Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang Vaname

Oleh:

Deni Aulia, S.Tr.Pi, S.P

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Taruna Mandiri 47

Ketua Kelompik Usaha Bersama (KUB) Wiratama  47

 

Bahan aditif (additive) merupakan salah satu bahan terpenting untuk mendukung kesuksesan pembudidayaan udang vaname. Bahan aditif adalah bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan tertentu. Dalam pembudidayaan udang vaname, bahan aditif biasa digunakan pada proses persiapan air media budidaya sebelum penebaran benur udang, pengelolaan air media budidaya, serta pengelolaan pakan udang vaname. Pemberian bahan aditif ini ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan udang dan memperbaiki kondisi kualitas air yang digunakan sebagai media budidaya udang.

Persiapan Air Media Budidaya

Persiapan air media dilakukan selama 1 – 2 minggu yang dimulai dengan pengisian air ke dalam kolam. Persiapan air media budidaya bertujuan agar pada saat benur ditebar, benur dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Hal yang pertama harus dipersiapkan tentunya adalah kolam budidaya. Kolam budidaya biasanya dibuat dengan kedalaman lebih dari 150 cm dan terdapat saluran masuk air (inlet).

Tahap awal dalam kegiatan persiapan air media budidaya adalah sterilisasi media budidaya. Air yang digunakan untuk budidaya udang vaname merupakan air laut yang disterilisasi. Air harus steril serta terdapat plankton sebagai sumber pakan alami bagi udang sebelum dilakukan penebaran benur. Air yang masuk ke dalam kolam harus di saring menggunakan saringan yang dipasang pada inlet hingga ketinggian permukaan 120 – 150 cm bergantung pada sistem budidaya udang yang dilakukan.

Dalam proses sterilisasi, digunakan kaporit 60% dengan dosis 20 – 30 mg/liter. Dosis ini dapat disesuaikan dengan kondisi air laut yang tersedia. Bahkan, pada kondisi yang sangat baik, sterilisasi air dapat dilakukan hanya dengan mengunakan dosis 5 mg/liter.

Penggunaan dosis ini dapat dilakukan apabila budidaya udang dilakukan pada perairan yang sangat bersih (perairan berkarang), jauh dari pencemaran limbah industri serta sumber pencemar dari limbah rumah tangga (sungai), sehingga kemungkinan keberadaan inang pembawa penyakit serta partikel tersuspensi pada air sangat kecil.

Persiapan Pakan Udang Vaname

Pembentukan pakan alami dilakukan setelah air media selesai disterilisasi. Menumbuhkan pakan alami pada air media mutlak harus dilakukan, selain sebagai sumber pakan, juga digunakan sebagai green shalter untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam kolam, sehingga fluktuasi suhu yang terlalu tinggi dapat dihindari.

Tinginya fluktuasi suhu akan mengakibatkan udang yang baru ditebar mengalami stres bahkan bisa mengakibatkan kematian. Pembentukan pakan alami dilakukan dengan penebaran bahan aditif. Bahan aditif dapat diaplikasikan pada siang hari pukul 09.00 – 11.00 saat cuaca cerah. Pengaplikasian bahan aditif dilakukan dengan melarutkan bahan aditif dengan air dan ditebar merata di seluruh area kolam. Bahan aditif yang digunakan berupa Fitoplankton stabiler, Suplemen Mineral, Water Colour, dan Probiotik.

Fitoplankton stabiler merupakan bahan aditif yang mengandung nutrisi, berfungsi untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan menstabilkan fitoplankton yang menguntungkan di dalam kolam, mengendalikan warna air, membantu menstabilkan temperatur dan pH dalam ekosistem tambak. Dalam persiapan media, fitoplankton stabiler diaplikasikan sebanyak 3 kali penebaran dengan dosis 1 mg/liter.

Fitoplankton stabiler difungsikan untuk menstabilkan kondisi plankton dalam air serta mampu mendukung pertumbuhan plankton dengan baik. Ketersediaan plankton dalam air ini dapat digunakan sebagai pakan alami maupun sebagai green shealter bagi udang yang dibudidayakan. Aplikasi probiotik sangat baik untuk dilakukan karena probiotik ini akan menguraikan bahan organik penyebab tingginya gas beracun dalam air yang berbahaya bagi udang.

Nitrifikator merupakan pemicu Nitrifikasi di dalam kolam udang. Kegunaan Nitrifikator adalah untuk menyediakan ruangan dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri Nitrifikasi terutama Nitrosomonas sp dan Nitrobacter spp, meningkatkan efisiensi penggunaan limbah nitrogen seperti Amonia dan Nitrit di dalam kolam, meningkatkan produktifitas dengan menambah daya dukung kolam, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan kesetimbangan dalam ekosistem kolam. Komposisi Nitrifikator yang digunakan dapat dilihat pada Tabel.

