovasi inovasi hasil kreasi anak muda di bidang perikanan yang sangat diperlukan pada saat ini. Beberapa inovasi yang sudah mulai bertumbuh seperti platform digital untuk pelaku perikanan dan investor perikanan yang dapat menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen perikanan.

Inovasi lainnya seperti jejaring bisnis lewat sistem aplikasi yang mengutamakan efisiensi sehingga bisa tercapainya kemudahan dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring.

Disisi lain, generasi muda yang berkecimpung dalam budidaya perikanan juga harus mampu dan selalu siap apabila harus beternak mandiri secara intensif serta siap mendampingi apabila dibutuhkan oleh pelaku perikanan tradisional di lapangan.

Kemajuan teknologi ini akan memaksa para peternak rakyat di perdesaan untuk beradaptasi. Namun, peran generasi muda dan pemerintah harus terus mendukung masyarakat supaya memiliki daya saing dengan penyediaan infrastruktur dan kebutuhan untuk menuju digitalisasi. Pangan dan perikanan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dan harus selalu menjadi bagian dalam prioritas pembangunan negeri ini.

Menengok pada sektor industri perikanan Indonesia yang secara data telah menunjukkan angka perkembangan yang positif walau belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dengan potensi sumberdaya perikanan yang melimpah seharusnya sektor ini mampu menjadi sektor andalan.

Sejatinya membahas tentang perikanan kedepan harus melingkupi berbagai persoalan-persoalan yang sangat mendasar dan substansial. Pada Saat sekarang ini kehadiran dan peran pemerintah sangatlah diharapkan, berbagai persoalan penting yang berpengaruh terhadap ketahanan dan keberlanjutan perikanan menjadi penting dan harus menjadi perhatian semua kalangan terutama kalangan pemegang kebijakan. Isu lingkungan dan perijinan yang kerap kali dilontarkan terhadap sektor perikanan oleh berbagai kalangan, baik dari internal maupun kalangan eksternal menjadi “bola liar” yang berpotensi merugikan bahkan mengancam keberlanjutan industri perikanan di negara kita.

Ujian Tsunami Bagi Perikanan di Pesisir Banten

Kilat dan petir berlangsung terus-menerus selama 3 malam paska-tsunami. Jalanan sepi, hanya suara-suara sirine ambulan sesekali melintas dan menambah suasana semakin mencekam.

Demikian tutur Yayan Sofyan, Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang kepada Info Akuakultur saat mengenang kejadian tsunami yang menerjang pesisir Banten beberapa waktu lalu.

Kantor LP2IL Serang (A), dan Rumah Dinas (B)

Sejak Februari 2010, Yayan telah bekerja di LP2IL Serang yang terletak persis di pinggir pantai, lengkap dengan pemandangan laut dan Gunung Anak Krakatau. Di tahun-tahun pertama, ia sudah dikagetkan aktivitas anak gunung krakatau, dengan gelegar kecil dari tengah laut yang menggetarkan kaca-kaca bangunan kantor. Pada tahun 2010—2011, debu vulkanik menyembur dan menyebarkan bau belerang yang menyengat sehingga pegawai harus memakai masker.

Bahkan tahun 2012 atau 2013, aktivitas getarannya pernah berlangsung dari siang sampai pagi hari dengan jarak antargetaran kecil sebanyak 10 kali per menit atau setiap 6 detik sekali. Sampai Yayan mengaku harus me-lackband kaca pada dinding rumah karena takut pecah.

“Gunung Anak Krakatau selalu begitu dari tahun ke tahun sehingga kami sudah akrab dengan perilakunya,” kata Yayan.

Pada tanggal 22 Desember 2018 pagi, Yayan melihat keanehan di pinggiran Gunung Anak Krakatau yang belum pernah dilihatnya. “Terkesan ada asap putih di permukaan air, seperti halnya ketika kita memasukan benda panas ke dalam air. Bahkan saya kira perahu layar karena bergerak menjauh dari pinggiran gunung. Saya lihat dengan menggunakan teropong sederhana,” lanjutnya.

Yayan Sofyan

Menjelang maghrib, Yayan kembali melihat pemandangan yang tidak seperti biasa. Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap berbentuk seperti payung. Ia pun segera memanjat tembok dinding petakan tambak dan berdiri di tanggul setingginya kira-kira 2,5 meter dan mengabadikan momen langka tersebut.

Paska-Maghrib, pemandangan mengejutkan kembali terjadi. Api yang keluar dari kepundan Gunung Anak Krakatau, yang sebelumnya tidak pernah sebesar itu, tampak seperti lilin atau lebih mirip seperti korek api gas atau las karbit, memancar. Yayan pun memanggil anak dan istrinya yang kemudian semua tercengang dan memuji, Subhanallah. “Foto saya posting pukul 18:49 dan direspon teman saya dengan kata-kata Wisata Lahar. Saya pun membalas Didahului kembang api anak krakatau.”

Tak heran, sebentar lagi tahun baru, di mana pada malam pergantian tahun tersebut, sepanjang Pantai Anyer Carita ramai dengan pesta kembang api. “Kami lama memandangi fenomena tersebut. Sampai saatnya memasuki waktu isya, saya kembali pergi ke mushola untuk azan dan shalat sendiri.”

Sekembali dari mushola, api yang keluar dari gunung anak krakatau sedikit meredup. Sekira pukul 20.00 WIB, api terlihat samar tertutup asap hitam. Sampai saat itu, Yayan belum menyadari keadaan gunung tersebut.

Sekira pukul 21.40, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Yayan yang sedang jagongan bersama satpam di pos jaga mencari sumber suara. Ternyata, sumber suaranya itu berasal dari arah laut, di mana pos satpam berada kira-kira 200 meteran dari pantai. Spontan ia berteriak, tsunamiiiiiiiiii!

Semua panik. Dengan segera Yayan pulang ke rumah dinasnya  yang berjarak 400 m dari pos satpam dan hanya 30 meter dari pinggir pantai. “Saya masuk ke rumah, sempat menyiapkan baju untuk mengungsi dan menyelamatkan surat-surat penting. Istri dan anak saya segera dievakuasi dengan mengunakan motor ke depan kantor. Kami sekeluarga mengungsi di rumah teman kantor yang tinggal di kampung Pasauran I. Saat memasuki jalan kampung, banyak orang yang berjalan menuju tempat yang tinggi, ada juga yang pakai kendaraan. Saat itu hujan rintik-rintik.”

Pukul 23.00, Yayan kembali menuju kantor bersama 3 orang satpam untuk mengecek kondisi bangunan yang terletak persis di pinggir pantai. Tanggul roboh dan dengan bantuan senter mereka melihat bak-bak fiber pecah bahkan ada yang bergeser jauh dari posisi sebelumnya.

Dari pukul 23.00 sampai pukul 01.00, tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Sepi dan mencekam. “Minggu pagi (23/12), saya bersama teman berkedara sepeda motor menyusuri jalan sepanjang pantai dari Kampung Pasauran ke arah Kampung Carita. Mulai dari Kampung Cilurah, kira-kira 1 km dari kantor, sudah terlihat rumah yang pagarnya rusak tanpa ada penghalang apa apa terhadap laut. Di Desa Mataram, Sambolo, kerusakan terlihat lebih berat. Pos polisi jalan raya dan kontainer yang rencananya akan dijadikan vila—yang semula di pinggir pantai persis—terlempar ke seberang jalan, vila-vila di pinggir pantai serta saung-saung tempat berdagang hancur porak poranda. Mobil-mobil banyak yang berpindah ke tengah sawah atau menumpuk di depan bangunan vila. Aparat Kemanan, Basarnas, dan ambulan sudah mulai berdatangan untuk mengevakuasi dan membuka akses jalan.

Paska-tsunami, hujan turun terus-menerus dengan waktu lama dan intensitas yang besar. Cuaca pada saat musim barat terjadi, baik siang maupun malam. Saat malam suasana semakin mencekam. Hujan dan penampakan kilat-kilat serta petir yang hanya terjadi di atas gunung anak krakatau berlangsung sekira 3 malam setelah kejadian tsunami.

Dampak tsunami Anak Krakatau terhadap perikanan budidaya

“Dalam 3—4 bulan ke depan, produksi udang, khususnya wilayah Jabar, Banten  dan Lampung akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan cukup banyak hatchery yang ada di pesisir Banten dan Lampung Selatan rusak berat akibat tsunami,” ungkap Ketua Bidang IPTEK, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Bambang Nardianto .

Menurut Bambang, kerusakan tersebut mengakibatkan pasokan benur terganggu, meskipun tambak pembesaran yang ada di pesisir kedua propinsi tersebut tidak banyak mengalami kerusakan. Kerusakan tambak pembesaran hanya berupa kerusakan kecil seperti pagar tambak roboh, pompa laut hilang, atau paralon distribusi air hanyut.

Kerusakan yang terjadi di hatchery bervariasi, ada  yang hancur, rusak bangunannya, dan rusak sistem instalasi untuk proses  pembenihannya. Kerugian secara langsung berupa kerugian materi seperti fisik bangunan, benur dalam proses pemeliharaan, induk, dan sarana produksi lainnya yang ikut hilang. Nilai kerusakan bisa mencapai milyaran rupiah.

Adapun kerugian tidak langsung berupa kerugian kehilangan potensi produksi hatchery yang hilang dalam beberapa bulan  ke depan. Kehilangan potensi produksi benur bisa mencapai 400 juta ekor/bulan. Jika recovery membutuhkan waktu 6 bulan, kehilangan potensi produksi benur sebesar 2—2,5 milyar ekor. Kerugian potensi ekonomi bisa mencapai puluhan milyar rupiah.

Dari sisi budidaya pembesaran udang, proses budidaya terhambat akibat pasokan benur tidak mencukupi. Potensi kehilangan produksi udang minimal bisa mencapai 4.000 ton per bulan. Jika recovery memerlukan waktu 6 bulan, potensi kehilangan produksi udang Lampung, Banten, dan Jawa Barat minimal 24.000 ton. Nilai ekonomi bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Dampak lain yang ditimbulkan adalah berkurangnya serapan pakan udang. Potensi kehilangan serapan pakan udang bisa mencapai 6.000 ton/bulan.

“Kondisi tersebut berpengaruh pada penurunan produksi, meskipun hanya di kisaran 10%-15%. Meskipun begitu, pasar udang Indonesia tidak terlalu terganggu secara signifikan karena masih ada produksi udang yang bisa dihasilkan oleh daerah lain,” terang Bambang.

Sementara menurut Yayan, secara umum dampak tsunami terhadap kegiatan perikanan budidaya tidak signifikan di beberapa wilayah. Beberapa perusahaan hatchery di daerah Kosambi, Karang Bolong, secara fisik tidak mengalami kerusakan. Kerusakan hanya pada instalasi PIP yang sedikit rusak akibat lokasi bangunan berada di seberang Jalan Raya Anyer Carita. Begitu juga tambak di sekitar Panimbang, yang relatif tidak terganggu, karena lokasinya berada cukup jauh dari pantai.

Untuk KJA yang banyak di sekitar daerah Panimbang, tepatnya di Desa Copanon, sebagian besar masih di posisi dan sebagian ada yang bergeser ke pantai. “Dari info lapangan, di daerah sekitar Taman Jaya, wilayah yang berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, juga tidak terdampak,” terang Yayan.

Sementara kerusakan di wilayah Pandeglang akibat tsunami relatif kecil. “Kalau tambak udang yang ada di wilayah Kec. Sumur, Kab. Pandeglang, Alhamdullilah selamat. Yang di Cikeusik, di Wanasalam, semuanya selamat, tutur H. Buntara, salah seorang petambak udang di Sumur, Pandeglang, kepada Info Akuakultur.