Tabel. Komposisi Nitrifikator

Bahan Aktif Konsentrasi
Magnesium Klorida (MgCl2 : 46%) 60 %
Kalsium Klorida (CaCl2 : 74%) 8 %
Sodium Bicarbonat (NaHCO3 :99,9%) 10 %
Mangan Klorida (MnCl2 : 98%) 5 %
Zink Sulfat (ZnSO4 : 35%) 1,2 %
Kalsium Silikat (Ca2SiO4 : 99%) Sampai 100 %

 

Suplemen Mineral berfungsi untuk meningkatkan alkalinitas, meningkatkan ketersediaan mineral–mineral penting dalam kolam, meningkatkan kesetimbangan asam-basa dan osmoregulasi bagi udang, serta mendukung aktivitas enzim dan hormon pada udang. Dalam persiapan media suplemen mineral diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan dosis 1 – 2 mg/liter.

Penggunaan suplemen mineral akan menyediakan mineral – mineral yang dibutuhkan oleh udang pada saat molthing yaitu untuk memperkeras carapas, selain itu suplemen mineral ini berfungsi untuk menstabilkan bahkan meningkatkan alkalinitas sehingga mampu menyangka perubahan kualitas air pada media budidaya khususnya pH air.

Penggunaan nitrifikator bertujuan untuk mendorong terjadinya proses nitrifikasi oleh bakteri pengurai sehingga limbah organik hasil metabolisme udang maupun sumber limbah lainnya dapat diuraikan menjadi senyawa yang tidak beracun.

Pengaplikasian suplemen mineral dilakukan sejak udang umur DOC 5 hari, probiotik sejak udang umur DOC 7 hari, nitrifikator sejak udang umur DOC 10 hari sedangkan fitoplankton stabiler ditebar sesuai dengan kondisi air dalam kolam.

Probiotik merupakan bahan aditif yang berfungsi untuk meningkatkan kondisi lingkungan. Probiotik ini mengandung minimal 5 x 109 CFU/g bakteri aerobik dan bakteri anaerobik fakultatif. Probiotik diaplikasikan hanya 1 kali dalam persiapan air dengan dosis 0.1 mg/liter.

Water Colour merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan warna pada air. Pemberian warna pada air ini dilakukan untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk pada kolam dan sebagai upaya perlindungan benur pada saat baru ditebar. Water colour ini dapat dijadikan sebagai alternatif pelindung benur apabila fitoplankton tidak tumbuh atau kepadatan plankton rendah. Dalam persiapan media, water colour diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan dosis 0.02 mg/liter.

Air media siap untuk dilakukakan penebaran benur apabila telah ditumbuhi dengan fitoplankton. Secara visual air media akan tampak berwarna kehijauan (green algae) dengan kecerahan 30 – 40 cm. Namun apabila sampai pada 1 – 2 minggu telah dilakukan persiapan air dan kecerahan tidak mencapai 30 – 40 cm, maka dilakukan penebaran water colour susulan 1 hari sebelum penebaran benur.

\Penebaran benur yang tinggi pada pembesaran udang Vaname sistem intensif sangat memungkinkan menurunnya kualitas air dengan cepat karena limbah budidaya yang dihasilkan sangat banyak, sehingga perlu dilakukan aplikasi bahan aditif selama proses budidaya. Aplikasi bahan aditif diharapkan akan mampu memperbaiki kondisi air sesuai dengan yang diharapkan udang. Bahan aditif yang diaplikasikan untuk memperbaiki kualitas air akan bereaksi baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Penggunaan Molase

Perbaikan kualitas air dengan pengaplikasian bahan aditif juga dilakukan dengan pengaplikasian Molase. Molase merupakan salah satu sumber C-organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan C/N ratio sebagai sumber energi bagi bakteri menguntungkan (probiotik) di dalam air kolam. Molase ini tidak langsung berpengaruh pada air, namun dimanfaatkan oleh bakteri pengurai sebagai suber nutrien dan energi untuk melakukan proses dekomposisi.

Aplikasi molase ini dilakukan dengan tetesan, hal ini dilakukan karena dengan tetesan maka bakteri yang mengkonsumsi molase akan berkembang biak secara perlahan – lahan sehingga penurunan oksigen terlarut tidak terjadi secara drastis, karena pengaplikasian molase ini akan mengekibatkan bakteri pengurai berkembang dengan pesat, bakteri ini akan mendekomposisi bahan organik sehingga membutuhkan oksigen dalam jumlah tinggi.