Peran KKP di daerah bencana

Secara langsung, peran KKP terhadap dampak tsunami cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan menjadikan balai-balai penelitian di pesisir—yang tidak terdampak tsunami—sebagai salah satu posko relawan, posko pendistribusian bantuan, dan dapur umum. Peran lainnya adalah melakukan pemetaan dan pendataan nelayan yang menjadi korban tsunami untuk diberikan bantuan tertentu agar mata pencahariannya bisa terus berlangsung. “Terhadap pemilik usaha pembenihan skala kecil (backyard) dan hatchery yang terdampak akan dilakukan pendampingan dan pemberian bantuan agar pembenih kembali bisa melakukan usahannya kembali,” ujar Bambang.

Dalam jangka pendek, kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuka akses untuk mendapatkan benur dari hatchery yang berada di daerah lain agar proses budidaya tetap berjalan. Tentu saja, dengan tetap mengedapankan kualitas dan treceability benur yang akan dibudidayakan. Dalam jangka menengah, dilakukan percepatan perbaikan infrastruktur dan sarana produksi serta mempercepat pengadaan indukan udang yang baru.

Begitu pula menurut Yayan, sebagai PIC Posko KKP Peduli Bencana Tsunami wilayah Banten. Menurutnya, KKP sangat peduli terhadap stakeholder-nya, termasuk pelaku kegiatan budidaya. Pada masa tanggap darurat, KKP melakukan kunjungan untuk mengecek kondisi, baik SDM maupun fisik paska-bencana tsunami. Beberapa kegiatan yang dilakukan di antaranya pemberian bantuan sembako, ikan segar, perlengkapan tidur, perlengkapan penerangan, serta perlengkapan kesehatan maupun masak-memasak.

Doa dan harapan

“Di wilayah kami tidak ada yang budidaya ikan. Semuanya bertambak udang vanamei. Kalau bantuan buat masyarakat yang terkena tsunami, Alhamdulilah, sangat cukup. Yang belum adalah pembangunan rumah-rumah yang hancur. Itu saja deh. Yang diperlukan masyarakat Kecamatan Sumur, Desa Tamanjaya, Kampung Pani’is, yang 55% kampungnya habis terkena tsunami, adalah relokasi ke tempat yang aman di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kampung Nelayan juga, Desa Ujung jaya, Kampung Tanjung Lame, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Yang terpenting jalan segera dibangun dan listrik harus stabil,” harap H. Buntara.

Sementara Yayan mengungkapkan harapannya bahwa menimbang potensi bencana akibat gelombang tinggi saat ini daerah tambak perlu dijaga vegetasi bakau atau mangrove-nya. Tujuannya agar barisan bakau bisa menjadi penahan hempasan gelombang. Di samping itu, pembangunan unit hatchery perlu mempertimbangkan bangunan dengan sepadan pantai sesuai aturan, salah satunya bagi yang bangunannya terlalu dekat dengan pantai.

“Saya yakin penduduk di sekitar pantai sangat shock dan takut. Namun apa mau dikata, mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka terlahir dan tumbuh di situ. Sikap pasrah serta yakin bahwa ajal tetap akan datang ada atau pun tidak ada bencana tsunami membuat mereka ikhlas atau terpaksa untuk bertahan. Begitu juga kami,  ini sudah menjadi tugas yang harus saya terima dengan lapang dada, meskipun sanak keluarga terkadang mengatakan pindah saja. Saya yakin, tetap yakin, dengan Maha Pengasih dan Penyayang-nya Allah SWT. Namun kami tetap harus waspada dan ini menjadi pengalaman dan pelajaran hidup berharga bagi kami. Sebagaimana disampaikan salah satu pimpinan kami, baik kepada kami maupun kepada para nelayan yang kami temui, bahwa bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting kita harus belajar dan tahu apa yang harus kita lakukan saat menghadapi bahaya dan tetap waspada,” jabar Yayan.

Yayan melanjutkan, “…Kami berbela sungkawa terhadap para korban tsunami, baik di wilayah Banten maupun Lampung. Semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Begitu juga korban selamat serta yang kehilangan harta bendanya, semoga diberi kesabaran dan kekuatan serta kemudahan rejeki yang lebih baik. Kepada para donatur/relawan yang telah empati membantu sesama baik dengan hartanya, tenaganya maupun fikirannya semoga menjadi ladang amal yang selalu mengalir dan semoga pihak pemerintah maupun pihak terkait untuk segera dapat memulihkan kondisi ekonomi maupun fisik agar aktivitas warga terdampak tsunami cepat kembali normal.”

“Akhirnya kita harus sadar bahwa manusia itu lemah, hanya Tuhan yang Maha Perkasa. Semua takdirnya telah menjadi ketetapan atau Sunatulloh sebagai ujian bagi umat manusia agar semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Di balik ini semua pasti ada hikmahnya. Allah SWT mengajarkan kepada manusia ini yang baik dan ini yang tidak baik. Jika tetap melanggar, ketentuan akan berjalan. Semoga bangsa Indonesia selalu diberikan perlindungan oleh Yang Maha Kuasa…Aamiin.. ‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. QS Al-Anbiya Ayat 35’,” pungkas Yayan. (Rochim/Adit/Resti)

Teknologi “Nano Bubble” dalam Budidaya Perikanan

Tingkatkan pertumbuhan ikan dan udang dengan teknologi nano bubble.

Teknologi gelembung halus “nano bubble” diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan ikan hingga 40 persen dari bobot biasa. Teknologi Nano Bubble untuk perikanan bisa mempercepat pertumbuhan ikan sampai 40 persen.

Menurut pemaparan LIPI, misalnya, diaplikasikan ke ikan sidat, kalau pakai air biasa, pertumbuhan ikan 3 bulan hanya mencapai 1 kg, kalau dengan bubble bisa mencapai 3-4 kg. Teknologi nano bubble dapat diaplikasikan di berbagai sektor, seperti tanaman, perikanan dan peternakan.

Johan

Hal tersebut bisa terjadi, sebab menurut Johan, Bussiness Development Manager PT Maxima Arta Prima, Nano Bubble Jet dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara yang sangat halus yang dinamakan “nano bubble” sehingga dapat memberikan asupan udara (DO) yang maksimal bagi udang karena gelembung-gelembung udara tersebut tidak cepat naik ke permukaan air.

Johan melanjutkan, walaupun gelembung-gelembung udara yang dihasilkan Nano Bubble Jet lebih halus namun DO yang dihasilkan lebih stabil dari kincir konvensional sehingga mudah di kontrol dan tidak perlu khawatir sewaktu penurunan DO yang biasanya terjadi pada malam hari.

Prinsip kerja teknologi ini adalah menginjeksi atau memasukkan gas, baik nitrogen, oksigen atau ozon ke dalam cairan kemudian akan menghasilkan gelembung yang sangat kecil hingga dapat larut ke air.

Untuk budi daya perikanan, tahun ini LIPI mengembangkan nano bubble untuk ikan sidat yang memiliki potensi perekonomian sangat besar, yakni harga jualnya mencapai Rp1,5-2 juta/kg jika diekspor ke Jepang.

Air yang kaya dengan oksigen membuat ikan tidak mudah sakit, selalu sehat dan mencegah bakteri-bakteri yang merugikan sehingga pertumbuhan ikan dapat meningkat secara signifikan. Biasanya kalau pakai aerator biasa yang gelembungnya berukuran besar sehingga akibatnya akan pecah di atas dan oksigen yang terlarut sangat sedikit. Jika dikuantifikasikan paling besar hanya 4 ppm (part per million), sedangkan nano bubble bisa 9-11 ppm.

Untuk pemasangan, alat tersebut terbilang murah karena bentuknya yang seperti pompa air biasa dan kebutuhan daya listrik yang sama dengan pompa. Selain untuk budidaya, teknologi nano bubble dengan injeksi gas nitrogen juga mampu untuk mengawetkan ikan sehingga dapat memperlambat pembusukan.

Daya listrik yang dibutuhkan Nano Bubble Jet hanya 2/3 dari penggunaan kincir konvensional. Dengan kata lain, alat ini dapat menghemat daya listrik sebesar 30% apabila dibandingkan dengan penggunaan kincir konvensional.

Nano Bubble Jet

“Dengan begitu, penggunaan listrik juga lebih hemat karena motor pada Nano Bubble Jet hanya memutar AS yang diteruskan ke impeller atau piringan aerator tanpa adanya beban atau tahanan gear box,” ujar Johan.

Dalam hal perawatan, Johan mengatakan, Nano Bubble Jet mudah perawatannya karena tidak menggunakan gear box dan kipas tidak perlu selalu dibersihkan karena tidak akan terjadi pembentukan lumut di bagian-bagian yang bergerak, sedangkan kincir konvensional harus sering service gear box (ganti oli, bearing ataupun seal).

Mekanisme kerja alat ini adalah dengan mendorong udara yang masuk dari lubang Cone ke dalam air, dan menembakan kembali menjadi gelembung-gelembung udara yang sangat halus. Penempatan Nano Bubble Jet di kolam berjarak 4 meter di depan set kincir sehingga gelembung-gelembung udara halus dapat dialirkan oleh arus yang dihasilkan oleh kincir.

“Kemudian, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penggunaan Nano Bubble Jet sebaiknya jarak antara piringan aerator dengan dasar kolam minimal 50 cm,” jelas Johan.

Kemiringan alat ini dapat disesuaikan dengan keinginan petambak, dikarenakan terdapat gear pada chassis. Jarak minimal dasar kolam dengan piringan aerator Nano Bubble Jet adalah 50 cm agar material organik yang berada di dasar kolam tidak ikut tercampur pada saat gelembung udara ditembakan.

Chassis Nano Bubble Jet terbuat dari stainless steel yang mempunyai daya tahan terhadap korosi yang tinggi sehingga lebih kuat dan kokoh. Piringan aerator terbuat dari HDPE yang durabilitas dan memiliki daya tahan yang sangat tinggi. (Adit)

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM

InfoAkuakultur_INDOFISHERIES
Indonesia will host its biggest – fisheries industry event at Grand City Convex, Surabaya – Indonesia, from 3 – 5 July 2019.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM are fully supported by all sectors of fisheries industry and will be the largest business gathering of fish farmers, fishermen, veterinarians, feedmillers, food processing industries, retailers and many more.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM inconjuction with INDO LIVESTOCK, INDO FEED & INDO DAIRY 2019 EXPO & FORUM – widely recognized by the industries as one of the most successful event.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM is designed only for business and open for trade buyers and business seekers. With these comfort business ambiance, exhibitors will be able to make contacts with key decision makers over 3 days in one location.

It is therefore, our privilege to invite your company / organization / institutions to participate at INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM.

 http://www.indofisheries.id/

Probiotik Herbal untuk Sukses Budidaya Udang

Mendengar kata herbal, yang ada dibayangan kita adalah bahan alami. CV Pradipta Paramita ciptakan produk-produk probiotik herbal untuk budidaya udang yang baik untuk udang dan aman untuk lingkingan tambak.

Pada pameran perikanan budidaya AQUATICA ASIA & INDOAQUA beberapa waktu lalu, CV Pradipta yang juga produsen obat ikan dan udang menarik perhatian pengunjung dengan produk-produk probiotik dan mineral untuk budidaya perikanan.

Pameran yang digelar 28-30 November di JIExpo Kemayoran, Jakarta ini menjadi tempat yang tepat untuk sharing informasi bagi para pelaku usaha budidaya perikanan di Indonesia. Khususnya, bagi para pengunjung yang mencari obat ikan, probiotik, atau  mineral untuk menunjang suksesnya budidaya udang.

Agnes Herarti

General Manager CV Pradipta Paramita Agnes Herarti, mengatakan, pada pameran kali ini CV Pradipta Paramita memperkenalkan produk-produk probiotik dengan bahan herbal. Lanjutnya, selain probiotik, juga punya produk mineral untuk nutrisi dan menanggulangi kesehatan tambak udang.

Agnes mengatakan, CV Pradipta Paramita ingin menyajikan produk probiotik yang terbaik untuk customer di Indonesia. Lanjutnya, probiotik yang ada di Indonesia saat ini kebanyakan dari luar negeri, sehingga harga jualnya otomatis tinggi berbeda dengan produk dari Indonesia yang lebih murah dengan kualitas yang sudah teruji.