Jumlah molase yang ditebar setiap hari berubah sesuai dengan jumlah pakan perhari yang diberikan pada udang. Penghitungan jumlah molase dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Menentukan kandungan protein pakan misalnya 38 % sehingga N pakan yaitu 6,08 (38% x 16, yang mana 16 adalah ketetapan.
  2. Menentukan kandungan C-organik dalam pakan misalnya 50%, sehingga perbandingan C/N (50/6,08) yaitu 8,22/1.
  3. Menentukan C/N ratio yang dikendaki, misalnya 10/1, maka seharusnya C-organik 10 x 6,08 yaitu 60,8%, untuk itu C-organik harus ditambahkan.
  4. Jumlah C-organik yang harus ditambahkan yaitu C-organik yang dikehendaki – C-organik dalam pakan (60,8% – 50%) yaitu 10,8%.
  5. Jika kandungan C-organik molase adalah 45% maka jumlah molase untuk menciptakan C/N ratio 10/1 yaitu 0,24 (10,8%/45%) dari jumlah pakan per hari.
  6. Jadi, jika pakan per hari yang diberikan 150 kg maka jumlah molase yang diaplikasikan yaitu 36 kg (150 x 0,24).

Pengaplikasian molase ini juga akan mengakibatkan menurunnya pH air, sehingga perlu dilakukan pengapuran untuk meningkatkan pH air. Pengapuran dilakukan apabila pH air media rendah (asam) yaitu < 7,0. Pengapuran dilakukan dengan menggunakan Dolomite dengan dosis 5 – 15 mg/liter.

Dolomite digunakan karena kapur jenis ini dapat langsung bereaksi dalam air serta tidak meninggalkan limbah. Pengapuran dilakukan pada pagi hari atau malam hari. Kapur dilarutkan kedalam air menggunakan ember, setelah itu kapur ditebar merata diseluruh areal kolam. Komposisi kimia kapur yang digunakan yaitu MgO ≥ 20%, CaO ± 30%, serta lolos Mesh 100 sebanyak 95%. Cara pengaplikasian bahan aditif dalam pengelolaan kualitas air dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Menyiapkan ember dan timbangan duduk
  2. Menimbang bahan aditif sesuai dengan dosis.
  3. Memasukkan bahan aditif pada ember yang telah disiapkan
  4. Melarutkan bahan aditif dengan air kolam sampai homogeny
  5. Menebar larutan bahan aditif secara merata diseluruh areal kolam, penebaran molase dimasukkan ke dalam drigen yang telah disiapkan di kolam. Molase diteteskan dengan kran yang terdapat pada drigen.

Pengelolaan Pakan Udang Vaname

Pengelolaan pakan dalam budidaya udang vaname harus dilakukan dengan baik karena pakan merupakan unsur terpenting yang menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Secara biologi, pakan yang dikonsumsi udang langsung diproses dalam tubuhnya. Unsur – unsur nutrisi atau gizinya akan diserap dan dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan daging, sehingga pertumbuhannya lebih cepat.

Kecepatan laju pertumbuhan udang sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan serta kondisi lingkungan hidupnya. Apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan yang mendukung, maka dapat dipastikan laju pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan.

Pakan yang akan diberikan kepada udang dapat dicampur dengan bahan aditif berupa vitamin C dan dicampur dengan perekat komersial atau putih telur. Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah rusak bila terkena panas dan mudah larut dalam air. Selain meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, mencegah kelainan bentuk tubuh, mencegah stress lingkungan, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan laju pertumbuhan pada udang. Takaran vitamin C adalah 1 gram untuk 1 kg pakan dan perekat 4 gram setiap 1 kg pakan. Kedua bahan tersebut dilarutkan dalam air 100 ml kemudian dicampur dengan pakan dan diaduk hingga merata.

Aplikasi feed additive berupa vitamin C atau vitamin lainnya dimulai sejak bulan pertama dan diberikan secara periodik, hingga menjelang pemanenan hasil. Dosis yang dapat digunakan berkisar antara 3-4 gram per kg pakan dan diberikan setiap 3-4 hari sekali, serta frekuensi pemberian 1-2 kali per hari. Jenis feed additive yang lain (multi vitamin) yang berupa cairan atau emulsi dapat diaplikasikan langsung dicampurkan dengan pakan buatan dengan dosis sesuai aturan (Noerhidajat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.