Menurut Agnes, produk dari luar negeri belum tentu cocok untuk tambak di Indonesia karena pelru beradaptasi, berbeda jika produk dari dalam negeri seperti yang dibuat CV Pradipta Paramita yang sudah teradaptaasi untuk tambak udang di Indonesia.

Diantara produk-produk probiotik herbal untuk udang dari CV Pradipta Paramita, Agnes memaparkan, ada Aquxit Bacilus, Minaraya Udang, dan Zipro Ikan. Ketiga produk tersebut merupakan probiotik premium yang dibuat dengan bahan herbal dan uji laboratorium ketat yang baik untuk menunjang sukses budidaya udang.

Aquxit Bacilus

Aquxit Bacilus merupakan probiotik premium untuk udang yang di formulasikan dengan teknologi menghasilkan kombinasi sempurna dari probiotik konsentrasi tinggi dan nutrisi extra yang dibutuhkan untuk kekebalan dan pertumbuhan udang sejak benih hingga dewasa.

Penggunaan Aquxit Bacilus sendiri secara rutin dapat meningkatkan kualitas air, menghindarkan

penyakit, menghasilkan bakteri aktif yang menjaga ekosistem tambak dengan mengurangi sulfur/Hidorgen Sulfida (H3S), Amonia (NH3), Nitrat (NO2) sehingga efektif mengurangi Total Amonia Nitrogen (TAN), serta dan menciptakan tambak udang yang lebih menguntungkan.

Selain itu, CV Pradipta Paramita punya Minaraya Udang yang merupakan larutan yang diformulasikan secara berimbang antara probiotik pilihan dan herbal yang diproses secara higenis dalam pengawasan uji laboraturium yang mampu meningkatkan nafsu makan udang.

Nafsu makan udang dapat menurun, khususnya apabila sedang terjangkit penyakit atau pasca terjangkit penyakit. Misalnya, udang sedang terserang bakteri vibrio yang menyebabkan WFD maka nafsu makan akan menurun dan pertumbuhan udang akan terganggu/lambat.

Minaraya Udang

Herbal yang digunakan untuk menaikkan nafsu makan udang antara lain, Zingiber officinale, Curcuma domestica, Kaempferia galanga, Curcuma xanthorrizha, Curcuma aeruginosa yang mana herbal ini cukup berpengaruh dan memberikan efek positif pada nafsu makan udang.

Segudang manfaat dari Minaraya Udang diantaranya: Mengembalikan nafsu makan yang turun akibat terserang penyakit udang, meningkatkan pertumbuhan plankton sehingga menambah nafsu makan alami dan mengurangi pakan tambuhan, meningkatkan daya cerna (TDN) dan menurunkan FCR sehingga secara real dapat meningkatkan SR pada udang, meningkatkan Dissolved Oxygen (DO) dalam ekosistem kolam sehingga kolam makin bersih dan tidak terinfeksi penyakit dan meningkatkan pertumbuhan udang dan meningkatkan produksi.

Kemudian, yang jadi produk unggulan yakni Zipro Ikan. Ini merupakan perpaduan antara rempah-rempah (Zingiber officinale, curcuma xanthorrhiza, curcuma domestica, dll) yang diolah bersama Propolis menjadi antibiotik alami yang sangat cocok untuk meningkatkan kekebalan ikan dan mengikis kontaminan yang disebabkan oleh bakteri, jamur bahkan beberapa virus.

Zipro Ikan

Produk ini sangat aman sangat aman, dan bila digunakan dalam dosisi berlebihpun tidak menyebabkan residu antibiotik dalam tubuh ikan, sehingga ikan menjadi tetap aman. Manfaat yang sudah terbukti dari Zipro Ikan adalah dapat mengendalikan penyakit bercak merah pada ikan yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophia & Pseudomonas hydrophyila.

Selain itu, dapat membantu meningkatkan stamina terhadap serangan Saprolegniasis sp. karena jamur, Saprolegnia, Achiya sp, Branchiomyses sp., membantu mencegah serangan penyakit Tuberculosis yang disebabkan oleh Mycobacterium fortoitum, mengendalikan serangan bintik putih karena infeksi jamur, SaprolegniaAchiya sp, Branchiomyces sp., mencegah serangan virus penyebab bintik putih pada ikan mas & ikan nila dari infeksi Epithelorra paputasam sp. dan mengendalikan serangan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, jamur atau virus (CCVD, SVC, IPN, LD, IHN, dll). (ADV)

DICARI AGEN PENJUALAN:
CV PRADIPTA PARAMITA
HUBUNGI 085725515154

Penting, Ukur Kinerja Pertumbuhan Ikan Budidaya

Budidaya ikan erat kaitannya dengan memacu pertumbuhan ikan mencapai ukuran atau berat yang diharapkan. Semakin cepat laju pertumbuhan, semakin besar pula peluang pembudidaya untuk menekan biaya produksi. Ujung-ujungnya, hal ini akan berimbas pada keuntungan yang akan diperoleh pembudidaya di akhir periode pemeliharaan.

Banyak orang beranggapan, laju pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan banyaknya pakan yang diberikan. Padahal, kedua aspek ini tidak selalu berjalan beriringan. Dalam aspek budidaya perikanan, komponen pakan menempati porsi yang sangat besar dalam keseluruhan biaya produksi yang dihabiskan.

Rika Rostika

Menurut peneliti perikanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Tika Rostika yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK dan Wahyu Dewantoro, pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan. sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan tempat ikan hidup, antara lain kondisi fisik, biologis, dan kimiawi air.

Menurut Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK Unpad tersebut, performa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi jumlah pakan yang diberikan. Hal ini mengingat jumlah pakan yang diberikan menjadi aspek yang relatif mudah diukur dibanding aspek lainnya. di samping itu, pakan juga menempati porsi paling tinggi dalam biaya operasional budidaya ikan, yakni dapat mencapai 60 – 70 % dari total biaya yang dikeluarkan.

Di bawah ini adalah beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja budidaya ikan. berikut ini adalah ringkasan yang disarikan dari tulisan kedua peneliti tersebut dan sejumlah referensi.

Pertumbuhan mutlak

Pertumbuhan mutlak adalah selisih antara bobot akhir ikan dengan bobot awal sebelum budidaya. Satuannya adalah gram atau kilogram. Angka ini hanya menilai besarnya pertambahan bobot ikan selama masa pemeliharaan, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banyaknya pakan yang diberikan, lama masa pemeliharaan, dan lainnya.

Dimana Pm adalah pertumbuhan mutlak (gram atau kilogram), Wt adalah bobot setelah budidaya (gram atau kilogram). Sementara itu, Wo adalah bobot sebelum dibudidayakan (gram).

Meskipun angka ini tidak terlalu mencerminkan besarnya biaya yang dikeluarkan, angka pertumbuhan mutlak erat kaitannya dengan nilai ekonomis yang akan didapatkan oleh pembudidaya. Hal ini karena besarnya pendapatan yang diperoleh akan berbanding lurus dengan bobot ikan yang dipanen.

Penambahan bobot harian rata-rata

Wahyu Dewantoro

Berbeda dengan pertumbuhan mutlak, penambahan bobot harian rata-rata merujuk pada pertambahan bobot ikan setiap harinya secara rata-rata. Jadi, angka penambahan bobot harian rata-rata memperhitungkan lamanya masa pemeliharaan ikan. Untuk memperoleh angka ini, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana SGR adalah penambahan bobot harian rata-rata (gram/ hari), Wt adalah berat akhir ikan setelah masa pemeliharaan (gram), dan Wo adalah berat atau bobot ikan sebelum masa pemeliharaan (gram). Sementara itu, t menunjukkan lamanya masa pemeliharaan (hari).

Konsumsi pakan harian

Konsumsi pakan harian merupakan jumlah pakan yang dihabiskan setiap harinya. Angka ini sudah memperhitungkan bobot ikan pada awal masa pemeliharaan, bobot ikan akhir masa pemeliharaan, dan lamanya waktu pemeliharaan. Untuk menghitungnya, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana FI adalah bobot pakan yang diberikan untuk ikan (g), Wo adalah bobot biomassa ikan sebelum masa pemeliharaan (gram), Wt merujuk pada bobot biomas ikan pada akhir masa pemeliharaan (g), dan T mewakili lama masa pemeliharaan (hari).

Efisiensi pemberian pakan

Konsumsi pakan yang tinggi belum tentu menunjukkan tingginya produktivitas pertumbuhan ikan. Boleh jadi, konsumsi tinggi tapi pertumbuhan ikan lambat. Pemberian pakan dikateakan efisien jika besarnya pakan yang diberikan sebanding dan optimal dalam memperoleh pertambahan bobot ikan secara maksimal.

Efisiensi pakan 90% berarti hanya 90% dari pakan yang diberikan menjadi pertambahan bobot ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui efisiensi pemberian pakan, dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Dimana F adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (g), Wt adalah bobot rata-rata benih pada akhir masa pemeliharaan (g), dan Wo adalah bobot rata-rata benih pada awal masa pemeliharaan (g).

Dengan angka ini, pembudidaya dapat memperkirakan seberapa besar pendapatan bersih yang diperoleh setelah memperhitungkan pengeluaran untuk pembelian pakan. Sebagai contoh, jika dalam budidaya lele, angka efisiensi pakan mencapai 80%, artinya, setiap kg pakan yang diberikan akan memberikan pertambahan bobot ikan lele sebesar 800 gram.

Dengan memperhitungkan harga pellet ikan per kg dan harga jual lele per kg, akan didapatkan berapa selisih pemasukan dan pengeluaran yang diperoleh. Setelah itu, selisih ini juga harus dapat menutupi biaya lainnya, seperti biaya obat-obatan, probiotik, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lain-lain.

Rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR)

Rasio konversi pakan mewakili perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dengan laju pertumbuhan ikan. pada umumnya, rasio konversi pakan bernilai di atas angka 1. Sebagai contoh, jika rasio konversi pakan sebesar 1,6; artinya untuk memperoleh pertambahan bobot 1 kg ikan yang dipelihara, diperlukan pakan sebanyak 1,6 kg. Semakin kecil angka rasio ini, semakin besar efisiensi pemberian pakan.

Mengukur panjang ikan

Menimbang bobot ikan

Dimana FI adalah bobot kering pakan yang dikonsumsi (g), Wo adalah bobot biomas ikan pada awal pemeliharaan (g), sementara itu, Wt merujuk pada bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan (g), dan terakhir, D mewakili bobot ikan yang mati (g).

Pada umumnya, angka konversi pakan di atas 1. Dengan demikian, efisiensi pakannya umumnya di bawah 100%. Akan tetapi, pada budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, angka atau rasio konversi pakan ini dapat bernilai di bawah 1.

Hal ini karena di samping pakan yang diberikan, ikan memanfaatkan bakteri yang melimpah sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, sumber makanan ini membantu pertumbuhan bobot ikan di samping dari sumber pakan utamanya.

Kelangsungan hidup benih (survival rate)

Angka kelangsungan hidup benih menunjukkan tinggi rendahnya benih dapat bertahan hidup selama masa pemeliharaan sehingga masa pemanenan. Semakin tinggi tingkat kelangsungan hidupnya, semakin besar juga ikan yang dapat dipanen.

Dengan demikian, semakin besar peluang pembudidaya dalam mendapatkan keuntungan. Istilah lainnya, kelangsungan hidup dikenal juga dengan sebutan tingkat kelulusan hidup benih. Kelangsungan hidup ikan dapat diukur dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Dimana Nt adalah jumlah ikan yang hidup pada akhir masa pemeliharaan (ekor) dan No adalah jumlah ikan pada awal masa pemeliharaan (ekor). Sebagai contoh, jika jumlah benih pada awal masa pemeliharaan sebanyak 1.000 ekor, dengan angka kelangsungan hidup 70%, pada tahap akhir masa pemeliharaan, diperoleh benih 700 ekor. (noerhidajat)

BBPPBL Gondol Memanfaatkan KJA Bundar Berdiameter Besar Untuk Si Perenang Cepat

Ikan tuna dikenal sebagai perenang cepat dan angka kematian terbesar dalam pemeliharaan  dikarenakan tuna sering menabrak dinding. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan penggunaan KJA Bundar sebagaimana yang telah dilakukan di BBPPBL Gondol. 

Terletak di Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, Balai Besar ini berperan penting sebagai pelaksana kegiatan penelitian dan pengembangan strategis perikanan budidaya laut.

Kepala BBPPBL Gondol, Ir. Bambang Susanto, M.Si menjelaskan, banyak program yang sedang dijalankan oleh BBPPBL Gondol saat ini. Program penelitian tersebut diantaranya penelitian dan pengembangan teknologi perbenihan dan pembesaran ikan laut, krustasea dan kerang-kerangan.

“Tak kurang sedikitnya ada 29 kegiatan penelitian dan pengembangan yang tengah dilakukan. Tapi yang utama untuk mendukung program Kementerian adalah program aplikasi teknologi adaptif lokasi,” kata Bambang.

Bambang melanjutkan, saat ini BBPPBL Gondol ada 6 Komoditas yang menjadi unggulan diantaranya, bandeng, tuna sirip kuning, abalon, teripang, kerapu sunu, dan lobster. “Namun yang menjadi fokus di keramba jaring apung (KJA) bundar adalah ikan tuna sirip kuning,”

Ikan Tuna Sirip Kuning yang di budidayakan di KJA Bundar Aquatec
Ikan Tuna Sirip Kuning yang di budidayakan di KJA Bundar Aquatec

Awalnya pada tahun 2001 pemerintah Indonesia dan Jepang melakukan kerjasama dalam bentuk penelitian perbenihan ikan tuna sirip kuning yang dilaksanakan di BBPPBL Gondol hingga tahun 2010. Kerjasama ini telah berhasil mengembangkan teknik penangkapan, transportasi, aklimatisasi calon induk, pemeliharaan induk, pemijahan dan pemeliharaan ikan tuna. Hanya saja, ketika kerjasama dengan Jepang ini berakhir pada tahun 2010, BBPPBL Gondol harus maju menjadi ujung tombak penelitian ikan tuna di Indonesia.

Dr. Eko Prianto, Kepala Bidang Pelayanan Teknis dan Sarana BBPPBL Gondol yang ditemui Info Akuakultur dikantornya menjelaskan bahwa awalnya tuna dipelihara di bak pemeliharaan dengan diameter 18 m agar mudah dalam pengumpulan telurnya. Namun pada saat pemijahan jantan dan betina sering menabrak dinding dan menyebabkan kematian tinggi meski dinding bak sudah diberi warna hitam dan garis-garis agar terlihat seperti jaring.

Kemudian pada tahun 2014, BBPPBL Gondol memindahkan sebagian ikan tuna dari bak dan dari hasil tangkapan ke KJA bundar Aquatec dengan diameter 50 meter. KJA bundar ini dinilai paling cocok untuk jenis ikan yang memiliki karakter perenang cepat.

“Hasilnya ternyata sangat bagus dimana tingkat kelangsungan hidup (survival rate) jantan dan betina yang dipelihara meningkat drastis dengan tidak adanya sudut. Kita bisa panen telurnya menggunakan katamaran dan baru ditetaskan di darat kemudian,” ujar Wawan Andriyanto, M.Sc, Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Penelitian dan Pengembangan BBPPBL Gondol melengkapi.

“KJA bundar berdiameter besar dapat digunakan untuk pembesaran dan pemeliharaan induk ikan tuna yang merupakan perenang cepat. Hal ini dikarenakan sesuai dengan habitat hidupnya yang membutuhkan arus dan hidup pada laut dalam, pertumbuhannya pun lebih cepat karena kemauan makannya lebih banyak dibanding tuna yang dipelihara di bak. Selain itu tuna dapat memijah secara alami dan menghasilkan telur,” imbuh Wawan.

Kepala BBPPBL Gondol, Ir. Bambang Susanto, M.Si menyampaikan bahwa keuntungan menggunakan KJA bundar dari Aquatec ini pemasangannya mudah dan dapat dibongkar atau dipindah sesuai kebutuhan. Menurut Bambang, KJA ini sudah berbahan HDPE dan tidak menggunakan styrofoam sehingga ramah lingkungan, memiliki usia pakai lama, dalam hal perawatan sangat mudah serta efisien.

“Selain itu masa pakai KJA bundar juga lebih lama, awet, dan perawatannya lebih mudah. KJA dari bahan HDPE ini tidak mudah ditempeli hewan-hewan laut seperti teritip. KJA Bundar cocok untuk ikan perenang cepat seperti tuna, bandeng, dan kakap. Sementara KJA persegi cocok untuk budidaya kerapu dan lobster,” jelas Bambang mendetail.

Ia menambahkan, biaya pemeliharaan di KJA Bundar dinilai lebih rendah karena tidak perlu listrik. Tidak perlu pompa untuk arus air tapi sesuai dengan kondisi arus di alam. Kalo menggunakan bak perlu listrik 24 jam, belum perawatan untuk pompanya.

“Kekurangannya cuma satu yaitu biaya investasinya lebih mahal dibanding keramba dari kayu atau bambu. Namun jika dibandingkan dengan lamanya masa pakai tentu sangat sebanding dengan nilai investasi yang digelontorkan,” kata Bambang.

“Rencana kita akan menambah unit, di Gondol ini cukup karena stok tuna yang kita miliki belum banyak, tapi untuk KJA di Pegametan karena merupakan sentral budidaya ada kemungkinan menambah karena di sana ada perusahaan swasta baru dan pembudidaya baru yang mencari model-model KJA untuk budidayanya,” tambah Wawan.

Fasilitas di BBPPBL Gondol

BBPPBL Gondol menggunakan dua model budidaya yaitu KJA persegi dan KJA bundar. KJA persegi berada di Pegametan: KJA kayu ada 12 unit dan 52 lubang diisi oleh ikan kerapu sunu, lobster. KJA persegi Aquatec ada 3 unit dan 19 lubang, masing-masing sejak tahun 2010, 2012 dan 2014 serta diisi oleh kerapu cantang. Selain itu ada juga KJA oktagonal Aquatec yang cocok untuk pemeliharaan ikan bandeng karena sifatnya yang cenderung bergerak secara berkoloni.

KJA bundar terletak di teluk yakni 500 meter dari pantai BBPPBL Gondol, dan jarak antara KJA bundar satu dengan yang lain 100 meter, dimana peletakan KJA bundar di kedalaman laut 20-30 meter dengan tekstur permukaan laut berpasir tidak ada karang dan KJA relatif terlindung dari terpaan ombak.

Sejak 2,5 tahun lalu atau sejak 2014 KJA bundar telah diisi ikan tuna untuk induk dan penggemukan, dan saat ini induk berukuran 50-70 kg. KJA bundar Aquatec diameter 50 m ada dua unit, dimana 1 kja bundar digunakan untuk pemeliharaan induk dengan 80 ekor induk dan 1 kja bundar untuk penggemukan. KJA bundar Aquatec berdiameter 32 m diisi 1 ekor tuna yang digunakan untuk penelitian penggemukan. (ADV)

Tiga Jurus Menang Bersaing (Bambang Suharno)

Bambang suharno
Bambang suharno

Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi dahsyat tahun 1998, saya sempat bertemu dengan pengusaha nyentrik Bob Sadino. Saya bertanya, bagaimana Om Bob menghadapi krisis. Ia, dengan gaya khasnya yang meyakinkan menjawab,” saya tidak menghadapi krisis, tapi menerima krisis”.

“Dari cara berpikir saja, saya beda dengan mereka kan?” ujarnya. Mereka yang dimaksud adalah para pengusaha dan juga pemerintah .

Dengan menerima krisis, artinya kita tidak mengeluh mengalami goncangan ekonomi. Bukan hanya goncangan ekonomi dan politik 1998, pelaku bisnis sukses pada umumnya memahami bahwa persaingan itu secara alami akan semakin ketat. Coba kita lihat, minimarket 10 tahun lalu hampir selalu dipenuhi pelanggan dari pagi hingga sore. Kini, ketika di semua sudut kota ada minimarket, pembeli cenderung sepi. Sebagian di antara mereka harus tutup karena tak layak untuk diteruskan. Jika anda bisnis computer, telepon seluler maupun pulsa, juga mengalami persaingan yang makin ketat dan makin tipis margin yang anda terima. Untunglah, jumlah penduduk terus bertambah, pendapatan masyarakat juga meningkat sehingga penjualan secara total berkembang pesat.

Kini ketika Indonesia akan memasuki tahap globalisasi melalui terbentuknya MEA, saya teringat dengan adanya MEA persaingan makin ketat, dan semua pelaku bisnis harus menerima persaingan, bukan melawan persaingan.

Bagaimana caranya? Beberapa tahun lalu saya bertanya kepada seorang guru bisnis; apa kiat sukses memenangkan persaingan. Berikut ini jawabannya .

Pertama, jadilah pelopor. Dalam sejarah bisnis, air minum dalam kemasan merk Aqua adalah pelopor. Demikian pula teh botol Sosro sebagai pelopor produsen teh dalam kemasan botol. Kedua merk ini menjadi pemenang dalam persaingan di kelasnya, karena menjadi pelopor.

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis dapat menjadi pelopor. Jadi apa yang harus dilakukan ? inilah kunci rahasia kedua, yaitu jadilah yang terbaik. Jika anda bukan pelopor, anda tetap bisa menjadi pemenang persaingan jika anda menyajikan yang terbaik. Jejaring Sosial facebook bukanlah yang pertama, namun ia menjadi pemenang persaingan, mengalahkan para pelopor, karena facebook menyajikan yang terbaik untuk penggunanya.

Hal yang sama berlaku untuk mesin pencari Google yang kini menguasai 80% market search engine dunia. Google bukanlah yang pertama alias pelopor. Ia adalah yang terbaik di antara search engine yang ada di dunia .

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis bisa menjadi yang terbaik. Jika demikian, ada jurus ketiga sebagai jurus pamungkas, yaitu jadilah yang berbeda. Bukankah banyak pebisnis yang tidak menjadi yang terbaik bisa eksis, bisa berkembang karena menyajikan sebuah perbedaan? Di sekitar kita banyak warung makan yang tidak menyajikan makanan paling enak namun bisa berkembang karena memberikan perbedaan. Perbedaan pun kadang bukan konten melainkan konteksnya saja. Ada soto gebrak, misalnya, yang terkenal “gebrakannya” ketika melayani pembeli. Ini tidak ada kaitannya dengan rasa soto, namun hanya menyajikan keunikannya saja, dan ternyata mampu menarik pembeli.

Alkisah, di suatu perusahan bir, suatu hari direksi mengundang konsultan marketing ke pabriknya untuk membantu membuat promosi yang lebih menarik dan berdampak. Ahli marketing itu langsung mengamati proses produksi bir. Singkat cerita, setelah mengamati proses produksi, ia langsung membuat kalimat promosi seperti ini,” Bir ini dibuat melalui 10 tahapan mulai dari penyaringan, penyimpanan……dst”.

Kalimat promosi ini diprotes oleh bagian produksi. Mereka berkilah,” semua bir juga dibuat dengan tahapan itu, buat apa dibuat kalimat promosi seperti itu?”

Inilah jawaban ahli marketing,” Ya, boleh saja pabrik lain melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak mengatakannya kepada konsumen. Kitalah yang mengatakannya, sehingga konsumen merasa, inilah bir yang baik buat mereka”.

Begitulah, perusahaan Bir tersebut akhirnya menjadi pemenang dalam persaingan, hanya karena menyampaikan sesuatu yang berbeda kepada konsumen. Meski yang lain juga melakukan hal yang sama. Itulah perbedaan dalam segi konteks, bukan konten.

Bagaimana dengan anda?***